Tanda-tanda Timbul Difteri dan Bahaya untuk Pengidapnya
Dinkes Provinsi Sumsel berharap dengan telah dilakukan upaya pencegahan sejak 2017 ditetapkannya KLB (Kejadian Luar Biasa) secara nasional
Penulis: Abdul Hafiz | Editor: Refly Permana
Laporan wartawan Sripoku.com, Abdul Hafiz
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Dinkes Provinsi Sumsel berharap dengan telah dilakukan upaya pencegahan sejak 2017 ditetapkannya KLB (Kejadian Luar Biasa) secara nasional, diharapkan di Sumsel tidak terjadi wabah difteri.
Seperti beberapa waktu yang lalu di Kota Malang dihebohkan ada ratusan siswa, guru, karyawan terindikasi pembawa difteri.
"Mudah-mudahan di kita tidak terjadi hal demikian. Ini nanti Pak Fery yang akan menjelaskannya," ungkap Kadinkes Sumsel Dra Lesty Nurainy Apt MKes didampingi Fery Yanuar Kabid SKM MKes P2P (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit) Dinkes Prov Sumsel dan Kasi P2PM (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular) Dinkes Sumsel H Muyono MKes, Selasa (29/10/2019).
Menurut Fery Yanuar, sampai saat ini sepanjang tahun 2019 di Sumsel tercatat ada 8 kasus klinis difteri.
"Palembang masuk dalam kabupaten/kota yang ditetapkan melaksanakan ORI (Outbreak Respons Immunization) oleh Kemenkes sebanyak 3 putaran.
Februari 2019 adalah pelaksanaan ORI putatan ketiga. ORI dilaksanakan sebagai upaya untuk pencegahan difteri," jelas Fery Yanuar.
Ia memaparkan pada tahun 2017 terjadi KLB difteri hampir di seluruh provinsi di Indonesia.
Upaya yang dilakukan terutama adalah meningkatkan cakupan imunisasi difteri, kemudian upaya untuk meningkatkan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat).
"Untuk kasus kita laksanakan penyelidikan epidemiologi, pemberian profilaksis untuk kontak erat dan ORI (selektif) jika cakupan imunisasi rendah," terangnya.
Dijelaskannya, Difteri adalah infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium ditandai adanya peradangan pada tempat infeksi terutama pada selaput bagian dalam saluran pernapasan bagian atas, hidung dan juga kulit.
"Penyakit Difteri sangat mudah menular dan berbahaya karena dapat menyebabkan kematian pada 5-10 persen penderita," kata Fery.
Menurutnya, difteri ini menular dari manusia ke manusia bila terjadi kontak dengan penderita dan carrier (orang yang sehat terinfeksi difteri.
Namun tetap kuman bisa menular melalui percikan ludah, batuk atau bersin, muntah. Visa juga melalui kontak dengan permukaan kulit atau luka terbuka.
Atau kontak dengan benda-benda yang terkena kuman difteri melalui alat makanan dan minuman.
"Semua kelompok usia dapat tertular penyakit ini, terutama anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap," kata Fery.
Untuk gejalanya demam atau tidak demam, munculnya pseudomembran putih keabuan, sulit lepas dan mudah berdarah jika dilepas, sakit waktu menelan, leher membengkak, sesak napas disertai bunyi.