Quo Vadis LRT di Palembang?

L­ight Rail Transit (LRT) yang diresmikan tahun 2018 lalu telah menjadi salah satu trade mark baru di Kota Palembang setelah Jembatan Ampera.

Quo Vadis LRT di Palembang?
ist
Heni Fitriani

Quo Vadis LRT di Palembang?

Oleh : Heni Fitriani

Dosen Prodi Teknik Sipil FT Unsri & Postdoctoral Fellow Huazhong University of Science and Technology (HUST), Wuhan, China.

L­ight Rail Transit (LRT) yang diresmikan tahun 2018 lalu telah menjadi salah satu trade mark baru di Kota Palembang setelah Jembatan Ampera.

Infrastruktur yang menjadi ke­ba­ng­­­gaan masyarakat Sumsel ini memiliki panjang 23,40 km dan melintasi Sungai Musi de­­ng­an bentang sungai 435 meter (Detik Finance, 3 Sept 2019).

Selain itu infrastruktur ini me­­miliki 13 stasiun, 9 gardu listrik dan 1 depo dengan 2 rute bolak balik dari Stasiun OPI ke Stasiun Bandara dan sebaliknya.

Salah satu alasan dasar dibangunnya LRT ini adalah un­­tuk melayani kebutuhan perhelatan olahraga Asian Games ke-18 yang diadakan bulan A­­gustus 2018 lalu dan yang terpenting adalah untuk mendukung penyediaan angkutan um­um massal di Kota Palembang.

LRT semula diharapkan menjadi salah satu alternatif mo­da transportasi yang bisa meng­a­tas­i kemacetan di kota Palembang, namun tidak de­mi­ki­an ke­nyataannya.

Berbagai permasalahan timbul mulai dari lamanya waktu tempuh, lamanya he­adway (waktu tunggu ke­­reta datang) dan ketiadaan fasilitas penghubung me­nuju ke dan dari stasiun LRT.

Lam­batnya waktu tempuh LRT ini menjadi salah satu per­so­alan dimana Departemen Perhu­bung­an harus terus berupaya dalam meningkatkan kualitas pelayanan.

Halaman
1234
Editor: Salman Rasyidin
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved