Ramadhan

Pasca Ramadhan 2019

Alhamdulillah, setelah menjalani pendidikan dan pelatihan selama Ramadhan maka target puasa men­jadikan manusia bertaqwa tercapai.

Editor: Salman Rasyidin
ist
Drs. H. Syarifuddin Ya'cub MHI 

Pasca Ramadhan 2019

Oleh : Drs. H. Syarifuddin Ya'cub MHI

Dosen Universitas Islam Negeri (IAIN) Raden Fatah Palembang

Alhamdulillah, setelah menjalani pendidikan dan pelatihan selama sebulan puasa Ramadhan di si­ang hari, dan pada malam hari melaksanakan qiamu Ramadhan, maka target puasa untuk men­jadikan manusia yang bertaqwa tercapai.

Taqwa menurut rumusan Imam Ghazali adalah melaksanakan seluruh apa yang diperintahkan Allah SWT. Dan menghindari apa yang dilarang-Nya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan.

Apa-apa yang diperintahkan kepada seorang muslim adalah; Mengucapkan dua kalimah sya­ha­dat, melaksanakan shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat dan me­nu­nai­kan ibadah haji bagi yang kuasa. Mengucapkan dua kalimah syahadat sebagai bukti dari o­rang yang beriman, karena salah satu bukti iman itu adalah iqraru billisaan.

Ketika Rasulullah SAW ditanya Apa itu iman yaa Rasul? Beliau jawab: "TASDIIQUN BIL QALBI, WA IQRA­ARUN BILLISAAN, WA ‘AMALUN BIL ARKAN" yang artinya "Iman itu adalah di­benar­kan dengan hati, diucapkan dengan lidah dan diamalkan dengan perbuatan".

Jika seseorang hanya mengucapkan dengan lisan saja, tapi di dalam hatinya tidak meyakini ke­be­naran adanya Allah, Malaikat, Kitab-Nya, Utusan-Nya, hari akhirat, dan qadar baik dan b­u­ruk dari Allah. Maka dia tetap termasuk dalam golongan orang kafir.

Sebaliknya apabila dia mem­benarkan dalam hatinya, tetapi tidak mengucapkan dengan lidah, serta tidak meng­amal­kannya dengan perbuatan, maka dia termasuk orang yang fasik.

Apabila seseorang meng­u­capkannya dengan lisan, mengamalkannya dengan perbuatan, tetapi di dalam hatinya dia tidak ya­kin akan kebenarannya, maka dia termasuk orang munafik.

Mukmin yang sempurna adalah yang meyakini kebenaran adanya Allah SWT, malaikat-Nya, ki­tab-Nya, Rasul-Nya, hari akhirat dan qadar baik dan buruk dari Allah SWT.

Di iqrarkanya dua kalimah syahadat dengan lisannya dan dikerjakannya apa-apa yang dia gemar melaku-

kan apa-apa yang menyenangkan Allah SWT seperti yang kemukakan oleh Rasulullah SAW. da­­lam hadits beliau yang artinya: "Dari Abu Said Al Khudry ra. berkata, bersabda Rasulullah SAW; Allah SWT tertawa (tersenyum) terhadap tiga macam orang, yaitu; 1. Orang yang bangun shalat malam; 2. Kaum yang berbaris rapat dalam shalat; 3. Kaum yang berbaris rapat dalam perang fi sabilillah. (HR. Ahmad, Ibnu Majah)

Allah SWT sangat menyukai hambanya dalam tiga hal; Pertama orang yang bangun (berdiri) me­laksanakan shalat malam, karena shalat malam itu mengandung hikmah yang sangat banyak, terutama untuk meningkatkan status pada pandangan Allah SWT.

Jika membaca 100 ayat, ma­ka dia tidak dikelompokkan dalam kelompok hamba Allah yang lalai (ghofilin), apabila mem­baca 200 ayat di dalam shalat malam (Tahajjud), maka dia dikelompokkan Allah dalam ke­lompok hamba Allah yang istiqomah.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya: "Barang siapa shalat pada malam hari dengan seratus ayat dari Al Quran, dia tidak dicatat sebagai orang-orang yang lalai. Dan barang si­apa yang melakukan shalat pada malam hari dengan duaratus ayat dari Al Quran, dia akan di­catat sebagai orang-orang yang taat dan ikhlas hati (istiqomah)."(H.R.al-Hakim)

Bahkan menurut Rasulullah SAW dari Umar bin Khattab ra beliau bersabd yang atinya: Dari Umar bin Khattab ra. Dari Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang shalat Malam dan membaguskan shalatnya, maka Allah SWT memuliakannya dengan Sembilan macam, lima di du­nia dan empat di akhirat; Adapun yang lima di dunia; Allah SWT menjaganya dari sesuatu yang membahayakannya, tampak pada wajahnya cahaya keta'atan, dia dicintai oleh hamba Allah swt. yang shaleh, Allah anugerahkan pada kata-katanya mengandung hikmah, Allah anu­gerahkan kepadanya pemahaman agama dengan bijaksana. Dan empat di akhirat; dibangkitkan dari kuburnya berwajah putih bersih, dimudahkan hisab, melintasi Sirath cepat seperti kilat, dan menerima kitabnya dengan tangan kanan pada hari kiamat". (HR.An-Naashihin.)

Ke­dua, Kaum yang berbaris rapat dalam shalat berjamaah. Shalat berjam'ah diapresiasi Allah SWT setara dengan Jihad fi sabilillah.

Bahkan jika pada masa perang jihad, mereka yang tidak turut berperang tanpa uzur syar'i, maka dia menjadi golongan orang-orang munafiq, begitu juga siapa yang berat tanpa uzur syari'I mengikuti shalat Isya' dan Subuh berjama'ah, maka dia ter­masuk kelompok orang-orang munafiq, begitu menurut Rasulullah SAW.

Begitu tinggi keutamaan shalat berjamaah di masjid, disamping kelebihan nilainya 27 derajat dibandingkan dengan shalat sendirian, juga setiap langkah menuju masjid dihitung kebaikan,

meng­­hapuskan kejelekan dan terhindar dari kemunafikan.

Orang yang sering berjalan ke masjid pada saat gelap, nanti pada hari kiamat dia akan memperoleh cahaya yang terang benderang.

Memang shalat berjamah yang berat dirasakan oleh orang munafik adalah shalat Isya dan Su­buh.

Padahal keutamaanya seperti dikemukakan dalam hadits yang diriwayatkan oleh semua im­am hadits kecuali Bukhari dan at-Tirmidzi yang artinya "Siapa yang melaksanakan Shalat Isya dengan berjamaah, maka dia sama saja telah mendirikan (shalat) setengah malam. Sedangkan siapa yang yang melaksanakan Shalat Subuh dengan berjamaah juga, maka (dengan keduanya) sama saja dia telah mendirikan (shalat) seluruh malam." (HR. Semua imam hadits, kecu­ali Bukhari dan at-Tirmidzi)

Shalat berjamaah di masjid ini diutamakan bagi laki-laki, adapun kaum wanita menurut mazhab Syafi'i di dalam kitab Mughnil Muhtaaj, Vol.1, hlm.220; dibolehkan atas izin suami dan tidak me­makai parfum, meskipun rumah tetap lebih baik bagi mereka.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi SAW yang artinya: "Janganlah kalian melarang kaum wanita untuk keluar ke masjid, meskipun rumah mereka lebih baik untuk mereka." Dalam teks lain berbunyi: "Jika para istri ka­lian meminta izin untuk keluar ke masjid di malam hari, maka berilah mereka izin." (HR.Semua imam hadits kecuali Ibnu Majah).

Ilustrasi berdoa
Ilustrasi berdoa (Videezy)

Ada pula hadits dari Abu Hurairah ra. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: "Janganlah kalian melarang para wanita Allah ke masjid Allah, dan hendaknya mereka keluar tanpa me­makai parfum." (HR.Ahmad dan Abu Dawud)

Begitu tinggi nilai shalat berjamaah, apabila secara berkesinambungan, rutine maka Allah membebaskan mereka dari azab Neraka dan bebas dari sifat munafik.

Keutamaan shalat ber­jama'ah di masjid juga untuk memupuk sikap kebersamaan, saling menumbuhkan rasa kasih sa­yang antar sesama komunitas jama'ah dan untuk menghindari kemurkaan Allah SWT se­bagaimana Hadits qudsi yang sampaikan Rsulullah SAW yang artinya: "Sesungguhnya Allah SWT berfirman, Sesungguhnya Aku benar-benar akan menimpakan azabKu kepada penduduk bumi, tetapi apabila Aku memandang kepada orang-orang yang meramaikan rumaKu (masjid) dan orang-orang yang saling menyayangi demi karena Aku, serta orang-orang yang mohon ampun di waktu sahur (shalat Tahajjud), maka Aku kesampingkan azabKu dari mereka". (HR.Al-Bayhaqy)

Hamba Allah yang konsisten dalam melaksanakan ibadah shalat berjamahnya di awal waktu dinamakan Al-Mudrik. Al-Mudrik tidak ada permasalahan karena mengikuti imam sejak awal Takbiratul ihram.

Untuk mendapatkan pahala yang lebih sempurna di dalam shalat berjama'ah adalah mengikuti imam sejak dari takbiratul ihram, sebagaimana Rasulullah SAW menyatakan yang artinya "Siapa saja yang melakukan shalat selama empat puluh hari secara berjama'ah dan mendapatkan takbiratul ihram, maka akan dicatat untuknya dua jaminan keselamatan; ke­selamatan dari api nerakan dan jaminan dari kemunafikan."(HR.at-Tirmidzi)

Sikap istiqamah adalah sikap yang konsisten dalam beribadah, baik ibadah mahdloh maupun ibadah umumiyah.

Rahasia kebahagiaan hidup seseorang itu pada hakikatnya bukanlah terletak pada nilai wujud materi yang berlimpah, tetapi sesungguhnya pada nilai-nilai rohaninya yang ter­sembunyi dan memantul keluar dalam ibadah dan akhlaknya yang luhur.

Ibadah adalah per­sembahan pribadi kepada Al-Khalik yang menciptakan dirinya dan alam semesta, Tuhanlah tempat dia mengabdikan hidupnya selama roh masih bertaut dalam

tubuhnya. Ibadah itu adalah merupakan gizi rohani yang bermutu tinggi, yang jika tanpa ibadah itu, rohani manusia akan menjerit kelaparan karena kekurangan sesuatu yang sangat vital dan di­perlukannya dalam hidup ini.

Demikianlah apabila seseorang yang selalu setia dan istiqomah dalam ibadahnya, dia akan memiliki rohani yang sehat dan segar-bugar dan selalu hidup dalam si­nar kebahagiaan.

Sedang akhlak adalah merupakan pancaran dalam bentuk tingkah laku ma­nusia yang memancar keluar dari dirinya menurut nilai dan kadar ibadah yang dilakukannya itu pula.

Demikianlah ibadah dan akhlak itu mempunyai hubungan korelasi timbal-balik di mana yang satu saling memberi warna kepada yang lain.

Begitulah ibadah manusia itu akan memberi warna kepada akhlaknya, sedang sebaliknya, akhlaknya akan memberi warna pula

kepada ibadahnya. Jangan biarkan orang lain yang tidak memahami Islam, secara sporadis mengatur ummat Islam tanpa memperhatikan kepentingan dan asfirasi ummat.

Untuk itu diper­lu­kan perjuangan ummat Islam secara bersungguh-sungguh turut berkifrah di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia ini secara konstitusional baik pada lembaga Legislatif, eksekutif dan Yudikatif.

Semoga Allah SWT mencurahkan rachmatNya kepada ummat Islam dan mem­berikan kekuatan lahir dan bathin, barokallahu lanaa. Aamiin.

Sumber:
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved