Pemilu

Evaluasi Pemilu 2019

Beberapa pekan ini kita telah melewati pemilu serentak 2019. Meskipun saat ini proses penentuan Pilpres berada di tangan MK.

Editor: Salman Rasyidin
ist
Ahmad Usmarwi Kaffah., SH., LL.M (GL)., LL.M (EL) 

Evaluasi Pemilu 2019

Oleh: Ahmad Usmarwi Kaffah., SH., LL.M (GL)., LL.M (EL)

Paralegal Lawyer di London dan Ketua Departemen Pengabdian Masyarakat Masika ICMI Nasional.

Beberapa pekan ini kita telah melewati pemilu serentak 2019. Meskipun saat ini proses penentuan Pilpres berada di tangan MK.

Namun baik kiranya kita berupaya untuk mengevaluasi hal-hal positif dan negatif sebagai pengalaman berharga dari pemilu kali ini untuk dijadikan pelajaran yang konstruktif kedepan.

Banyak capaian namun tidak sedikit pula kritik, bahkan kenyataan pahit yang mendorong kita semua untuk berfikir kritis dan taktis untuk mengevaluasi prosesi pesta rakyat lima-tahunan tersebut.

Setidaknya yang mencolok adalah tragedi kematian yang mewarnai jalannya proses demokrasi lima tahunan ini. Dan beberapa catatan penting mengenai masalah yang menyinggung aspek kecurangan.

Meninggalnya petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara/KPPS yang mencapai jumlah 527 jiwa (data Kemenkes), di beberapa daerah, merupakan cerminan dari meratanya masalah ini. Ditambah lagi jumlah 11.239 orang (data Kemenkes) KPPS yang sakit semakin menambah keyakinan bahwa masalah ini bisa saja bersifat sistemik.

Dari banyak alasan, salah satu alasan logis adalah karena kondisi fisik tubuh (kecapean) yang konon menjadi pemicu kematian "berjamaah" ini.

Jika dikaitkan dengan kondisi waktu perhitungan suara dan lain sebagainya yang memakan waktu yang tidak selesai dalam satu hari maka alasan seperti itu sah-sah saja.

Namun ada juga alasan medis yang menyentuh aspek psikologis.

Alasan ini juga masuk akal jika dikaitkan dengan target waktu penyelesaian yang dimaksudkan untuk efisiensi waktu.

Tapi akan menjadi kurang etis jika pengaruh tekanan psikologis tersebut dipengaruhi oleh tekanan manusia lain.

Hanya tekanan yang bersifat negatif yang sesungguhnya dapat dengan cepat mempengaruhi kesehatan secara menyeluruh bahkan kondisi jantung sekalipun.

Misalnya, menurut ahli kesehatan barat (Neil et al., 2005), aspek tekanan psikologis yang dapat meningkatkan rate jantung dikarenakan adanya rasa takut atau bersalah itu dapat merenggut nyawa.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved