Prabowo Miliki Peluang Menangkan Gugatan di MK dan Menjadi Presiden RI, Langkah BPN yang Terakhir

Prabowo Subianto, memiliki peluang untuk menang dalam gugatannya di MK dan untuk menjadi Presiden RI.

Editor: Welly Hadinata
kolase Sripoku.com
Prabowo Subianto, memiliki peluang untuk menang dalam gugatannya di MK dan untuk menjadi Presiden RI. 

"Sehingga apapun hasilnya bisa diterima kedua pihak," ungkap Refly.

Lisensi Pilotnya Dicabut karena Zero Grafity, Youtuber Kapten Vincent Raditya Hanya Bisa Pasrah

Gubernur Sumsel H Herman Deru Pastikan Tol Kapalbetung Siap Dilintasi Pemudik

Jalan Tol Kapalbetung Persingkat Jarak Lampung-Palembang hingga 50 persen, Siap Dilintasi Pemudik

Bagaimana kemungkinannya Prabowo menang?

Setelah maju ke MK, hanya ada dua kemungkinan di depan jalan BPN Prabowo-Sandi, yakni menang atau kalah.

Di dalam persidangan, Refly tidak menutup segala kemungkinan bisa terjadi.

Meski dalam beberapa kasus, tudingan kecurangan pemilu sangat sulit untuk dibuktikan.

Refly Harun menambahkan, ada dua aspek untuk memenangkan sengketa pemilu, yakni aspek kuantitatif dan kualitatif.

Refly menjelaskan, aspek kuantitatif lebih banyak membahas tentang pembuktian data dan angka.

"Saya katakan begini, dua aspek pendekatannya ya, satu kuantitatif dan kedua kualitatif," kata Refly Harun.

"Kalau kuantitatif ini BPN harus bisa membuktikan bahwa mereka itu dikurangi, dicurangi atau ada penggelembungan suara bagi pasangan 01 sejumlah separuh dari 16.957.123 suara, separuhnya, artinya kira-kira 8,5 juta."

"Kalau dia mendalilkan bahwa saya dikurangi atau di sana ada penggelembungan 8,5 juta suara setelah diakumulasikan maka di situ baru kita bicara signifikan untuk diproses lebih lanjut dari sisi kuantitatif."

"Tapi kalau dari permohonannya saja tidak signifikan, hanya klaim-klaim, contoh misalnya orang yang tidak memilih dihitung, daftar pemilih khusus tambahan dihitung itu kan cenderung tidak signifikan."

Sedangkan aspek kualitatif lebih menekankan pada kualitas pelaksaan pemilu, apakah berlangsung jujur dan adil atau tidak.

"Maka bergerak pada dimensi kedua yaitu dimesi kualitatif."

"Dimensi kualitatif ada dua juga, apakah kemudian kita ingin bergerak pada TSM (terstruktur, sistematis dan masif) ataukah kita hanya cukup membuktikan bahwa memang ada kecurangan yang langsung dikomando oleh paslon 01 atau tim TKN-nya."

"Dan itu penting untuk dikaitkan dengan pemilu yang jujur dan adil," kata Refly Harun.

Halaman
123
Sumber: Tribun Solo
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved