Mentauladani Pemimpin Terbaik

Mentauladani Pemimpin Terbaik Sebelumnya

Pemilu serentak pada tanggal 17 Juni 2018 yang baru berlalu di negeri tercinta ini boleh dibilang telah berhasil dengan sukses.

Editor: Salman Rasyidin
ist
Drs. HM. Daud Rusjdi AW 

Mentauladani Pemimpin Terbaik  Sebelumnya

Oleh : Drs. HM. Daud Rusjdi AW

Da’i Bid Tadwin/Pengurus Masjid Al Qodr 5 Ulu

Pemilu serentak pada tanggal 17 Juni 2018 yang baru berlalu di negeri tercinta ini boleh dibilang telah berhasil dengan sukses, walaupun sampai saat ini masih banyak meninggalkan berbagai masalah yang harus diselesaikan dengan arif dan bijaksana. \

Walaupun demikian, keadaan negeri ini masih kondusif. Semua itu berkat keikutsertaan semua elemen masyarakat.

Walaupun memang ada sandungan-sandungan kecil, namun semuanya dapat diselesaikan dengan baik tanpa membawa polemik yang berarti.

Memang seharusnya bagi mereka yang belum berhasil dalam sebuah pertandingan harus rela dengan ikhlas menerimanya walaupun pahit dirasakan karena itulah peraturan dalam permainannya.

Bagi rakyat kecil seperti saya ini dan tentunya juga banyak rakyat seperti saya sependapat, siapapun yang terpilih, bukan menjadi masalah.

Menjadi permasalahan penting siapapun orangnya harus dapat bekerja dengan baik, karena dengan kebaikan itulah akan disenangi oleh rakyat yang dipimpinnya.

Saya teringat dengan sebuah Tarech (sejarah Islam) yang menceritakan seorang Gubernur di daerah Himsh pada era pemerintahan Khalifah Umar bin Khathab.

Suatu hari Umar bin Khathab berkata kepada delegasi dari daerah Himsh, “Tulislah nama para fakir miskin di daerah kalian supaya aku bisa memenuhi kebutuhan mereka”.

Setelah ditulis mereka kemudian menyerahkan sebuah buku yang penuh berisi nama-nama penduduk Himsh yang fakir miskin, dan setelah diperiksa oleh Khalifah Umar, ada salah satu nama yang termasuk fakir miskin bernama Said bin Amir Al Jumhi, yang tidak lain adalah Gubernur mereka.

Setelah membaca daftar nama-nama tersebut, Umar bin Khathab bertanya “Said bin Amir itu siapa?. \

Maka delegasi menjawab, “Ya Demi Allah, dapurnya sering tidak berasap dalam waktu yang lama karena ketiadaannya”.

Mendengar itu Umar bin Khathab menangis tersedu sampai-sampai air matanya membasahi jenggotnya.

Sumber:
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved