Breaking News

Menangkal Hoax

Menangkal Hoax Pilpres yang Viral

Rabu tanggal 17 April 2009 mendatang merupakan hari penentuan nasib bangsa Indonesia lima tahun kedepan dengan dilangsungkannya Pilpres

Editor: Salman Rasyidin
ist
Gusjandjara Arni 

Menangkal Hoax Pilpres yang Viral
Oleh: Gusjandjara Arni
Dosen Universitas Muhammadiyah Palembang/Prodi Penyiaran Komunikasi Islam

Rabu tanggal 17 April 2009 mendatang merupakan hari penentuan nasib bangsa Indonesia lima tahun kedepan dengan dilangsungkannya pemelihan Presiden dan wakil presiden.

Pasangan yang mengikuti pilpres ini pasangan Joko Widodo lahir 21 Juni 1961 di Surakarta Jawa Tengah Sementara cawapresnya KH Ma’ruf Amin Lahir 11 Maret 1943 di Tangerang.

Capres berikutnya, Prabowo Oktober 1951, berpasangan dengan, Sandiaga Uno yang dilahirkan tanggal 28 Juni 1969 yang selama ini dikenal sebagai pengusaha dan politikus Indonesia.

Nah,berkaitan dengan Pilpres dan Cawapres tersebut ditetapkannya masa kampanye calon anggota DPR/DPD/DPRD dan capres/cawapres:23 September 2018 hingga 13 April 2019.

Pemungutan dan penghitungan suara (pileg dan pilpres dijadwalkan pada hari yang sama) : 17 April 2019. Namun, sejak digelindingkannya masa kampanye pemenangan masing-masing calon, secara kenyataan umum yang berkembang di tengah masyarakat (higly fenomena) tertular dan menular (viral) dalam dinamika masyarakat maupun lewat media jejaring social (medsos).

Hingga tulisan ini dibuat, dari semua elemen masyarakat, simpatisan, komunitas serta partai pendukung tidak terkecuali kaum politisi, berkembang biaknya julukan-julukan mempopular.

Julukan-julukan yang muncul seperti cebong, banci serbet, taikers, plet ert, sumbu pendek, pentol korek, sesuai penggorengnya, dan lain lagi.

Pasangan Capres-Cawapres yang akan dipilih pada Pilpres 17 April 2019 mendatang.
Pasangan Capres-Cawapres yang akan dipilih pada Pilpres 17 April 2019 mendatang. (istimewa)

Plus personifikasi panggilan, canda dan guyonan lainnya teraktualisasi dan membumi diramu melalui rethorika bersilat lidah dalam aura tendensius menjudutkan individu maupun kelompok dan golongan yang lain.

Mengolok-olok kelompok lain dengan julukan ini sebagai sulutan pemutusan hubungan sosial dan ditamsilkan. Dalam Surat Al Hujurat 49 ayat :11 diingatkan secara gamblang.

"Hai (kelompok, lembaga, kumpulan, partai) orang laki-laki mengolok-olok kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka.

Dan jangan pula, sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.

Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran (julukan) yang mengandung ejekan.

Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka Itulah orang-orang yang zalim."

Kemudian ditegaskan dalam surat Al Humazah 104 ayat 1. "Kecelakaan bagi setiap pengumpat lagi pencela. Pencitraan Politik Bagai Monyet Yang Menari.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved