Meluruskan Jalan Umara

Keruntuhan sebuah negara selain karena praktek-pratek nepotisme dalam birokrasi, juga karena merajalelanya maksiat dan pengabaian ajaran agama

Editor: Salman Rasyidin
ist
Drs. H. Umar Sa'id 

Meluruskan Jalan Umara

Drs. H. Umar Sa'id

Ketua Forum Umat Islam (FUI) Sumsel

"Apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu keputusan (ketentuan), maka tidaklah pantas bagi orang Mukmin dan Mukminah untuk memilih alternatif yang bersangkut paut dengan urusan mereka.Dan siapa yang mendurhakai (berbuat maksiat kepada) Allah dan Rasul-Nya, maka dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata," (Q,S. 33/Al-Ahzab: 36).

Ibn Khaldun, seorang tokoh pemikir dan ahli filsafat sejarah yang dikagumi dunia, dari karyanya "Muqaddimah" mengatakan bahwa keruntuhan sebuah daulah/negara selain karena praktek-pratek nepotisme dalam birokrasi, juga karena merajalelanya maksiat dan pengabaian terhadap ajaran agama serta mengkultuskan akal secara berlebihan.

Apa yang dikemukakan dalam analisa Ibn Khaldun itu, banyak fakta dapat kita saksikan dalam perkembangan dunia yang tampaknya makin terlena dalam kehancuran moralitas.

Pada saat orang hilang pegangan, karena meremehkan ajaran agama, maka maksiat berperan sebagai "perilaku terhormat".

Secara implisit para amir mengakui bahwa maksiat katakanlah seperti judi, misalnya dalam berbagai bentuk itu akan membuahkan banyak dampak negatif kepada masyarakat.

Tetapi karena kehilangan pegangan dan tidak percaya diri, pada pihak lain perbuatan-perbuatan maksiat itu dikordinasikan secara rapi; bahkan para intelektual gadungan pun bermunculan dan mempergunakan kesempatan untuk "mengutak-atik" fatwa tentang "ketidakmaksiatan" sesuatu yang sebenarnya maksiat itu.

Dalam kaitan inilah, kita patut menyimak pernyataan Al-Quran bahwa siapa pun yang sedang disesatkan oleh tipu daya setan, akan memandang maksiat itu 'baik".

Dan orang itu selalu berusaha untuk menggeser dalil dan hujjah dengan akalnya yang dikultuskan bahwa "sesuatu kalau cuma begini bukan maksiat", dan sebagainya.

Ketika itulah umat menjadi bingung, berada di persimpangan jalan, sulit bagi mereka membedakan yang mana boleh disebut intelektual "warasat al-anbiya" dan yang bagaimana "al-ulama" al-su

. "Apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu keputusan (ketentuan), maka tidaklah pantas bagi orang Mukmin dan Mukminah untuk memilih alternatif yang bersangkut paut dengan urusan mereka. Dan siapa yang mendurhakai (berbuat maksiat kepada) Allah dan Rasul-Nya, maka dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata, (Q,S. 33/Al-Ahzab:

Allah SWT memberikan kesempatan kepada setan untuk mencari kawan, setelah ia diusirNya dari surga.

Iblis sebagai symbol maksiat, ingkar kepada perintah Allah yang memerintahkannya untuk "menghormati" Adam.

Klimaks keingkarannya itu ialah ketika ia dengan tegar menerima perintah Allah.

"Keluarlah kamu dari surga. Dan kau terkutuk" QS 15/Al-Hijr:34). Argumentasi iblis begitu naif ketika ia menggugat Allah. "Aku takkan mau menghormati kepada sosok manusia (Adam) yang Kau ciptakan dari tanah lempung hitam yang berbentuk" (QS 15:33).

maksiat/ilusrasi
maksiat/ilusrasi (kolase)

Dan ia menganggap dirinya lebih mulia daripada Adam.

Setelah terusir, iblis minta tempo sampai tiba kiamat.

Lalu ia mempergunakan kesempatan itu untuk menipu manusia, antara lain dengan cara ditampakkannya kejahatan dan maksiat itu sebagai sesuatu yang baik, kecuali oleh hamba-Nya yang mukhlis. Kata Iblis:
"Tuhanku! Karena Engkau telah memutushan aku sesat, pasti akan ku hiasi hidup manusia di dunia dengan memandang baik perbuatan maksiat?. (Al-Hijr:39).

Iblis pasti takkan dapat menipu orang-orang ikhlas, hamba-hambaNya yang tidak kehilangan pedoman.

Tetapi iblis dapat menambah  dan mencari kawannya sebanyak mungkin, di antaranya termanifestasikan dalam perbuatan maksiat yang begitu kompleks, nyaris sulit dibedakan yang mana maksiat dan mana yang bukan.

Bukan sulit membedakan dan juga bukan sulit untuk menyauhkannya, melainkan banyak orang bermunculan hanya bertopeng agama untuk mencari kesenangan diri dari duniawi.

Maksiat melalui lidah, salah satu anggota tubuh, menurut Al-Ghazali, ialah ucapan-ucapan Dusta dan janji palsu, fitnah, perbantahan soal agama, dan lain-lain.

ilutrasi
ilutrasi (edunews/Serambinews)

Sengaja dimunculkan orang-orang yang paham dalil agama untuk dipergunakan sebagai "penggebuk" terhadap orang paham agama yang bersikap teguh pendirian.

Di kalangan masyarakat muncul ilmuwan-ilmuwan agama yang menganggap dirinya "canggih" dalam ihwal ber-"fatwa", tampil dengan Sifat congkak dan memuji diri, seolah tak ada orang lain yang dapat mengungguli ilmunya.

Padahal ia paham benar kepada firman Allah: "Janganlah kamu memuji dirimu sendiri.

Allah lebih mengetahui siapa yang sebenarnya takut kepadaNya" (An-Najm : 32).

Al-Ghazali mengisahkan tentang seseorang yang bertanya kepada seorang filosuf : "Apakah sesungguhnya yang benar-benar dapat disebut yang jahat itu".

Sang filosuf menjawab: "Kelakuan seseorang yang suka memuji diri sendiri".
Dan perilaku memuji diri sendiri, meremehkan orang lain, apalagi dengan itu terkandung maksud untuk melanggar aturan Allah, maka perbuatan tersebut termasuk maksiat.

Maksiat melalui perut, menurut Al Ghazali, ialah apabila perut sudah terisi makanan yang haram atau makanan yang syubhat yang seharusnya juga dihindari karena banyak kecenderungan kepada yang haram.

Dalam inti ajaran Islam, jangankan makanan yang haram atau syubhat itu, makanan yang halal pun tidak dibolehkan berlebih-lebihan; karena perut adalah sentral segala penyakit.

Segi maksiat lainnya yang juga melalui salah satu anggota tubuh, ialah maksiat kehormatan (aurat).

Pembudayaan pakaian ala Barat oleh sebagian kaum wanita "modern", yang menimbulkan rangsangan seks rendah, merupakan salah satu penyebab timbulnya berbagai tindak kejahatan, seperti perkosaan.

Itulah sebabnya Islam menetapkan suatu ketentuan yang masuk akal tentang tata cara berpakaian bagi Muslimah, antara lain adalah untuk menghindarkan kriminalitas di bidang seks.

Siksa yang diberikan Allah berupa musibah adalah karena maksiat/pendurhakaan manusia kepadaNya, atau lantaran pelanggaran atas ketentuan-Nya yang dilakukan manusia, seperti yang dijelaskan Allah dalam banyak ayat pada Kitab SuciNya (QS 4:14; 72:23).

Imam Bukhari meriwayatkan dari sumber Ibn Umar, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Jika Allah menurunkan musibah kepada sesuatu kaum, maka yang terkena musibah itu bukan saja mereka yang bersalah (yang melakukan maksiat), melainkan juga mereka yang tidak terlibat di alamnya; kemudian diperlihatkan kepada mereka buah dari perbuatannya.

Nabi Nuh AS yang hampir putus asa karena kaumnya yang diserukan kepada petunjuk tidak mau mendengarnya (QS 71/Nuh: 21-27) akhirnya berdoa: Tuhanku! ampunilah aku dan dua ibu bapaku dan orang yang memasuki rumahku sebagai Mukmin, ampunilah semua orang Mukmin dan Mukminah, dan janganlah Engkau tambahkan kebaikan apa pun kepada orang-orang zalim kecuali kebinasaan. (QS 71/ Nuh 28).

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved