Pernah Dihancurkan Belanda, Ternyata Ini Sejarah Berdirinya Masjid Agung Palembang Banyak Tak Tahu
Jadi Salah Satu Ikon Kota, Begini Sejarah Berdirinya Masjid Agung Palembang, Belum Banyak Diketahui
Penulis: Shafira Rianiesti Noor | Editor: Candra Okta Della
Benteng Kuto Besak yang didirikan pada 1780 juga terdapat andil orang-orang Cina.
Waktu pembangunannya memakan waktu selama 17 tahun karena bahan bangunannya harus didatangkan dari luar Palembang bahkan luar pulau Sumatera.
Pada 1797 bangunan tersebut resmi digunakan.
Walaupun demikian arsitek Benteng tidak diketahui dengan pasti, tapi diperkirakan dari orang Eropa.
Keterampilan mencetak bata orang-orang Cina di Palembang diwariskan kepada keturunannya yang bermukim di perkampungan tua mereka.
Tepatnya berada di Sungai Ogan alias Sungai Buaya.
Masyarakat Cina pada masa kesultanan tinggal di rumah-rumah rakit di wilayah Seberang Ulu.
Seperti juga komunitas Arab, Eropa dan orang-orang yang dianggap bukan sebagai warga kesultanan Palembang.
• Pensiun dari Dunia Hiburan dan Pilih Kerja di Istana Negara, Nasib Artis Cantik Ini Berubah Drastis!
• 7 Tahun Nikah, Ashanty Bongkar Sifat Anang Hermansyah, Tak Tahan Lagi Sampai Sebut Kalimat Benci
• Bak Ada Kutukan, 6 Penyanyi Ini Termakan Karma Lagunya Sendiri, No 4 Sampai Dipermalukan Suami
Bentuk Bangunan Lama Masjid Agung
Masjid Agung terletak di kel. 19 Ilir kec. Ilir Barat 1 Palembang. Masjid Agung berada di persimpangan jalan Jend. Sudirman di sebelah timur.
Sedangkan sebelah barat berbatasan dengan jalan Guru-guru (berjarak kurang lebih 60 m).
Jalan Guru-guru sekarang sudah diganti namanya menjadi jalan Faqih Usman.
Menurut Djohan Hanafiah, dulu jalan ini sampai dinamakan jalan Guru-guru karena di sepanjang jalan ini bermukim guru-guru agama Islam.
Mereka mengajarkan mengaji Al-Quran, Fiqih dan ilmu agama lainnya yang berpusat di Masjid Agung.
Masjid Agung ini dulunya dikelilingi sungai. Bagian Ilir (timur) berbatasan dengan sungai Tengkuruk.
