Berita Palembang

Sepanjang 2018 WCC Terima 10 Kasus, Kekerasan dalam Pacaran hingga Ditinggal Kabur Saat Hamil

Sepanjang tahun 2018 Women's Crisis Center (WCC) Palembang menerima sebanyak sepuluh kasus kekerasan terhadap perempuan di provinsi Sumsel.

Sepanjang 2018 WCC Terima 10 Kasus, Kekerasan dalam Pacaran hingga Ditinggal Kabur Saat Hamil
SRIPOKU.COM/ODI ARIA
Direktur Eksekutif WCC Palembang Yeni Roslaini Izi. 

Laporan wartawan Sripoku.com, Odi Aria Saputra

SRIPOKU.COM, PALEMBANG-- Sepanjang tahun 2018 Women's Crisis Center (WCC) Palembang menerima sebanyak sepuluh kasus kekerasan terhadap perempuan di provinsi Sumsel.

Dari laporan tersebut umumnya didominasi oleh tingginya kasus Kekerasan Dalam Pacaran (KDP) yang diterima oleh remaja wanita hingga korban dari cowok matre

Direktur Eksekutif WCC Palembang, Yeni Roslaini Izi mengatakan pihaknya mengkategorikan KDP menjadi tiga, yakni kekerasan seksual berupa sikap tidak bertanggung jawab laki-laki setelah menghamili seorang wanita, kekerasan fisik dan hutang (laki-laki yang gemar berhutang dengan pasangannya tapi akhirnya ditinggalkan).

"Rata-rata kasus kekerasan seksual dan hutang. Laporan ke WCC Palembang selama 2018 ada 10 kasus yang masuk," ujarnya, Senin (5/11/2018).

DIbanding korban-korban KDRT yang sudah berani melapor ke WCC atau lembaga terkait, korban kekerasan dalam pacaran masih cenderung enggan mengungkapkan kasusnya karena korban sering kali menganggapnya sebagai aib.

Dengan demikian mereka merasa tidak perlu melaporkan, terutama para wanita yang ditinggalkan pasanganya dalam keadaan hamil dengan kondisi pasangannya engga bertanggung jawab.

"Kekerasan tidak mesti bentuknya fisik, ancaman dan janji termasuk kekerasan, misalnya laki-laki yang berjanji akan menikahi si pacar setelah berhubungan badan tapi ternyata ujungnya si laki-laki kabur," jelas Yeni.

Menurutnya, kasus kekerasan dalam pacaran di Sumsel seperti fenomena gunung es, korban-korban yang tidak melapor jauh lebih banyak dibanding angka-angka resmi tiap tahunnya.

Ia menjelaskan, kekerasan dalam pacaran diklasifikasi khusus karena kondisi spesifiknya dibedakan dari kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), perkosaan dan pelecehan seksual.

Selain itu, kasus hutang atau cowo matre juga termasuk banyak laporannya karena korban (si wanita) merasa dirugikan, dan WCC selalu bersedia mendampingi semua kasus tersebut, namun keputusan tetap diserahkan pada korban, bisa melapor ke polisi atau selesai secara kekeluargaan.

"Masih banyak korban diluar sana, tetapi sebagian dari mereka enggan melapor karena menggap hal tersebut aib," katanya. 

Baca: Berita Pagaralam: Bawa Ganja 3 Paket Besar, Mahasiswa Ini Digerebek Polisi

Baca: Resep - Cara Membuat Pempek Ikan Gabus Asli Palembang, Dijamin Mudah & Praktis

Penulis: Odi Aria Saputra
Editor: pairat
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved