HUT RI 2018

Mamahami Hakikat Kemerdekaan

Setiap tanggal 17 Agustus kita memperingati hari kemerdekaan Indonesia dari penjajahan fisik dan mental selama 3,5 abad.

Editor: Salman Rasyidin
ist
Dr. Ismail Sukardi, M.Ag 

Mamahami Hakikat Kemerdekaan
Dr. Ismail Sukardi, M.Ag

Wakil Rektor I UIN Raden Fatah Palembang

Setiap tanggal 17 Agustus kita memperingati hari kemerdekaan Indonesia dari penjajahan fisik dan mental selama lebih dari 3,5 abad.

Sejak 17 Agustus 1945 ketika kemerdekaan diproklamirkan hingga saat ini, usia Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sudah memasuki 74 tahun. Umat dan bangsa Indonesia mungkin sudah merdeka dari belenggu penjajahan secara fisik.

Akan tetapi apakah kita sudah terbebas dari penjajahan dan belenggu psikis, spiritual serta mental?

Sebab faktanya masih banyak dari elemen bangsa kita yang menunjukkan ciri-ciri bahwa mereka masih terbelenggu dan terjajah secara mental dan spiritual.

Masih tampak adanya orang-orang yang di satu sisi percaya kepada Allah SWT, tetapi di sisi lain masih mempertuhankan "materi" (tersandera oleh nafsu yang berlebihan terhadap materi).

Merdeka Dari Belenggu Tuhan Palsu

Mengapa doktrin pertama dan utama Islam terkandung dalam kalimat Lailahaillallah?

Karena makna kalimat tauhid ini (yaitu "tiada tuhan selain Allah") membebaskan manusia dari berbagai tuhan palsu yang memasung kemerdekaan hati, jiwa, dan mental manusia.

Kata "tuhan" memang bisa berarti 'god', yaitu dia yang disembah secara spiritual, tetapi ia juga dapat bermakna sesuatu yang sangat dipentingkan, diagungkan, diutamakan lebih dari segala-galanya.

Maka dalam Al Quran ada pertanyaan retoris yang berbunyi, "Pernahkah kamu melihat orang-orang yang mengambil hawa nafsunya sebagai Tuhannya?" (Q.S. Al-Jatsiyah: 22).

Oleh karena itu, mempertuhankan hawa nafsu dalam pengertian menjadikan hawa nafsu sebagai sesuatu yang diagungkan melebihi ketaatan kepada Allah SWT sesungguhnya adalah perbuatan yang membiarkan kita dijajah dan dibelenggu secara spiritual dan mental, sebab dengan mengagungkan nafsu, orang kemudian lebih mementingkan materi (harta, tahta, dan wanita) secara berlebihan sehingga  hati dan jiwanya terbelenggu oleh nafsu materi tersebut. Tentu saja kita membutuhkan materi, tetapi ketika ia dipertuhankan, ia akan membelenggu hati, pikiran, sikap, dan tindakan kita sehingga kita lupa kepada aturan-aturan Allah SWT.

Inilah sesungguhnya penjajahan dalam pengertian yang sebenarnya yaitu ketika hati, pikiran, sikap, dan tindakan kita dikendalikan dan disandera oleh kepentingan yang berlebihan terhadap dunia yang serba material dan membuat kita mengabaikan perintah dan larangan Allah SWT.

Aturan Allah SWT dan prinsip-prinsip kemanusiaan universal seperti keadilan, ketaatan kepada hukum, larangan korupsi, kepedulian kepada nasib generasi ke depan, keseimbangan lingkungan, tertib sosial, dan sebagainya, akan dengan mudah dilanggar oleh orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved