Berita Palembang

Langkah Tertatih Kesenian Wayang Palembang agar Terus Bertahan Ditengah Kencangnya Arus Zaman

Sempat berjaya di tahun 1980-an dan mendapatkan bantuan dari UNESCO pada 2004 silam tak serta merta menjadikan kesenian ini bisa terus berjaya.

Penulis: Jati Purwanti | Editor: Ahmad Sadam Husen
SRIPOKU.COM/JATI PURWANTI
Dalang Ki Agus Wirawan Rusdi saat mementaskan kesenian Wayang Palembang. 

"Tidak mengapa jika manggung setiap hari. Tapi belum tentu sebulan sekali manggung. Kalau sedang sepi juga hampir setahun tidak manggung," terangnya.

Wayang Palembang diperkirakan sudah ada sejak abad ke-19 Masehi saat masa kepemimpian Arya Damar.

Kesenian ini juga dipengaruhi oleh budaya Jawa sebab pada masa itu wilayah Palembang terpengaruh budaya Jawa.

Pertunjukan wayang Palembang tidak jauh berbeda dengan wayang dari daerah lain di nusantara.

Musik gamelan tetap menjadi musik pengiring, yang membedakan hanyalah tidak adanya sinden atau penyanyi tradisional saat pertunjukan digelar.

Juga bahasa yang digunakan merupakan bahasa Melayu dan bahasa Palembang.

Durasi pementasan pun terbilang cukup singkat dan paling lama hanya tiga jam.

"Kalau wayang Jawa bisa semalam suntuk, wayang Palembang hanya sebentar saja yakni sekitar 1-3 jam," terangnya.

Keahlian mendalang tersebut diterangkannya diwariskan secara turun-temurun dari kakek dan ayahnya, Dalang Kgs. Abdul Rasyid Bin Abdul Roni dan Dalang Rusdi Rasyid.

Di Kota Palembang sendiri hanya tersisa satu sanggar wayang Palembang saja.

Selain karena memang kurangnya perhatian dari pemerintah, mencari bibit-bibit muda penerus memang bukan sesuatu yang gampang.

Memiliki anak yang semuanya perempuan menjadikan ia cukup sulit mencari penerus walaupun di sisi lain adik laki-lakinya juga kerap menjadi dalang di beberapa pementasan.

"Orang-orang juga berpikir bahwa jadi dalang harus dari keturunan padahal tidak. Setiap orang bisa menjadi dalang asal mau dan serius," katanya.

Meski harus menelan pil pahit kenyataan tentang redupnya wayang Palembang, pria ini akan terus bertekad menjaga kelestarian wayang Palembang di tengah gempuran budaya modern.

"Selama saya masih hidup akan terus saya lestarikan kesenian ini. Wayang Palembang jangan sampai mati suri lagi," tutupnya.

===

Baca: Pengamat Politik: KPU Hanya Penyelenggara, Bukan yang Memberi Kewenangan Menunda

Baca: Praktisi Branding dan Komunikasi Politik Sebut Tren Caleg yang Dibutuhkan Saat Ini

Baca: Menteri Puan Maharani : Kita Siap Jadi Tuan Rumah Asian Games 2018

Baca: Astra Honda Motor Raih 19 Penghargaan The Best Contact Center Indonesia 2018

Baca: Indonesia Juara 1 Piala AFF U-16 2018, Ini Perjuangan Sengit Garuda Muda Kalahkan Thailand

Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved