Berita Haji
Tidak Bisa Bahasa Indonesia, Jamaah Haji Banyak yang Tersesat
Kedatangan calon jemaah haji dari berbagai embarkasi di Indonesia, termasuk Palembang (Sumsel)dan dunia di Madinah sudah mulai ramai dan padat.
Penulis: Husin | Editor: muhammad husin
Laporan wartawan Sripoku.com, Muhammad Husin
SRIPOKU.COM, MADINAH --Kedatangan calon jemaah haji dari berbagai embarkasi di Indonesia, termasuk Palembang (Sumsel) dan dunia ke Kota Madinah, sudah mulai ramai dan padat.
Tidaklah aneh, banyak jemaah haji yang berziarah tersesat karena tidak tahu jalan pulang akibat terpisah dari rombongan.
Kontributor Sripo di Kota Madinah Slamet Hariono, Senin (23/7) melaporkan, mulai padatnya penziarah terlihat dari jumlah jemaah yang mendatangi Masjid Nabawi untuk melaksanakan shalat wajib dan ziarah ke Makam Nabi Muhammad SAW yang mulai terasa sesak.
Situasi ini berbeda saat jemaah haji Kloter 1 dan Kloter 2 Embarkasi Palembang pertama kali tiba di kota Madinah.
Namun disisi lain, banyak juga jemaah haji yang tersesat, sakit, hingga keletihan. Disisi lain, suhu udara masih ekstrim dengan temperatur 50-52 derajat celsius.
"Hampir setiap hari, kita temukan ada jemaah haji asal Indonesia yang kebingungan. Bahkan ada yang minta diantarkan hotelnya," katanya.
Hanya saja, terkendalanya komunikasi. "Ada jemaah haji yang tidak bisa berbahasa Indonesia. Umumnya dari Jawa dan Bugis, jadi kita kesulitan berdialog saat mau menolong," jelas Slamet.
Tingginya angka jemaah haji tersesat dan sakit ini, langsung disikapi cepat Tim Kesehatan preventif Daerah Kerja Madinah dan Tim Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI). Mereka memberikan sosialisasi, yang intinya menekankan pentingnya menggunakan masker, alas kaki, kacamata hitam.
Bahkan, jemaah haji diingatkan setiap satu Jam sekali harus minum minimal satu gelas dan menyemprot muka dengan air, khususnya saat berada di luar ruangan.
"Harus jaga fisik, simpan energi, simpan fisik untuk di Arafah karena haji adalah arafah. Jemaah harus tahu kesehatan diri sendiri," kata dr Rino dari TPP Pusat saat berkunjung ke hotel tempat Kloter 2 Palembang menginap.
Rino juga mengingatkan agar jemaah haji menjaga gelang dan jangan sampai dilepas karena banyak jemaah yang hilang.
"Diharap kepedulian bagi yang muda ikut memperhatikan jemaah yang tua," katanya.
Menu Makanan
Terpisah Kepala Pusat Kesehatan Haji Eka Jusuf Singka, memastikan bagi jemaah haji yang dirawat di KKHI Madinah diberikan menu makanan yang bergizi, baik pasien rawat inap maupun di IGD
diberikan tiga kali sehari dan dua kali makanan ringan selama pasien dirawat.
Pemberian makanan tersebut dilakukan selama waktu operasional haji, yakni kurang lebih 76 hari.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/tim-kesehatan-haji_20180723_205139.jpg)