Rupiah Kembali Melemah dan Ekonomi Tidak Menentu, Begini Harapan & Kerugian Pengusaha di Sumsel

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sumsel, Sumardjono Saragih berharap nilai tukar rupiah terhadap dolar segera membaik

Rupiah Kembali Melemah dan Ekonomi Tidak Menentu, Begini Harapan & Kerugian Pengusaha di Sumsel
SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Sumarjono Saragih, Ketua DPD PMS (Partuha Maujana Simalungun) Sumsel 

Laporan wartawan Sripoku.com, Jati Purwanti

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Penguatan dolar AS terhadap nilai tukar rupiah membuat pelaku bisnis gelisah.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sumsel, Sumardjono Saragih berharap nilai tukar rupiah terhadap dolar segera membaik dan agar tetap stabil agar sektor usaha tetap aman.

"Kalau kondisi ini terus berlanjut sektor bisnis secara keseluruhan akan terkena dampaknya. Dolar stabil sektor usaha akan bagus," ujarnya, Jumat (29/06).

Dia mengatakan meski eksportir dalam negeri diuntungkan dengan keadaan ini namun pengusaha dalam negeri akan sangat dirugikan dengan pelemahan rupiah.

"Kalau pengusaha sejati tidak akan suka dengan kondisi ekonomi tidak menentu dan sulit ditebak ini, tapi bagi mereka yang hanya mementingkan untung dan tidak berani bermain sehat justru senang dengan naiknya dolar seperti sekarang," tambahnya.

Sementara untuk sektor impor saat ini gigit jari karena sejumlah barang yang dibeli dengan impor memaksa pengusaha harus merogoh kocek lebih dalam. Barang yang akan dijual lebih mahal dan juga marginnya semakin tipis diakibatkan oleh tidak stabilnya pergerakan rupiah.

"Nilai tukar Rupiah terhadap dolar tidak menentu. Bisa saja saat importir membeli barang dari luar nilainya berkisar Rp 14.000 namun sepekan kemudian saat kembali impor nilainya melonjak naik," katanya.

Dia melanjutkan bbisnis sawit tidak serta merta bisa menikmati kenaikan dolar. Pasalnya komponen pupuk dan biaya perawatan sawit sebagain besar diimpor.

"Jualnya memang pakai dollar tapi membeli pupuk dan obat-obatnya juga pakai dollar jadi sama saja impas," lanjutnya.

Setali tiga uang dengan sawit, komoditas karet, menurut dia juga berada di posisi yang sama. Dijual dengan dolar ke luar negeri namun tetap sebagain besar komponen produksi dan pupuk impor juga.

"Harapannya pemerintah bisa memcarikan solusi terbaik agar sektor bisnis kembali membaik dan berada di iklim yang sehat." katanya.

Baca: Hari Lanjut Usia Nasional, Bupati OKUT Ingatkan Hidup Sehat Sejak Dini & Gelar Kegiatan Ini

Baca: Pilpres 2019, Herman Deru Siap Menangkan Jokowi di Sumsel

Baca: LRT Palembang Tidak Tepat Sasaran, Tidak Terkoneksi Dengan Angkutan Massal

Baca: Mantab Berhijab, Penampilan Istri Duta Sheila on 7 Makin Cantik, Ini Bukti Foto-Fotonya

Baca: Kenali 5 Gejala Kanker Otak Berisiko Bagi Kehidupan, Mual, Muntah Hingga Gangguan Keseimbangan

Baca: Kenali 5 Gejala Kanker Otak Berisiko Bagi Kehidupan, Mual, Muntah Hingga Gangguan Keseimbangan

Baca: Truk Batubara Ini Tiba-Tiba Tabrak Palang Pintu KA Hingga Patah Begini Kronologinya

Baca: Truk Batubara Ini Tiba-Tiba Tabrak Palang Pintu KA Hingga Patah Begini Kronologinya

Baca: Pemain Berdarah Indonesia Radja Nainggolan Dicoret dari Timnas Belgia, Jurnalis Ini Ungkap Ceritanya

Baca: Gaji Terlambat Dibayar, Pemain dan Pelatih Sriwijaya FC Geruduk Sekretariat

 

Penulis: Jati Purwanti
Editor: Siti Olisa
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved