Kisah Pencari Barang Bekas di OKU Selatan Terpaksa Membawa Dua Anak Balitanya dalam Gerobak

Gerobak berukuran 2x1 meter yang disetel beratap seng, merupakan rumah kedua bagi Jamal dan kedua putranya.

Penulis: Alan Nopriansyah | Editor: Tarso
SRIPOKU.COM/ALAN NOPRIANSYAH
Pak Jamal saat menodorong gerobak keliling Kota Muaradua OKU Selatan untuk mencari barang bekas, Kamis (29/3). Sementara dua Balitanya bermain dan tidur-tiduran dalam gerobak. 

Laporan wartawan sriwijaya post, Alan Nopriansyah

SRIPOKU.COM, MUARADUA - Gerobak berukuran 2x1 meter yang disetel beratap seng, merupakan rumah kedua bagi Jamal dan kedua putranya, yang masih balita.

Gerobak tempat ia membaringkan kedua anaknya, dengan beralaskan bantal dan tikar di sela ia mencari barang rongsok untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Di bagian depan gerobak terdapat 2 buah karung yang terbuka tempat menaruh hasil barang bekas yang ia pungut.

Saat berkeliling mencari barang bekas ia membawa bekal seadanya seperti susu dan air mineral dan pakaian bayi.

Gerobak itulah ia menempatkan kedua putranya yang masih balita sebagai tempat berlindung di terik matahari maupun hujan.

Jamal (48) mempunyai pondok sederhana sendiri terletak di kelurahan Pancur Pungah, di lorong Sepakat II lingkungan V Kecamatan Muaradua, sehingga tidak mengeluarkan biaya untuk menyewa rumah kontrakan.

Kesehariaan Jamal berprofesi sebagai pemungut barang bekas rongsok terpaksa harus membawa kedua putranya berkeliling kota Muaradua untuk memungut barang bekas.

Ia beranggapan pekerjaan memungut barang rongsok lah yang tepat untuk ia kerjakan yang bisa ia lakukan sembari mengurus kedua putranya yang masih balita.

Kedua putranya yang ia bawa kemana-mana yakni Soharto berusia 1.5 tahun dan putra keduanya Lorenso yang masih berusia 8 bulan.

Tampak dua Balita dalam gerobak saat dibawa bapaknya keliling Kota Muaradua OKU Selatan untuk mencari barang bekas, Kamis (29/3/2018)
Tampak dua Balita dalam gerobak saat dibawa bapaknya keliling Kota Muaradua OKU Selatan untuk mencari barang bekas, Kamis (29/3/2018) (SRIPOKU.COM/ALAN NOPRIANSYAH)

Sejak bercerai dengan istrinya 1 tahun lalu Jamal yang mengurus kedua anaknya, bukan tanpa alasan ia menceraikan istrinya lantaran sang istri memiliki gangguan kejiwaan yang kerap membahayakan ia dan anak-anaknya.

Penghasilan yang ia dapat dari mengumpulkan barang bekas tak menentu paling besar berkisar Rp 45 ribu perharinya tekadang hanya menghasilkan uang Rp 25 ribu saja selama satu hari penuh.

Uang yang ia hasilkan untuk keperluan makan sehari-hari dan untuk membeli susu kedua putranya namun setidaknya ia dapat mengurus kedua putranya.

Ia membawa kedua putranya berkeliling mencari barang bekas lantaran tak punya sanak keluarga untuk menitipkan kedua putranya, apalagi untuk menyewa tempat penitipan Jamal merasa tidak mampu.

Bahkan pakaian anak-anaknya yang ia cuci ia jemur di atap seng gerobak yang dibawa.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved