Kewajiban Bayar Zakat

Zakat Menambah Pendapatan Bagi Yang Membayarkan

Mungkin masih ada, bahkan banyak di antara kita yang berfikir bahwa zakat mal atau harta akan mengurangi pendapatan.

Editor: Salman Rasyidin
Subardin 

Zakat Menambah Pendapatan Bagi Yang membayarkan
Oleh : M. Subardin
Dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Unsri

Mungkin masih ada, bahkan banyak di antara kita yang berfikir bahwa zakat mal atau harta (selanjutnya ditulis zakat saja) akan mengurangi pendapatan.

Bahkan mungkin termasuk para ahli agama atau ulama yang juga punya pemikiran demikian.

Padahal dalam pendekatan teoritis, ternyata Zakat malah meningkatkan pendapatan nasional.

Barangkali inilah hikmah didalam Al Quran, yakni perintah Shalat yang digandengkan dengan perintah menunaikan Zakat paling tidak terdapat 25 kali.

Bahwa sesungguhnya segala ketentuan Allah terkandung hikmah dan tidaklah sia-sia.

Sesungguhnya amal soleh termasuk menunaikan zakat akan dibalas dengan ganjaran berlipat ganda.

"Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)" (Q.S. Al-Ma’arij : 24-25).

Makro ekonomi Islam Salah satu variabel makroekonomi paling penting adalah konsumsi (disimbolkan C).

Pengalokasian dan pendistribusian sumberdaya (tanah/alam, tenaga kerja, modal dan keahlian) untuk memenuhi kebutuhan konsumsi adalah menjaga keseimbangan.
Tanpa adanya keseimbangan maka perekonomian masyarakat akan mengalami masalah.

Terlalu banyak proporsi sumberdaya yang dialokasikan untuk konsumsi maka tabungan (S) dan investasi (I) tidak cukup untuk mewujudkan kondisi kesempatan kerja penuh (full employment) dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang optimal.

Disisi lain, usaha untuk mempertahankan tingkat investasi yang tinggi, berdampak pada pinjaman ke luar negeri yang akan meningkatkan beban utang dan menyerap sumberdaya untuk keperluan konsumsi dan investasi dimasa datang (Chapra, 2002).

Sebaliknya, pengalokasian sumberdaya yang terlalu kecil untuk konsumsi dapat menyebabkan resesi dan pengangguran akibat tidak terpenuhinya permintaan konsumen.

Bahkan, bila sumberdaya yang masih ada tersisa, dialihkan untuk menambah konsumsi secara keseluruhan (agregat), maka mungkin saja masih ada individu yang tidak semua kebutuhan pokoknya terpenuhi. Justru proporsi sumberdaya yang masih tersisa tersebut banyak dinikmati oleh orang kaya dan berkuasa untuk konsumsi barang mewah dan kurang bermanfaat.

Sementara proporsi sumberdaya yang dialokasikan untuk pemenuhan kebutuhan pokok tidak tercukupi (Chapra, 2002).

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved