Persekusi

Ulama dan Persekusi Mau Diarahkan Kemana

Ulama asal Pekanbaru Riau, lulusan Mesir dan Maroko, Ustadz Abdul Somad (UAS) harus mengalami penolakan masuk Hongkong

Editor: Salman Rasyidin
Ist
Noperman Subhi, SIP, MSi 

Ulama dan Persekusi Mau Diarahkan Kemana

Oleh : Noperman Subhi, SIP, MSi

Guru PPKn diperbantukan di SMA PGRI 5 Palembang dengan jabatan Wakil Kepala Sekolah.

Ulama asal Pekanbaru Riau, lulusan Mesir dan Maroko, Ustadz Abdul Somad (UAS) harus mengalami penolakan masuk Hongkong oleh pihak keamanan Bandara dan memulangkannya secara paksa ke dalam pesawat yang ditumpangi saat datang ke Hongkong.

Sebelum dipulang-paksakan, petugas bandara mengeledah UAS dan mencurigai keterlibatan UAS dalam sebuah ormas.

UAS pun sempat menjelaskan bahwa dirinya tidak ada keterkaitan apapun dengan politik maupun ormas. Penjelasan ini sepertinya tidak meyakinkan petugas bandara sehingga tetap memutuskan UAS harus pulang ke Indonesia.

Sebelumnya, di negeri sendiri, ketika hendak melakukan tabligh di Pulau Dewata Bali, UAS juga mengalami tindakan persekusi yang dilakukan oknum rakyat Bali yang berasal dari Laskar Bali, Garda Nasional Patriotik Indonesia (Ganaspatik), Patriot Garda Nusantara dan Perguruan Silat Sandi Murta.

Padahal tabligh sendiri mempunyai arti gerakan mubaligh yang bertujuan untuk mengajak manusia kembali ke ajaran Islam yang menyeluruh dan kegiatan ini tidak terbatas hanya pada golongan Islam saja, yang bukan Islam pun diajak mengenali Allah SWT.

Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta (Arya Wedakarna), seorang politisi dari Provinsi Bali yang diduga menjadi dalang penolakan UAS untuk melakukan tabligh di Bali mengelak jika dia yang memprovokasi ormas-ormas di Bali untuk menolak UAS.

Dia mengatakan, sebelum membuat pernyataan soal UAS, sudah ada enam organisasi yang lebih dulu menyatakan penolakan. Dia juga mengatakan isu penolakan itu sudah viral di Bali.

Dia menganggap aksi yang dilakukannya di media sosial pada 1-3 Desember 2017 justru untuk meredam kemungkinan potensi konflik dan masalah penolakan UAS ini sudah dilakukan oleh ormas lain sebelum adanya pernyataan yang dia lakukan di laman fanpagenya.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Lukman Edy (PKB) mengatakan penolakan terhadap kedatangan UAS di Bali adalah satu bentuk menuju persekusi dan kekuatan radikal agama bukan hanya di Islam, ada juga di Kristen, Budha, Hindu dan agama lain.

Lukman Edy pun mengatakan, perbedaan agama dan keyakinan seharusnya dijadikan modal bukan masalah.

Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jazuli Juwaini mengatakan, penolakan terhadap UAS yang hendak melakukan tabligh di Bali bukan kali pertama persekusi terhadap ulama dengan tuduhan anti-NKRI dan intoleransi.

Menurut Jazuli Juwaini, kehadiran ulama dengan dakwahnya merupakan pengamalan sila pertama Pancasila dan upaya menegakkan konstitusi negara yang tegas menyatakan Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved