Pergantian tahun Hijriah

Menyambut Tahun baru Hijrah 1439, Tahun Sinar Pembaruan

Tanggal 21 September ini kembali menjambangi kita dengan tibanya tahun baru Hijrah 1439 dan itu berarti sudah setahun pula umur kita berkurang.

Editor: Salman Rasyidin
IST
daud 

Menyambut Tahun baru Hijrah 1439.

Tahun Sinar Pembaruan

Drs. HM Daud Rusjdi AW

Penulis, Da'i Bidtadwin/Pengurus Masjid Al Qodr Panca usaha.

Pawai memeriahkan tahun baru Islam 1437 Hijriah lalu di Muaraenim./Ilustrasi
Pawai memeriahkan tahun baru Islam 1437 Hijriah lalu di Muaraenim./Ilustrasi (SRIPOKU.COM/ARDANI ZUHRI)

Ada yang tidak boleh berkurang untuk mengisi kemerdekaan negeri ini adalah bertambahnya  kesejahteraan seluruh masyarakatnya.

Tahun baru hijrah merupakan tahun sinar pembaruan untuk berpindah dari tidak atau belum ada menjadi ada.

Dari yang belum sempurna menjadi sempurna.

Dari yang belum jelas selama ini menjadi terang.

Dari yang selama ini tidak baik menjadi baik.

Dari yang selama ini keliru harus diperbaiki termasuk niat kita.

Inilah hakikat inti dari tahun baru hijrah masa kini.

Dalam bahasa Arab hijrah berasal dari kata haajara, yuhajiru-hijrotan yang mengandung arti pindah atau meninggalkan.

Seperti halnya Hijrah Rasulullah SAW yang bermakna berpindah dari Kota Mekkah ke Kota Madinah dalam rangka melanjutkan perjuangan menegakkah agama Islam dan menyebarkan da'wah Islamiah ke seluruh jazirah Arab, dan bahkan ke seluruh pelosok dunia.

Namun pengertian hijrah masa kini adalah mengadakan perubahan menuju perbaikan.

Artinya kalau kita memaknai Hijrah yang kita peringati setiap tahun itu, berarti kita sampai saat ini seharusnya kita sudah berubah dalam arti sudah menjadi baik.

Disinilah kita harus meletakkan bagaimana hijrah masa kita memiliki nilai tinggi.

Dalam Islam, hijrah Nabi Muhammad SAW bersama para sahabatnya ke Madinah mempunyai nilai strategi yang sangat menentukan hidup matinya da'wah Islam.

Rasulullah melakukan hijrah ke Madinah bukanlah dikarenakan takut menghadapi orang-orang kafir Quraisy yang ada di Mekah.

Namun semua itu untuk mendapatkan suatu tempat yang aman dan tenang dalam membina masyarakat muslim dan menyusun kekuatan lahir dan batin guna kembali ke Mekah untuk menyerukan da'wah Islam.

Membersihkan Masjidil Haram serta Ka'bah dari patung-patung dan berhala yang berada disana.

Dari sini pula kita dapat mengetahui bahwa hijrah yang dimaksudkan itu yang bermotivasikan dengan jihat fii sabilillah, yakni berjuang di jalan Allah.

Tidak ada hijrah tanpa jihat sedangkan jihat itu haruslah ditunjang dengan hijrah.

Hijrah itu sendiri beserta jihatnya tidak mungkin dilaksanakan tanpa iman kepada Allah dan rasul-Nya.
Hijrah Masa Kini.

Apabila menelusuri sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits : "bahwasanya amal itu dengan niat dan bagi setiap orang hanyalah apa yang diniatkannya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rosulullah, maka hijrahnya untuk Allah dan Rosul-Nya.Barang siapa niatnya kepada dunia yang ia peroleh atau kepada wanita yang ia nikahi, maka hijrahnya kepada sesuatu yang ia hijrahi".

Pengertian hadits ini memberi makna, bahwa hijrah itu mempunyai makna yang bermacam-macam.

Oleh sebab itu hijrah di era sekarang ini, adalah hijrahnya kaum muslimin dari perbuatan-perbuatan yang dibenci atau dimurkai Allah SWT.

Artinya hijrah dengan maksud untuk melayani dan mempelajari agama Allah, meninggikan kalimah-Nya dan menyiarkan agama-Nya, maka hijrah yang demikianlah yang mempunyai nilai pahala yang agung di sisi Allah SWT.

Hadits ini juga mengandung arti bahwa, nilai amal perbuatan seseorang, bukan dinilai dari segi luarnya saja, tetapi niat yang menggerakkan perbuatan itulah yang mempunyai pengaruh dalam menentukan nilai amal tersebut.

Di samping itu juga untuk memberikan dorongan agar ikhlas dalam beramal karena semata-mata karena Allah, meskipun harus berpisah dengan tanah air, keluarga dan harta benda.

Makna hijrah bila dikaitkan dengan perkembangan kemajuan di berbagai bidang kehidupan di negeri kita saat ini sungguh sangat tepat.

Karena pemgertian perkembangan di sini adalah perubahan.

Contohnya bila di era tahun lima puluhan, untuk menyeberangi sungai Musi dengan kapal roda lambung atau dengan perahu jukung.

Sekarang untuk menyeberang sudah tersedia beberapa rentang jembatan seperti Jembatan Ampera, Musi 2, Musi 6 dan akan menyusul jembatan lainnya.

Demikian juga berbagai rentang jalan baru dibangun termasuk jalan-jalan TOL untuk mengurai kemacetan.

Belum puas dengan itu, untuk memperlancar dan mempercepat sampai tujuan dibangun pula LRT.

Dengan banyaknya dibangun jalan-jalan, maka tidak ada lagi daerah yang tidak dapat dijangkau oleh kendaraan, minimal sepeda motor.

Begitu puga di bidang ekonomi, sekarang telah dibangun perekonomian rakyat, sehingga kesejahteraan rakyat semakin meningkat.

Di bidang teknologi dan industri, telah pula dibangun berbagai industri yang berteknologi tinggi, dan berbagai kemajuan lainnya yang kesemuanya berawal dari makna hijrah yaitu perubahan.

Begitu tingginya nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwa hijrah ini.

Salah satu ayat yang menunjukkan begitu tingginya nilai hijrah, adalah dalam Surat At Taubah ; "orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihat di jalan Allah dengan harta dan be-
nda termasuk diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang yang mendapat kemenangan".

Oleh sebab itu walaupun kita hidup sudah ribuan tahun sesudah hijrah, namun kita wajib untuk mengambil nilainya hijrah itu, karena kita juga memiliki kesempatan untuk mengikuti jejak hijrah Rosulullah untuk meningkatkan amal perbuatan kita.

Sesuai dengan Sabda Rasulullah : "orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah”". Sebagai contoh bagi para pejabat dan elit kita segera membubarkan jamaahnya yang selama ini menggerogoti uang negara dan masing-masing meninggalkan ke biasaan itu.

Sebagai seorang muslim peristiwa hijrah merupakan sebuah petunjuk dan isyarat secara jelas bahwa orang yang sudah menyatakan beriman kepada Allah haruslah secara tegas sanggup merubah secara total segala sikap dan tindakan yang tidak sesuai dengan syari’at Islam secara murni dan konsekuen.

Rasa keimanan bukan hanya diucapkan dibibir semata, melainkan harus dibuktikan dengan amal  perbuatan nyata, dan bukan iman yang hanya berupa khayalan saja, sebagaimana sebuah hadits Rosulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah : "Iman adalah kepercayaan di dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan amal perbuatan".

Dengan melestarikan peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW, maka diharapkan setiap umat muslim dapat mengenang kembali nilai utama dalam peristiwa histories itu.

Dengan akan tibanya tahun baru Hijrah yang selalu diperingati setiap tahun dan oleh Pemerintah kita sebagai hari libur yang tinggal beberapa hari lagi ini, mari kita membuat ancang-ancang, bersiap-siap untuk meningkatkan hijrah kita dari larangan-larangan Allah, menuju kepada apa yang diperintahkan Allah.

Mari kita berhijrah dari larangan Allah taat menuju apa yang diperintahkan Allah, dari kebohongan kepada kejujuran, dari keangkuhan kepada kesantunan, dari kesombongan kepada kearifan, dari kebencian kepada kesayangan, dari kerahasia-rahasiaan kepada keterbukaan, dari kekikiran, pelit dan cedit menjadi senang membantu.

Banyak lagi hijrah yang perlu kita laksanakan.

Tujuan akhir tidak lain agar pada tahun ke depan ini, kita tempuh dengan lebih banyak meninggalkan larangan Allah dari tahun sebelumnya.

Dengan demikian kita akan menjadi orang yang beruntung, agar kita tidak menjadi sebaliknya sebagaimana yang digambarkan seorang ulama,"Barangsiapa harinya seperti kemarin, maka ia menjadi orang yang tertipu, barang siapa harinya lebih buruk dari hari kemarin, maka ia orang yang terkutuk".

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved