Menyukseskan Asian Games 2018, Strategi Palembang untuk Hard dan Soft Crimes
Menjelang ASIAN games 2018, berbagai macam persoalan di Sumsel hendaknya dapat dioptimalkan penanganannya.
STRATEGI PALEMBANG UNTUK HARD DAN SOFT CRIMES
Sumbangsih Kota dalam menyukseskan Asian Games 2018
Oleh: Ahmad Usmarwi Kaffah, SH., LL.M
Penulis adalah Paralegal Lawyer di London dan Ketua Departemen Pengabdian Masyarakat Masika ICMI Republik Indonesia. Alumni FH UNSRI
Menjelang ASIAN games 2018, berbagai macam persoalan di Sumsel hendaknya dapat dioptimalkan penanganannya.
Salah satu aspek krusial dalam menyambut tamu asing nanti adalah keamanan.
Hal ini bukan cuma menjadi penentu kenyamanan dalam berwisata, tapi juga sekaligus mengatasi persoalan klasik yang telah lama hidup di alam demokrasi saat ini.
Bukan rahasia umum lagi semenjak masa reformasi dan bergulirnya era kebebasan dalam demokrasi, proliferasi kejahatan premanisme menjadi semakin kronis.
Macam-macam bentuknya ada yang soft (kejahatan tidak langsung) dan ada pula yang hard (kejahatan langsung).
Untuk yang soft sebagai contoh parkir-parkir liar yang meresahkan warga. Yang hard lebih parah lagi seperti begal dan pemalakan.
Tiap minggu bahkan tiap hari banyak berita miris tentang hal-hal itu.
Dunia pun dapat membaca dengan jelas tanda-tanda "keangkeran" Palembang dan daerah lain di Indonesia secara online.
Bahkan berita tentang kejamnya juru parkirpun yang serupa dengan pemalakan terus menghiasi sosial media.
Salah satu contoh juru parkir di banteng kuto besak, yang semenjak dibubarkan Walikota Palembang aktivitas liarnya, menjelma menjadi pengamen yang memeras pengunjung dengan ancaman.
Kasus-kasus seperti itu akan sangat dianggap serius jika terjadi di negara-negara adi kuasa maupun negara Islam di Timur Tengah.
Mengapa? Karena kejahatan-kejahatan tersebut sangat melanggar hak asasi satu-sama lain, bahkan menciptakan ketidaktentraman dalam bermasyarakat.
