Suta Nusantara Sumsel Jadi Pilot Projec, Pengembangan Warung Suta dan Bank Saku

Setelah pembukaan musyawarah KUP, kegiatan dilanjutkan diskusi dan musyawarah.

Tayang:
Penulis: Abdul Hafiz | Editor: Darwin Sepriansyah
SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Ketua Bakorwil Suta Nusantara Sumsel Arie Wijaya SSTP MSi menunjukkan produknya pada Musyawarah KUP Suta Nusantara Sumsel Sumsel di Hotel Imara Palembang, Senin (18/12/2016). 

Sedangkan untuk bank saku yang sebenarnya koperasi. Dengan sebutan bank saku, supaya menghilangkan kesan negatif koperasi selama ini.

Bank saku ini menurutnya merupakan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang diharapkan dapat menjadi wadah bagi komunitas untuk mengembangkan sektor keuangan mikro sebagai modal pengembangan usaha.

Bank Saku menjadi wadah bagi penyimpanan dana komunitas sekaligus menjadi lembaga pembiayaan kegiatan Suta Nusantara Sumsel yang terukur dan termonitor secara baik. Bank Saku pada tahap awal akan didirikan di 2 Kelurahan yaitu Kelurahan 2 Ilir dan Kelurahan Bukit Sangkal. Selanjutnya akan dibentuk sesuai dengan perkembangan usaha Suta Nusantara Sumsel terutama budidaya bawang merah dan lele.

Bank Saku akan dikolaborasikan dengan sistem M-Suta (Mobile – Suta) yang telah diresmikan penggunaannya pada Desember 2015 tadi. M-Suta sendiri adalah aplikasi berbasis Android yang berfungsi sebagai Mobile Banking bagi seluruh anggota Suta Nusantara se-Indonesia.

Selain itu pengembangan usaha yang dilakukan selama ini di kota Palembang di Kecamatan Kalidoni, IT II dan Sukarami.

"Di sana kita kembangkan budidaya ikan lele, hidroponik, sayuran dalam poliback, jamur tiram, bawang merah dalam poliback itu lagi fokus, walaupun anggota kita banyak mengembangkan ayam potong dalam standar rumah tangga, bebek packing. Kalau pendapatan perbuatan anggota yang tergabung dalam kegiatan ini sudah lumayan bagus setiap bulannya," paparnya.

Sedangkan Ketua Umum pimpinan pusat KUP Suta Nusantara, Dadung Hari Setyo mengatakan kalau secara komunitas Suta Nusantara sudah selesai dengan 48 lebih jenis tanaman pernah ditanam dan beberapa puluh usaha yang telah dijalankan dan kini saatnya diidentifikasi kembali, diukur kesuksesannya dan ini akan menjdi konsep yang strategis.

“Di dalam konsep itu ada pelakunya, pelakunya selama ini menjalankan usaha itu, itu kita rangkum sebagai program dan usaha Suta, tentunya kita melakukan pelatihan-pelatihan untuk mengembangkan program dan usaha itu ke seluruh daerah, jadi konsepnya sudah ada, pelakunya sudah ada, tinggal masyarakat kita traning lebih mengenal program dam usaha,” katanya.

Pihaknya ingin April 2017 ingin melaunching kerangka program dan usaha dari 48 tanaman tadi diharapkan tahun 2017 ada perluasan dan pengembangan targetnya di 9 provinsi yaitu Sulsel, Lampung , Banten, Jabar, Yogya, Jateng, Jatim, NTB dan Bengkulu dan persiapan di Sumbar, Riau , Sumut, Aceh, Sultra, Sulteng, Gorontalo dan Papua Barat dan Papua.

“Untuk masalah ketahanan pangan dan kedaulatan padi Sumsel bisa menyukupi dirinya sendiri dan bisa membantu provinsi yang lain dan sudah tidak wajar jika di Sumsel ini masih menerima beras impor. Sumsel ini saya lihat sudah cukup mandiri untuk pangan tinggal perlu di identifikasi dan analisa tata letak argobisnisnya harus tegas seperti wilayah kopi, dimana wilayah lain dimana dan ada yang mengatur melalui regulasi pemerintah daerah , jangan seperti ayam kehilangan induknya, kasihan petaninya, “ katanya.

Apalagi secara geografis dan nasional Sumsel menjadi sentra pangan untuk wilayah Sumatera dan beras Sumsel bisa masuk ke Kalimantan Barat yang sedang kekurangan beras.

“Harus seperti itu, kalau perlu Sumsel membangun kantor perdagangan seperti Pemprov Sumsel dan Suta membuat kerjasama bagaimana Sumsel ada kantor dagang provinsi-provinsi lain dan di luar. Kalau nggak seperti katak dalam tempurung,” ujarnya. (*)

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved