Suta Nusantara Sumsel Jadi Pilot Projec, Pengembangan Warung Suta dan Bank Saku
Setelah pembukaan musyawarah KUP, kegiatan dilanjutkan diskusi dan musyawarah.
Penulis: Abdul Hafiz | Editor: Darwin Sepriansyah
SRIPOKU.COM, PALEMBANG --- Ketua Bakorwil Suta Nusantara Sumsel Arie Wijaya, S.STP, M.Si mengatakan Komunitas Usaha Pertanian (KUP) Sentra Usaha Tani dan Agribisnis (Suta Nusantara) Provinsi Sumsel telah membuat program Warung Suta dan Bank Saku dimana pilot projecnya dilakukan oleh Sumsel.
“Ini bottom up dari bawah ke atas, setelah ini berjalan maka kawan-kawan dari provinsi lain akan ikut,” ungkap Arie pada Musyawarah KUP Suta Nusantara Sumsel Sumsel yang bertemakan Membangun Ekonomi Kerakyatan Berbasis Pemberdayaan Masyarakat di Hotel Imara Palembang, Senin (19/12/2016).
Setelah pembukaan musyawarah KUP, kegiatan dilanjutkan diskusi dan musyawarah.
“Kita ada konsep seperti ini sekarang kita ingin denger apa masukan dari kawan-kawan lain. Kira-kira dari konsep ini mereka ada ide seperti ini disamping pengenalan juga. Kita tidak menutup kemungkinan ada investor ingin masuk seperti warung suta, dengan warung suta ini setiap saat bisa dipantau kaitan hal mengenai hal berkaitan bisnis ini,” ujarnya.
Ia berharap kalangan media di Sumsel juga bisa memberitahu kepada masyarakat, mengenai dua program seperti ini.
“Program ini sudah enam bulan yang lalu disiapkan dan tinggal bersama-sama mereka yang ada kelebihan harta atau pemikiran sama-sama bergabung. Apalagi kalau ada investor yang bisa bergabung dalam program ini,” katanya.
Apalagi dua program ini yaitu Warung Suta dan Bank Saku menurutnya mulai dijalankan penuh awal Januari 2017 dimana infrastruktur sudah ada semua.
“Memang kami selama ini menahan-nahan dulu, pertama kami mau lihat momen dan kedua kita lihat kekuatan kita, kalau bank saku jelas tidak banyak mengeluarkan modal. Untuk warung suta kita ada satu level yang memang perlu dana besar kalau tidak kita repot, itu tadi stokis barang, kita ingin ini dipercepat,” katanya.
Diakuinya apa yang dilaksanakan pihaknya selama ini masih berfokus kepada urban farming atau tani kota seperti budidaya ikan lele turunannya, pakannya sampai abon yang dibuat , kripik ikan lele, hidroponik, sayur-sayuran dalam poliback, budaya ikan air tawar, jamur tiram dan sebagainya.
“Ini yang sudah kita berikan pelatihan kemudian perlahan-perlahan kita terapkan dan yang ingin kami lakukan kedepan yang kami sebut percepatan adalah program kita untuk warung suta dan bank saku, prinsipnya menyuruh orang lain untuk membuat usaha. Itu harus mempersiapkan pasar, jadi warung Suta ini pasar, komunitas suta ini ada produk kemudian kita siapkan pasar, pasarnya ini akan kita ciptakan sendiri dengan nama warung suta,” bebernya.
Untuk warung Suta konsepnya tetap seperti warung kampung yang sudah ada atau yang dibuat baru, yang dilengkapi dengan aplikasi-aplikasi modern dengan berbagai program seperti bank sampah, bank jelantah sehingga warung ini bisa mandiri dan bisa bersaing menghadapi warung-warung ritel modern yang ada.
Warung Suta sendiri juga menyediakan kebutuhan rumah tangga selayaknya warung, tapi masyarakat boleh membayar dengan sampah terutama plastik, besi, alumunium dan tembaga, atau bisa menabungkan sampahnya di Warung Suta. Tabungan Sampah ini bisa terintegrasi dengan sistem M-Suta di HP Android dan dapat dipergunakan layaknya rekening Bank (M-Banking).
Warung Suta juga menerima minyak jelantah bekas (yang tentu saja sudah menjadi racun bagi tubuh) dengan harga kompetitif untuk diolah menjadi biosolar.
Warung Suta menurutnya bisa juga menjadi Paymen Point, loket pembayaran dan pembelian berbagai keperluan seperti token listrik, pulsa, Bayar PBJS, leasing, tiket, bahkan transfer Bank. Dan kami menggunakan sistem M-SUTA (M-Banking-nya Suta Nusantara).
“Semua fasilitas tersebut terintegrasi dengan sistem Android di HP,” katanya.
Sedangkan untuk bank saku yang sebenarnya koperasi. Dengan sebutan bank saku, supaya menghilangkan kesan negatif koperasi selama ini.
Bank saku ini menurutnya merupakan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang diharapkan dapat menjadi wadah bagi komunitas untuk mengembangkan sektor keuangan mikro sebagai modal pengembangan usaha.
Bank Saku menjadi wadah bagi penyimpanan dana komunitas sekaligus menjadi lembaga pembiayaan kegiatan Suta Nusantara Sumsel yang terukur dan termonitor secara baik. Bank Saku pada tahap awal akan didirikan di 2 Kelurahan yaitu Kelurahan 2 Ilir dan Kelurahan Bukit Sangkal. Selanjutnya akan dibentuk sesuai dengan perkembangan usaha Suta Nusantara Sumsel terutama budidaya bawang merah dan lele.
Bank Saku akan dikolaborasikan dengan sistem M-Suta (Mobile – Suta) yang telah diresmikan penggunaannya pada Desember 2015 tadi. M-Suta sendiri adalah aplikasi berbasis Android yang berfungsi sebagai Mobile Banking bagi seluruh anggota Suta Nusantara se-Indonesia.
Selain itu pengembangan usaha yang dilakukan selama ini di kota Palembang di Kecamatan Kalidoni, IT II dan Sukarami.
"Di sana kita kembangkan budidaya ikan lele, hidroponik, sayuran dalam poliback, jamur tiram, bawang merah dalam poliback itu lagi fokus, walaupun anggota kita banyak mengembangkan ayam potong dalam standar rumah tangga, bebek packing. Kalau pendapatan perbuatan anggota yang tergabung dalam kegiatan ini sudah lumayan bagus setiap bulannya," paparnya.
Sedangkan Ketua Umum pimpinan pusat KUP Suta Nusantara, Dadung Hari Setyo mengatakan kalau secara komunitas Suta Nusantara sudah selesai dengan 48 lebih jenis tanaman pernah ditanam dan beberapa puluh usaha yang telah dijalankan dan kini saatnya diidentifikasi kembali, diukur kesuksesannya dan ini akan menjdi konsep yang strategis.
“Di dalam konsep itu ada pelakunya, pelakunya selama ini menjalankan usaha itu, itu kita rangkum sebagai program dan usaha Suta, tentunya kita melakukan pelatihan-pelatihan untuk mengembangkan program dan usaha itu ke seluruh daerah, jadi konsepnya sudah ada, pelakunya sudah ada, tinggal masyarakat kita traning lebih mengenal program dam usaha,” katanya.
Pihaknya ingin April 2017 ingin melaunching kerangka program dan usaha dari 48 tanaman tadi diharapkan tahun 2017 ada perluasan dan pengembangan targetnya di 9 provinsi yaitu Sulsel, Lampung , Banten, Jabar, Yogya, Jateng, Jatim, NTB dan Bengkulu dan persiapan di Sumbar, Riau , Sumut, Aceh, Sultra, Sulteng, Gorontalo dan Papua Barat dan Papua.
“Untuk masalah ketahanan pangan dan kedaulatan padi Sumsel bisa menyukupi dirinya sendiri dan bisa membantu provinsi yang lain dan sudah tidak wajar jika di Sumsel ini masih menerima beras impor. Sumsel ini saya lihat sudah cukup mandiri untuk pangan tinggal perlu di identifikasi dan analisa tata letak argobisnisnya harus tegas seperti wilayah kopi, dimana wilayah lain dimana dan ada yang mengatur melalui regulasi pemerintah daerah , jangan seperti ayam kehilangan induknya, kasihan petaninya, “ katanya.
Apalagi secara geografis dan nasional Sumsel menjadi sentra pangan untuk wilayah Sumatera dan beras Sumsel bisa masuk ke Kalimantan Barat yang sedang kekurangan beras.
“Harus seperti itu, kalau perlu Sumsel membangun kantor perdagangan seperti Pemprov Sumsel dan Suta membuat kerjasama bagaimana Sumsel ada kantor dagang provinsi-provinsi lain dan di luar. Kalau nggak seperti katak dalam tempurung,” ujarnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/ketua-bakorwil-suta-nusantara-sumsel-arie-wijaya-sstp-msi_20161219_180030.jpg)