Kenapa Siswa Masih Les Tambahan? Antara Trend dan Kebutuhan

Tidak sedikit orangtua merasa lega dan terbantukan dengan menyerahkan pendampingan belajar tambahan dengan anak yang diikutkan les tambahan.

Penulis: Abdul Hafiz | Editor: Ahmad Sadam Husen
Kenapa Siswa Masih Les Tambahan? Antara Trend dan Kebutuhan - sdit-auladi_20161008_075638.jpg
SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Para siswa kelas VI SDIT Auladi SU2 saat mengikuti les tambahan di sekolah.
Kenapa Siswa Masih Les Tambahan? Antara Trend dan Kebutuhan - sdit-auladi_20161008_075204.jpg
SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Para siswa kelas VI SDIT Auladi SU2, saat mengikuti les tambahan di sekolah.

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Masih perlunya anak-anak sekolah mengikuti les tambahan di luar jam sekolah dirasakan antara trend dan kebutuhan.

Pasalnya ada siswa yang tidak ikut les tambahan, namun tetap mampu meraih prestasi akademik.

Tidak sedikit orangtua merasa lega dan terbantukan dengan menyerahkan pendampingan belajar tambahan dengan anak yang diikutkan les tambahan.

Ketua Yayasan SIT Auladi Palembang, Ridhwan Ya'qub mengaku, sebenarnya siswa itu sudah lebih dari cukup mendapatkan materi pembelajran yang diberikan oleh guru-guru di SDIT Auladi.

"Pertanyaannya kan kenapa pakai les tambahan? Kita mencoba memahami jalan pikiran orangtua. Bimbel itu satu sisi kebutuhan, sisi lain 'trend'. Kalau tidak ikut les tidak lega. Padahal kita mengajar dari kelas 1 sampai kelas 6 itu enam tahun, sementara les tambahan efektif 7 bulan. Ini berangkat dari tuntutan orangtua. Pihak sekolah berinisiatif memberi jalan tengah dengan cara memfasilitasi anak yang ikut Bimbel dengan cara diorganisir lalu dilaksanakan di internal Auladi yang bekerjasama dengan lembaga profesional. Waktunya yaitu Jumat jam 13.30-15.00 danSabtu jam 08.00-10.00," ungkap Ridhwan Ya'qub yang diwawancarai Sripo, Jumat (7/10/2016).

Menurutnya, dua kepentingan di sini sudah terakomodir. Orangtua membutuhkan hal tersebut dan pihak sekolah berkewajiban mengawal anak semaksimal mungkin. Ada kekhawatiran jika belajar di luar siswa tidak terkontrol pengawasan dan pergaulannya.,

"Anak SD rentan sangat butuh perhatian di rumah. Kalau di sekolah tanggungjawab yang diberikan bisa penuh. Tapi kalau di luar rasanya sulit," katanya.

Memang faktanya, soal-soal yang akan dihadapi di UN (Ujian Nasional) membutuhkan pengayakan dan pendalaman secara menyeluruh. Hal ini membuat penambahan les tambahan terasa dibutuhkan.

Auladi sendiri adalah sekolah yang memang selain ingin memberikan perhatian yang optimal, juga punya sense kekhawatiran jika siswa mengalami kurnag pengawasan.

Auladi bertekad konsen untuk mengawal dan menjaga anak dari infilltrasi nilai yang merusak moral dan mental serta akhlak anak.

"Kita berharap prinsip perhatian, pengawasan dan kepedulian peserta didik ini dilakukan oleh seluruh pihak di lembaga pendidikan di semua jenjang. Itu karena masa depan negara ini ada di pundak mereka," pungkasnya.

Zaki Mubarok, Kepsek SDIT Auladi SU2 Palembang menambahkan, adapun tujuan diadakannya les tambahan di sekolah yakni pihak sekolah ingin memaksimalkan potensi anak.

"Bagi anak, secara psikologis ingin orang lain yang mengajar. Anak juga ingin enjoy. Karena guru les tambahan fokus di 3 mata pelajaran.Hal ini justru mengurangi beban orangtua. Orangtua dapat lebih efisien antar jemputnya. ," katanya.

Adanya les tambahan di luar jam sekolah ternyata mendapat beragam komentar dari wali murid yang mengikutsertakan anaknya les tambahan di sekolah.

Zakia, orangtua salah seorang murid, Nyayu Lutfiah Akiyueela kelas VI SDIT Auladi SU2 Palembang contohnya. Ia mengaku mengikutkan putrinya les di sekolah sejak mulai masuk kelas VI.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved