Breaking News:

KASUS SUAP DPRD MUBA

Selama Rawat Inap, Lucy Habiskan Tiga Botol Infus

Sepanjang menjalani persidangan, Lucy tetap dipantau dua perawat khusus yang duduk di kursi pengunjung.

Penulis: Welly Hadinata | Editor: Soegeng Haryadi
SRIPOKU.COM/WELLY HADINATA
Pahri-Lucy, dua terdakwa kasus suap Muba yang duduk berdampingan saat menjalani sidang lanjutan agenda pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Tipikor PN Klas IA Palembang, Kamis (7/4/2016). 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Kondisi sakit terhitung dua hari terakhir menjalani rawat inap, Lucianty Pahri tetap dihadirkan untuk menjalani sidang lanjutan atas perkara kasus suap Muba di Pengadilan Tipikor Pengadilan Negeri (PN) Klas IA Palembang, Kamis (7/4/2016).

Turun dari mobil ambulans RSI Siti Khodijah Palembang, tampak kondisi Lucy sakit dengan menggunakan kursi roda dan tangan sebelah kanannya diinfus. Memasuki ruang sidang, Lucy didampingi dua perawat yang selalu siaga menjaga Lucy. Sementara sang suami Bupati Muba non aktif Pahri Azhari, setia mengiringi dari belakang untuk memasuki ruang sidang.

"Sejak Selasa bu Lucy masuk rumah sakit dan langsung rawat inap. Bu Lucy mengalami sakit jantung dan hipertensi. Selama dirawat inap, bu Lucy sudah habiskan tiga botol infus," ujar Rudi Alfonso, penasehat hukum Pahri-Lucy.

Sepanjang menjalani persidangan, Lucy tetap dipantau dua perawat khusus yang duduk di kursi pengunjung. Pada sisi kanan Lucy, tersedia satu tabung oksigen untuk berjaga-jaga atas kondisi kesehatan Lucy. Sedangkan Pahri sembari memberikan keterangannya, sesekali Pahri melirik istrinya untuk tetap terjaga dan semangat memberikan keterangan dalam persidangan. Bahkan Pahri sempat membukakan penutup botol air mineral untuk diminum Lucy, lantaran tangan Lucy masih terlilit selang infus.

Pahri-Lucy memberikan keterangannya sebagai terdakwa atas perkara kasus suap kasus suap pengesahan R-APBD Kabupaten Muba 2015 dan LKPJ kepala daerah 2014.
Keterangan Pahri kepada majelis hakim tetap berpendirian sama seperti sebelumnya yang membantah telah memberikan perintah suap. Bahkan Pahri mengaku panik adanya rencana anggota dewan untuk mengeluarkan hak interplasi dan dalam benaknya juga terbesit ada pemakzulan dari jabatannya sebagai bupati.

Sementara Lucy yang ditanyai mengapa ikut terlibat dalam pengumpulan uang untuk diberikan kepada anggota dewa, Lucy yang tampak lemas mengaku tidak tahu bahwa uang yang dibutuhkan Fei untuk diberikan kepada anggota dewan. "Saya merasa kasihan dengan suami saya. Karena saat itu saya takut suami saya didemo masyarakat, karena gaji honorer dan TKS belum dibayar. Saya sebagai istri hanya ingin membantu saja. Saya tahunya itu utang (pinjaman Fei)," ujar Lucy yang tampak sedikit menahan tangisnya.

Pada sidang dakwaan sebelumnya, terdakwa Pahri-Lucy didakwa JPU KPK dengan pasal 5 ayat 1 huruf a dan huruf b atau pasal 13 UU RI Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU RI nomor 20 tahun 2001 tentang tindak pidana korupsi. Diketahui sesuai pasal dakwaan JPU KPK, terdakwa Pahri-Lucy dinacam dengan hukuman pidana kurungan penjara maksimal lima tahun.

Seperti diketahui, Pahri-Lucy merupakan tersangka kasus suap pengesahan R-APBD Kabupaten Muba 2015 dan LKPJ kepala daerah 2014. Penyidik KPK menetapkan sebagai tersangka pasca tim KPK melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) di kediaman anggota DPRD Muba, Bambang Karyanto, di Jalan Sanjaya Palembang, 19 Juni 2015 lalu.‬‬

‪‪Dalam OTT tersebut, KPK mengamankan uang sebesar Rp 2,56 miliar di dalam tas besar merah maron serta empat orang tersangka yaitu Bambang Karyanto, Adam Munandar (keduanya anggota DPRD Muba), Syamsudin Fei Kepala DPPKAD, dan Faysar Kepala Bappeda. Bahkan keempat tersangka yang tertangkap OTT, telah menjalani masa hukuman di Rutan Pakjo Palembang setelah menjalani sidang di Pengadilan Tipikor Pengadilan Negeri Palembang.(

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved