Gerhana Matahari Total 2016

Unik, Gunakan Kaca Hitam Las Hingga Baskom Berisi Air Untuk Lihat Gerhana

Karena tak punya kacamata maka mereka gunakan cara tradisional.

Unik, Gunakan Kaca Hitam Las Hingga Baskom Berisi Air Untuk Lihat Gerhana
SRIPOKU.COM/RAHMALIYAH
Tampak warga berkerumun menyaksikan GMT melalui baskom berisi air

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Beragam cara dilakukan warga Kota Palembang agar bisa menyaksikan fenomena Gerhana Matahari Total (GMT). Ada yang menggunakan kacamata matahari, namun ada pula yang menggunakan kaca hitam las hingga tradisi melihat gerhana harus dari baskom yang berisi air.

Hal inilah yang terlihat di kawasan Kampung Arab Al-Munawar 13 Ulu Palembang, Rabu (9/3/2016). Usai melaksanakan salat gerhana, menjelang detik-detik proses langit berubah menjadi gelap, sejumlah warga telah menyiapkan dua baskom berisi air yang kemudian diletakan ditengah lapangan terbuka sebagai sarana untuk melihat GMT.

Nurul, salah seorang warga yang juga turut mempersiapkan baskom berisi air mengatakan, karena tak punya kacamata maka mereka gunakan cara tradisional.

"Dulu ada mitos bila melihat langsung gerhana matahari akan terjadi buta. Sehingga ada tradisi untuk melihat gerhana harus menggunakan pantulan lewat air dalam baskom atau ember," tuturnya.

Anak-anak pun yang penasaran bagaimana cara melihat gerhana dari pantulan air, tampak berduyun-duyun berkerumun menjadi lingkaran kecil.

Iqbal, bocah berusia 8 tahun ini mengaku baru pertama kali melihat proses melihat gerhana melalui baskom berisi air. "Baru inilah yuk, kato ibuk itu tadi ado iwak tempalonyo gek," celotehnya.

Memang sejak dulu, ada beragam tradisi yang kerap kali dilakukan masyarakat agar bisa menyaksikan gerhana. Namun, karena takut terjadi kebutaan jika melihat langsung, maka jaman dahulu tradisi melihat gerhana dari baskom berisi air lah yang menjadi pilihan.

Anak-anak lihat GMT

Tampak anak-anak yang melihat matahari menggunakan kaca hitam las. (SRIPOKU.COM/RAHMALIYAH)

Sementara itu, tokoh masyarakat Kampung Arab Al-Munawar, Abdurahman Al-Munawar mengatakan, tradisi lihat gerhana dari pantulan air bukan tradisi dari warga Kampung Al-Munawar.

"Kalau bicara apakah itu tradisi kampung kita atau bukan, jawabnya bukan. Kita ga ada tradisi seperti itu, tadi ada warga sekitar yang melakukannya. Yang terpenting fenomena ini harus dijadikan sebagai acuan untuk semakin bersyukur dan mendekatkan diri pada Allah SWT," ungkapnya.

Tak hanya, menggunakan baskom berisi air, tampak pula anak-anak yang menggunakan kaca hitam las, aulektro untuk melihat GMT. Kaca hitam las ini, menjelang GMT kemarin laris manis dibeli. Pedagang menjualnya dengan harga Rp 10 ribu per buah.

Penulis: Rahmaliyah
Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved