Pedagang Daging Sapi di OKU Selatan Tenang tenang Saja

Menurut pedagang, daging sapi yang mereka jual merupakan daging sapi lokal yang didatangkan dari sejumlah peternak di kawasan OKU Selatan.

Penulis: Setia Budi | Editor: Soegeng Haryadi
DOK.SRIPOKU.COM/LENI JUWITA
Ilustras. 

SRIPOKU.COM, MUARADUA -- Sejumlah pedagang daging sapi diberbagai daerah di Indonesi banyak sepakat melakukan aksi mogok berdagang selama empat hari, yakni sejak tanggak 9 hingga 12 Agustus 2015.

Hal tersebut merupakan bentuk aksi protes terhadap pemerintah akibat harga daging sapi impor yang terus mengalami kenaikan.

Namun kondisi ini tidak mempengaruhi penjualan daging sapi di sejumlah pedagang di pasar tradisional di OKU Selatan.

Menurut para pedagang, daging sapi yang mereka jual merupakan daging sapi lokal yang didatangkan dari sejumlah peternak di kawasan OKU Selatan dan kabupaten tetangga.

"Kita (pedagang) di OKU Selatan masih normal - normal saja dalam penjualan daging. Meskipun banyak daerah - daerah lain melakukan aksi mogok selama 4 hari lantaran harga daging Impor yang terus melambung," kata Abas (45) salah seorang penjual daging di pasar tradisional Saka Selabung. Rabu (12/8/2015).

Dijelaskan, daging yang dijual sejumlah pedagang di OKU Selatan sejauh ini masih merupakan daging hewan sapi lokal. Mereka belum bergantung kepada daging sapi impor seperti di daerah - daerah lain.

"Mungkin kalau kita bergantung kepada daging sapi impor, tentu kita akan melakukan hal yang sama. Penjualan pun akan terganggu," katanya.

Pedagang daging sapi lainnya, Yanti juga menuturkan hal sama jika sapi yang dijual di pedagang saat ini merupakan daging sapi lokal.

Dalam satu kilogram daging sapi lokal, saat ini dia jual kisaran Rp 120 000 - Rp 125 000.

"Dari dulu kita (pedagang) tidak bergantung ke penjualan daging sapi impor. Penjualan pun beberapa hari terakhir masih dalam keadaan normal saja," katanya.

Dia mengakui, jika harga daging sapi saat ini memang tinggi dibandingkan beberapa bulan lalu yang harganya dikisaran Rp 95.000 - Rp 110.000 perkilogramnya.

Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved