Festival Sriwijaya ke-23, Pawai Budaya Hingga Video Mapping

Belasan kegiatan memeriahkan acara yang dimulai malam nanti hingga pertengahan bulan Juni nanti, salah satunya adalah Pawai Budaya.

Penulis: Deryardli | Editor: Soegeng Haryadi
SRIPOKU.COM/SYAHRUL HIDAYAT
Para penari dari berbagai sanggar tari mengikuti latihan tari kolosal untuk persiapan pembukaan Festival Sriwijaya di Pendopo Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS) Karanganyar, Rabu (10/6/2015). Tari kolosal Sriwijaya Gemilang ini didukung 100 penari dan 50 penabuh gendang. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -– Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel kembali menggelar Festival Sriwijaya ke-23 tahun 2015. Kegiatan yang dimulai 11-14 Mei di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS) Karang Anyar Palembang, menampilkan ragam khas Sumsel sebagai provinsi yang memiliki jenis budaya mulai dari tarian, seni, pakaian, kuliner hingga masyarakatnya lewat pawai budaya.

Belasan kegiatan memeriahkan acara yang dimulai malam nanti hingga pertengahan bulan Juni nanti, salah satunya adalah Pawai Budaya.

Asisten III Gubernur bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Akhmad Najib mengatakan, pihaknya melibatkan 17 kabupaten dan kota se-Sumsel pada parade nanti.

“Bakal ada 2.500 peserta dari seluruh daerah se-Sumsel yang memeriahkan Pawai Budaya. Karena bentuknya pawai, memang ada rencana untuk menutup jalan di Benteng Kuto Besak (BKB),” ujar Najib yang juga Ketua Panitia Festival Sriwijaya ke-23.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumsel, Irene Camelyn Sinaga menjelaskan, pihaknya juga menyuguhkan Video Mapping, sebuah tehnik menggunakan pencahayaan dan proyeksi dengan campuran tehnologi untuk menciptakan ilusi optik pada obyek bangunan.

“Video Mapping adalah hal yang baru, dan menurut kami cukup bagus bila digunakan saat Festival Sriwijaya. Video Mapping akan ditampilkan animasi berbentuk video yang diproyeksikan ke dinding bangunan TPKS,” terangnya.

Video Mapping pernah ditampilkan saat Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, menampilkan cerita sejarah kepala negara peserta KAA tahun 1955 dalam bentuk animasi ke dinding Gedung Merdeka. Irene yang juga menyaksikan Video Mapping di KAA mengatakan, hal semacam itu bisa menyedot perhatian masyarakat Sumsel.

“Kita melibatakan perancang Video Mapping yang memenangkan juara pada kompetisi pembuatan video animasi di Moscow. Mereka adalah orang-orang profesional di bidang ini. Sehingga ketika menampilkan sejarah Kerajaan Sriwijaya dalam bentuk berbeda, masyarakat lebih tertarik dan semakin mengenal sejarah Sumsel,” ucapnya.

Ide menggelar Pawai Budaya dan Video Mapping diakuinya muncul ketika digelarnya KAA di akhir Maret 2015. Ketika itu seluruh negara peserta KAA dan dibantu enam provinsi mengikuti parade dan festival yang menampilkan kesenian serta budaya masing-masing.

“Festival Sriwijaya merupakan napak tilas Kerajaan Sriwijaya dan kebesarannya. Acara itu dipersembahkan untuk rakyat Sumsel. Maka, mereka harus memiliki akses yang luas untuk menonton acara Pawai Budaya,” terang Irene.

Festival Sriwijaya tanggal 11 Juni, dibuka dengan Pawai Budaya dan Festival Kuda Lumping serta Bioskop Keliling yang mempertontonkan film-film bertemakan seni, budaya serta pendidikan. Hari selanjutnya digelar penampilan musik etnik dan modern, parade musik jalanan serta teater tradisional Dul Muluk.

“Kita membuat Workshop Wayang Kulit Palembang yang hampir pudar di ingatan masyarakat. Padahal wayang yang kita miliki adalah salah satu dari tiga wayang di Indonesia yang sudah diakui oleh UNESCO tahun 2003,” katanya.

Irene bilang, Festival Sriwijaya sudah sering digelar oleh Pemprov Sumsel. Hanya saja gaungnya belum sampai ke telinga masyarakat di Asia. Berbeda dengan festival serupa lainnya di Indonesia yang meski baru digelar namun merambah dunia internasional.

“Kita ingin acara semacam ini bisa berarti oleh masyarakat Sumsel dan luar negeri. Bila masyarakat nasional sudah sering mendengar Festival Sriwijaya, kita ingin memperluasnya ke AsiaTenggara. Kita percaya akan lebih meriah, apalagi dibantu Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia atau Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (ASITA), Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan beberapa universitas di Sumsel,” tegasnya.

Ia juga menambahkan Festival Sriwijaya akan mengundang Duta Besar dari lima negara di Asia untuk hadir dan mengikuti City Tour. Selain menggelar lomba Meet and Great artis pendukung Festival Sriwijaya dan Kontes Foto Selfie sebagai rangkaian acara.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved