Festival Sriwijaya ke-23, Pawai Budaya Hingga Video Mapping

Belasan kegiatan memeriahkan acara yang dimulai malam nanti hingga pertengahan bulan Juni nanti, salah satunya adalah Pawai Budaya.

Penulis: Deryardli | Editor: Soegeng Haryadi
SRIPOKU.COM/SYAHRUL HIDAYAT
Para penari dari berbagai sanggar tari mengikuti latihan tari kolosal untuk persiapan pembukaan Festival Sriwijaya di Pendopo Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS) Karanganyar, Rabu (10/6/2015). Tari kolosal Sriwijaya Gemilang ini didukung 100 penari dan 50 penabuh gendang. 

Gubernur Sumsel, Alex Noerdin mengatakan, Pemprov Sumsel menyiapkan ragam kegiatan yang berbeda dari tahun sebelumnya. Semua acara itu melibatkan partisipasi seniman dan budayawan juga masyarakat di Sumsel.

Pesta Rakyat dan Budaya
“Kita mementaskan Dul Muluk, teater tradisional khas Sumsel yang menampilkan pantun, syair dan nyanyian di dalam ceritanya. Lalu seni musik tradisional Batang Hari Sembilan oleh 60 pemusik dan musisi bernada Pentatonis berlirik pantun serta nasehat,” ungkap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumsel, Irene Camelyn Sinaga.

Festival Sriwijaya juga menyediakan ruang bagi pemusik jalanan, baik yang tradisional hingga kontemporer, untuk menampilkan hasil karya mereka. Sedikitnya 20 grup pemusik jalan bakal memeriahkan acara yang mereka sebut sebagai tempat ekspresi dan kreativitas.

Selain itu melibatkan 64 paguyuban Kuda Lumping se-Sumsel. Kesenian Tanah Jawa yang juga dimainkan oleh masyarakat pribumi di Sumsel itu menjadi yang pertama kali tampil pada festival serupa di Indonesia.

“Ada juga pertunjukkan dan workshop Wayang Kulit Palembang. Kesenian ini berbeda dengan Wayang Kulit Purwo yang biasa dimainkan di Pulau Jawa karena dimainkan dengan bahasa Palembang Kuno, dan tokoh raja-raja perwayangan yang tampil dari sisi kiri,” tambahnya.

Wayang Kulit Palembang telah berkembang sejak Abad ke-17 Masehi. Keterlibatan Wayang Kulit Palembang di Festival Sriwijaya ke-23 merupakan bagian dari pelestarian Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang sudah tercatat di UNESCO sejak tahun 2003. “Dan, Indonesia membuatnya jadi WBTB juga sejak tahun 2013 lalu,” katanya.

Tak ketinggalan permainan rakyat Sumsel tampil pada Festival Sriwijaya kali ini. Sebut saja Terompah Panjang, Gasing, Panjat Pinang dan sebagainya. Berikut pameran seni rupa berbentuk lukis wajah, lukis tangan dan lukis di atas media kaos. “Juga dilombakan khusus anak-anak, maka segala elemen masyarakat ikut berperan dalam menyemarakkan Festival Sriwijaya tahun ini,” ujar Irene.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved