Mengenal Palembang dari Koleksi Museum SMB II
sketsa yang menggambarkan perjuangan rakyat Palembang dalam usahanya mengusir penjajah Belanda tersimpan di sini
Penulis: Yandi Triansyah | Editor: Eko Adiasaputro
Menurut catatan, bangunan Benteng Kuto Lamo di masa Sultan Mahmud Badaruddin I (Jayo Wikramo) resmi ditempati pada hari Senin, 29 September 1737.
Pada era kepemimpinan Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, tahun 1821 keraton ini mendapat serangan dari Pemerintah Hindia Belanda, yang kemudian dibongkar habis pada 7 Oktober 1823 atas perintah Reguring Commissaris Belanda, J. L. Van Seven Hoven.
Pemerintah kolonial ingin menghilangkan monumental Kesultanan Palembang dan balas dendam atas dibakarnya Loji Sungai Aur oleh Sultan Mahmud Badaruddin II pada tahun 1811.
Atas pendudukan Kuta Besak dan penghancuran Kuta Lama, maka konsentrasi kota berada diwilayah ini.
Pasar dan kantor-kantor berdiri dilingkungan Kuta Besak, bahkan perahu-perahu pun menjadikannya tempat berlabuh yang ideal.
Melalui bangunan inilah kolonial Belanda mengendalikan sebagaian besar wilayah Sumbagsel terdiri dari Lampung, Jambi, Bengkulu, Babel dan Palembang sendiri.
Perpaduan arsitektur Eropa dan Palembang begitu tampak dari bangunan museum ini.
Bagian atap menggunakan limas, sedangkan bagian tangganya dinamakan Lingkung.
Terdapat dua tangga yang melengkung sisi kiri kanan bangunan.
Seiring dengan perjalanan waktu dan dinamika sejarah yang terjadi di Kota Palembang, Fungsi bangunan ini teah silih berganti, mulai dari markas Jepang pada masa pendudukan, Teritorium II Kodam Sriwijaaya di awal kemerdekaan yang kemudian berpindah pengelolaan ke Pemerintah Kota Palembang sebelum akhirnya menjadi Museum.
Meski telah mengalami renovasi, bentuk asli bangunan tidak berubah.
Perubahan hanya dilakukan pada bagian dalam bangunan dengan menambah sekat-sekat dan penutupan pintu-pintu penghubung.
Berbeda dengan bangunan yang didirikan pada masa Kesultanan Palembang Darussalam yang umumnya memakai bahan kayu, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II memakai bahan bata.
Pengadaan koleksi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II diawali sekitar tahun 1984, bersamaan dengan dipindahkannya Museum Rumah Bari ke Museum Balaputera Dewa di Jalan Srijaya 1, KM 5.5 Palembang.
Museum Rumah Bari yang awalnya dikelola Pemerintah Kota Palembang, untuk kepentingan yang lebih besar dipindahkan ke Museum Provinsi Sumatera Selatan.
Namun pemindahan tersebut tidak beserta koleksinya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/muse4_20150607_205204.jpg)