Mengenal Palembang dari Koleksi Museum SMB II
sketsa yang menggambarkan perjuangan rakyat Palembang dalam usahanya mengusir penjajah Belanda tersimpan di sini
Penulis: Yandi Triansyah | Editor: Eko Adiasaputro
SRIPOKU.COM, PALEMBANG-- Setelah keraton Kuto Gawang dikuasai Belanda, Pangeran Rejek Putra Pertama mengungsi ke pedalaman. Namun kekuasaannya diserahkan kepada adiknya, Pangeran Ratu Ki Mas Hindi.
Ki Mas Hindi sebagai penguasa Palembang kembali mengikat hubungan dengan Mataram.
Akan tetapi Palembang hanya menerima penghinaan. Atas sikap itulah, Palembang kemudian mengambil keputusan, bahwa hubungan ideologis kultural sudah waktunya dihentikan.
Sikap Ki Mas Hindi yang tegas, mengangap Palembang merupakan suatu kerajaan yang mandiri dengan identitas sendiri. Ia menegaskan, Palembang adalah Palembang, bukan Jawa.
Ki Mas Hindi menunjukkan bahwa raja Palembang sederajat dengan raja Mataram.
Maka Ki Mas Hindi menggunakan gelar Sultan Abdurrahman bergelar Kholifatul Mukminin Sayidal Imam juga terkenal dengan Sunan Cinde Wayang.
Kondisi itulah yang membuat perubahaan besar dalam kesultanan Palembang. Hampir seluruh tata cara dan kebiasaan berubah.
Seperti keris, pakaian Jawa menjadi pakaian Melayu, aksara Jawa diganti menjadi aksara Melayu (Arab gundul).
Hanya bahasa keraton yang masih menggunakan bahasa Jawa. Namun untuk rakyatnya, sudah menggunakan bahasa Palembang.
Cerita dan barang-barang bersejarah itu kini tersimpan di Museum Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II.

SRIWIJAYA POST/SYAHRUL HIDAYAT
Jika Anda berkunjung ke museum ini, banyak informasi yang bisa digali mengenai Palembang di masa lalu.
Museum SMB II merupakan bangunan eks kolonial Belanda. Berdasarkan hasil penelitian tim Arkeologi Nasional tahun 1988, di lokasi ditemukan fondasi batu bata dari bangunan Kuto Lamo, di atas tumpukan balok-balok kayu yang terbakar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/muse4_20150607_205204.jpg)