Resensi Buku

Napak Tilas Kemerdekaan Indonesia

Arus kuasa otokrasi yang tak terbendung seringkali membolak-balikkan sejarah kemerdekaan demi kepentingan politis.

Editor: Sudarwan

Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 bukan sebatas momentum untuk merefleksi diri menjadi lebih baik. Ataupun masa perkabungan bagi pahlawan yang gugur.

Kemerdekaan sejatinya juga menyisakan percaturan sejarah yang acap sengaja dilenakan.

Puing-puing sejarah itu mulai pudar karena manipulasi negara yang terlalu represif kepada rakyat.

Arus kuasa otokrasi yang tak terbendung seringkali membolak-balikkan sejarah kemerdekaan demi kepentingan politis.

Ihwal ini, Tan Malaka pernah berujar; “Rupanya sejarah proklamasi tidak mengizinkan saya campur tangan, hanya mengizinkan campur jiwa saya. Ini sangat saya sesalkan! Tetapi sejarah sejarah tidak mempedulikan penjelasan seorang manusia ataupun segolongan manusia.”

Memang ironis, sebagai orang pertama penggagas konsep republik dalam bukunya Naar de Republiek Indonesia (1925), Tan Malaka tak dilibatkan dalam sejarah proklamasi (hlm.9).

Buku karya Hendri F Isnaeni, wartawan majalah sejarah Historia, ini sengaja dihadirkan untuk menapaktilasi beberapa peristiwa terlupakan disekitar kemerdekaan. Diantaranya, kain bendera Sang Saka Merah Putih adalah pemberian seorang Jepang, Hithosi Shimizu (hlm. 124).

Mesin tik yang dipakai Sayuti Melik menulis teks proklamasi adalah pinjaman dari Angkatan Laut Nazi Jerman (hlm. 93); dan mikrofon yang dipakai saat proklamasi adalah buatan Gunawan, pemilik Radio Satria (hlm. 138).

Hendri mengumpulkan seluruh pecahan sejarah yang dari segi waktu dan konteksnya sangat luas dan amburadul, namun diolah dan dirangkai secara rapi dan kronologis.

Secara tipologi data, bagi saya, upaya Hendri mirip dengan karya-karya sejarah populer sejarawan nasional Asvi Warman Adam.

Proklamasi 15 dan 16 Agustus

Secara embrio, peluang kemerdekaan Indonesia hadir paska jatuhnya dua bom atom Amerika yang meluluhlantakkan kota Hiroshima dan Nagasaki, pada 6 dan 9 Agustus 1945. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh golongan muda yang dimotori Sutan Sjahrir (dkk.) untuk mendesak Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Sayangnya, Soekarno belum yakin bahwa Jepang memang telah menyerah, dan proklamasi kemerdekaan RI saat itu dapat menimbulkan pertumpahan darah yang besar, dan dapat berakibat sangat fatal jika para pejuang Indonesia belum siap. Soekarno mengingatkan Hatta bahwa Syahrir tidak berhak memproklamasikan kemerdekaan karena itu adalah hak Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Syahrir menganggap PPKI adalah badan buatan Jepang dan proklamasi kemerdekaan oleh PPKI hanya merupakan 'hadiah' dari Jepang.

Pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu. Tentara dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang telah berjanji akan mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Belanda.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved