Mimbar Jumat:

Dimensi Sosial dalam Ibadah Salat

PADA satu tingkat, memahami Islam adalah urusan yang sederhana.

Tayang:
Penulis: admin | Editor: Bejoroy

Bagi umat Islam, salat adalah perintah Allah SWT yang wajib dilaksanakan dalam keadaan dan kondisi apapun. Bagi yang tidak  melaksanakannya, dia berdosa. Sebab, salat lima waktu itu hukumnya fardhu‘ain.

Salat menjadi pembeda antara yang muslim dan non-muslim (kafir). Tidak ada ibadah ritual umat Islam yang tidak dilakukan umat agama lainnya kecuali salat.

Kedudukan Salat
Kedudukan salat di sisi Allah SWT dan di dalam agama-Nya, kata Mahmud Syaltut dalam Islam Aqidah dan Syariah, merupakan unsur pengiring keimanan pada seluruh risalah dan diucapkan oleh semua Rasul. Islam telah datang dan ia pun menempuh jalan yang dilalui oleh risalah terdahulu dan menjadikan salat itu sebagai salah satu rukun dari rukun-rukun agama.

Selain sebagai ibadah perorangan yang dikerjakan oleh seorang mukmin, antara dirinya dengan Tuhannya, juga ibadah yang dikerjakan secara berjamaah, baik berjamaah itu sebagai suatu kewajiban, sunnah atau hanya keutamaan belaka -- merupakan media perkenalan antarsesama mukmin dan arena pertukaran pendapat di dalam segala hal yang mereka perlukan guna mencapai kebaikan bagi agama dan keduniaan mereka.

Dengan demikian, tempat mereka berkumpul untuk menunaikan salat lima waktu -- lebih menyerupai sebuah rumah perkumpulan yang bisa didatangi dengan segera oleh para penghuni sebuah kampung, dalam beberapa waktu yang tertentu, dengan cara yang teratur dan berdisiplin.
Di tempat tadi, mereka bisa saling berkenalan, bertukar pendapat dan kemanfaatan tentang berbagai persoalan ayang mereka butuhkan, baik secara berkelompok maupun perorangan.

Untuk mencapai tujuan ini, Islam mewajibkan berjamaah -- dalam lingkup yang lebih luas -- kepada penduduk sebuah kampung atau yang layak disebut sebuah kampung, sekali dalam seminggu. Dan dijadikan kewajiban berhimpun seperti itu sebagai syarat sahnya salat yang dikerjakan dalam perhimpunan itu, yakni ibadah salat Jumat.

Di dalam salat Jumat, kaum muslimin berkumpul untuk berkenal-kenalan, tolong menolong, mendengarkan nasihat, petunjuk dan berbagai keterangan tentang hukum-hukum Allah yang halal dan haram.

Dengan demikian, salat Jumat telah mengambil bentuk perkuliahan dan pengajaran keagamaan, di mana kaum muslimin berkumpul untuk mempelajari hukum-hukum Allah dan pengetahuan agamanya. Maka, menjadilah ia perkumpulan kebudayaan yang kooperatif.

Islam juga menganjurkan diselenggarakannya perkumpulan yang bersifat lebih luas dan universal yakni menunaikan ibadah salat Idul Fitri dan Idul Adha. Lalu mewajibkan pula berkumpulnya kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia untuk menunaikan salah satu rukun Islam, yaitu ibadah haji.

Aspek Sosial
Lantas apakah salat yang wajib dilaksanakan lima kali sehari itu tidak mengandung aspek sosial? Secara kasat mata memang tidak ada satu bagian pun dari ritual salat yang menyentuh sisi-sisi kemanusiaan. Tetapi bila kita lihat dan teliti lebih mendalam ayat yang menjelaskan perintah Allah kepada umat Islam untuk menunaikan ibadah salat dapat diketahui bahwa salat memang sangat berhubungan erat dengan aspek hubungan sosial antarmanusia. Karena salat menempati posisi utama dalam rukun Islam, maka itu juga berarti hubungan sosial antarmanusia begitu diperhatikan Islam.
Ayat yang menyinggung tentang salat antara lain terdapat pada surat Al-Ankabut ayat 45: “Sesungguhnya salat itu mencegah daripada perbuataan keji dan mungkar.” Bahwa efek yang dihasilkan dari pelaksanaan salat ialah perbaikan dalam kehidupan sosial orang yang salat itu. Ia akan senantiasa berusaha berbuat baik kepada orang lain dan berusaha menghindari perbuatan buruk.
Lalu pada surat Al-Ma’un, Allah berfirman: “Apakah kamu melihat orang-orang yang mendustakan agama? Mereka itulah orang-orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkaan memberi makan orang miskin. Maka celakalah bagi orang yang salat. Yaitu mereka yang lalai terhadap salatnya. Dan mereka berbuat riya’. Dan melarang (memberi) barang yang berguna.”  

Jadi jelas sekali dalam surat ini bahwa salat sesungguhnya memiliki korelasi yang erat dengan kehidupan sosial seseorang. Ini menjawab pertanyaan mengapa banyak orang yang antara kehidupan spiritualnya (salat) sangat baik tetapi berbanding terbalik dengan pergaulan sosialnya yang buruk. Orang tersebut belum mencapai hakikat salat dan hanya mengenal salat sebagai kewajiban ritual semata.

Pengabdian dan loyalitas kita kepada Allah tidak cukup tergambar hanya dengan mengerjakan salat saja, tetapi perintah-perintah Allah lainnya harus juga dikerjakan. Bila pengabdian kepada-Nya dinilai hanya sebatas salat alangkah sangat sedikitnya waktu pengabdian itu. Bila dalam sehari dibutuhkan waktu menunaikan salat 5 x 5 menit berarti hanya 25 menit dari waktu sehari semalam yang 24 jam = 1440 menit.

Ke mana waktu sisanya? Untuk aktivitas yang lain. Apa saja? Dalam hal ini berarti seluruh waktu kita seharusnya digunakan untuk mengabdikan diri kepada Allah, tetapi dalam bentuk salat-salat lainnya yang berkaitan dengan kegiatan sosial kemasyarakatan. Wallahu a’lam bishshawab.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved