Turun Kelas Dari C Ke D , RSUD Lahat Bakal Sanggah Keputusan Menkes

Turun Kelas Dari C Ke D , RSUD Lahat akan melayangkan sanggahan ke Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI terkait hasil reviu kelas rumah sakit

Penulis: Ehdi Amin | Editor: Budi Darmawan
Kepala instalasi hukum humas dan informasi Feri Agustiansyah, SH
RSUD Lahat hasil reviu Kemenkes RI alami penurunan kelas dari kelas C ke D. / 

Laporan wartawan Sripoku. Com Ehdi Amin

SRIPOKU.COM, LAHAT  - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lahat, akan melayangkan sanggahan ke Kementrian Kesehatan (Kemenkes) RI terkait hasil reviu kelas rumah sakit yang menyebabkan RSUD turun kelas dari kelas C menjadi kelas D. Pihak RSUD Lahat sendiri bingung dan belum mendapatkan alasan penyebab kenapa RSUD Lahat, bisa turun kelas. Terlebih, RSUD Lahat sebelumnya dianjurkan untuk naik kelas dari kelas C ke kelas B.

Hal tersebut seperti disampaikan Direktur RSUD Lahat, dr Hj Erlinda M Kes melalui Kepala instalasi hukum humas dan informasi
Feri Agustiansyah, SH. Dikui Feri, 15 Juli 2019 pihaknya mendapatkan surat dari Kemenkes RI terkait rekomendasi penyesuaian kelas rumah sakit hasil reviu kelas rumah . Surat tersebut juga ditujukan kepada ratusan RS di Tanah Air. Dalam surat tersebut menyatakan adanya penyesuaian atau penurunan kelas pada RSUD Lahat, dari kelas C ke Kelas D.

"Nah kita belum mengetahui alasan Kemenkes menurunkan kelas RSUD Lahat. Kreterinya apa karena tidak dijelaskan didalam surat. Namun, dalam surat tersebut kita diberikan kesempatan untuk memberikan sanggahan atas penurunan kelas tersebut, "ujar Feri, diwawancara di RSUD Lahat, Rabu (31/7).

Pihaknya sendiri sedang mempersipkam sanggahan tersebut kendati batas waktu sanggahan sendiri cukup panjang hingga September 2019 mendatang. Diceritakan Feri, pihaknya sendiri cukup terkejut atas penyesuaian itu. Biasanya, kata Feri, tim dari Kemenkes datang langsung dalam hal memberikan penilaian atau pantauan ke RSUD Lahat. Namun, untuk kali seperti lebih melihat dari update online melalui situs RSUD Lahat. Diterngkan Feri, RSUD Lahat sendiri tidak sesuai jika akan dijadikan kelas D jika dilihat dari standar pada kelas rumah sakit.

"Sarana kita lengkap bahkan 90 persen jika sesuai standar kelas C. Begitu juga tenaga dr yang minimal hanya lima kita memiliki 14 dr. Artinya diatas itu. Begitu juga soal pelayanan kita terus berbenah. Maknya, melalui sanggahan tersebut akan ada perbandingan data antara RSUD Lahat dengan Kemenkes,"jelasnya.

Dengan adanya sanggahan artinya kata Feri belum tentu ada penurunan kelas tersebut. Ketika ditanya jika benar terjadi penurunan, disampaikan Feri tentu akan merubah struktur organisasi di tubuh RSUD Lahat dalam hal ini kepegawaian. Nah, untuk sanksi sendiribia tidak tahu itu dari Kemenkes. "Sebenrnya kita ini sedang berpacu untuk naik kelas. Saya rasa kurang pas kalau RSUD Lahat kelas D dengan prasana yang ada saat ini. Namun kita akan tahu setelah adanya hasil sanggahan, "ujarnya.

Terkait adanya surat penyesuaian tersebut, Feri menuturkan sejauh ini tidak ada pengaruh bagi pasien. Bahkan, pegawai yang sudah mengetahui surat Kemenkes tersebut semakin termotivasi untuk lebih baik.

Sebelumnya terjadinya penurunan kelas di RSUD di sorot oleh Sekretaris Komisi IV DPRD Lahat, Tubagus Muh Abdus Somad S Pdi. Tubagus menilai wajar jika terjadi penurunan kelas pada RSUD Lahat, dari C ke D pasalnya, pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat belum maksimal dan banyak pasien yang mengeluh. Sementara, dikatakan Tubagus penurunan kelas sendiri berdasarkan hasil reviu kelas rumah sakit oleh Kemenkes dimana ada 15 rumah sakit di Sumsel yang mengalami penurunan kelas, salah satunya RSUD Lahat.

"Ya tentu kita sangat menyayangkan terjadinya penurunan ini. Sebagai komisi yang membidangi, kita sering menyampaikan terkait kurangnya pelayanan," tegas Tubagus, Selasa (30/7).

Lebih lanjut dikatakan politisi PKS ini, tidak sedikit masyarakat yang mengeluh atas kurangnya pelayanan dari RSUD Lahat. Atas keluhan itulah pula, Komisi IV selalu menyampaikan kepada manajemen rumah sakit. Menurutnya, berbagai keluhan, salah satunya kurang ramahnya tenaga medis kepada pasien atau pun keluarganya. Begitu juga pelayanan medis yang diterima, tidak jarang pasien yang merasa ditelantarkan. "Pelayanan yang prima dan infrastruktur harus jadi pekerjaan utama kedepan,"jelas. Cr22

Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved