Berita Pagaralam

Tidak Ada Pasar Khusus Buah, Petani Salak Pagaralam Hanya Bergantung Pada Wisatawan, Ini Sebabnya

Hal ini membuat petani buah hanya mengandalkan wisatawan dan pembeli lokal saja untuk menjual hasil panen.

Tidak Ada Pasar Khusus Buah, Petani Salak Pagaralam Hanya Bergantung Pada Wisatawan, Ini Sebabnya
SRIPOKU.COM/WAWAN SEPTIAWAN
Tampak salah satu petani Salak Pagaralam yang membuka lapak didepan kebun mereka untuk para wisatawan yang datang ke Pagaralam, Minggu (15/7/2018). 

Laporan Wartawan Sripoku.com, Wawan Septiawan

SRIPOKU.COM, PAGARALAM -- Kota Pagaralam merupakan salah satu destinasi wisata baik nasional maupun di Provinsi Sumsel. Banyak potensi wisata di Pagaralam yang bisa dijual ke wisatawan.

Bahkan bukan saja potensi wisatanya saja, potensi angrowisata juga menjadi salah satu andalan Kota Pagaralam.

Seperti agrowisata tanaman Salak. Banyak masyarakat Pagaralam yang berkebun salak. Bahkan untuk mengaet wisatawan masyarakat mengubah kebun kopi mereka yang ada dikawasan Gunung Dempo menjadi kebun salak.

Namun berbagai kendala mulai dihadapi para petani salak saat ini, salah satunya kendala penjualan hasil panen salak.

Informasi yang dihimpun sripoku.com, Minggu (15/7/2018) menyebutkan, tidak adanya pasar khusus buah di Pagaralam menjadi kendala besar para petani salak dan petani buah yang ada di Pagaralam.

Hal ini membuat petani buah hanya mengandalkan wisatawan dan pembeli lokal saja untuk menjual hasil panen.

Sutarno (52) salah satu petani salak di Pagaralam mengaku kewalahan saat musim panen. Pasalnya hasil panen banyak namun tidak ada tempat menjualnya.

"Kami hanya mengandalkan wisatawan dan masyarakat Pagaralam saja pak untuk menjual hasil panen Salak kami. Karena memang disini tidak ada pengepul buah-buahan," katanya.

Bahkan para petani sering mengalami kerugian karena harus membuang buah hasil panen yang busuk akibat tidak terjual.

"Salak ini kalau sudah masak hanya bisa bertahan satu minggu saja pak. Jadi kalau dalam satu minggu tidak terjual yang terpaksa dibuang," ujarnya.

Hampir senada dengan ungkapan Mirhan (47) petani salak lainnya. Pihaknya kadang terpaksa harus menjual murah buah salak kepada pengrajin keripik.

"Jika dijual kepada pengrajin keripik salak yang sudah dibetsihkan kulit dan bijinya hanya dihargai Rp5 ribu perkilonya. Padahal kalau dijual ke wisatawan satu kilonya Rp10 ribu," ungkapnya.

Para petani berharap pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Pagaralam dapat memperhatikan para petani buah di Pagaralam agar bisa menjual hasil panen dengan harga stabil dan jumlah banyak.

Baca: Permudah Anak Beradaptasi di Hari Pertama Sekolah, Ini yang Wajib Dilakukan Orangtua

Baca: Sempat Bikin Penasaran Netizen, Putri Tiri Bunga Zainal Akhirnya Ungkap Siapa Sosok Ibu Kandungnya

Baca: Ingin Mengubah Nama Kontak WhatsApp, Begini Caranya Tanpa Perlu Menutup Aplikasinya Lho

Baca: Harga Telur dan Ayam di Palembang Melambung, Ini Daftar Harga Telur, Ayam & Daging Hari Ini

Baca: Permudah Transkasi Perbankan Saat Asian Games 2018, Bank Mandiri Tambah 33 ATM di Tempat Ini

Baca: Permudah Transkasi Perbankan Saat Asian Games 2018, Bank Mandiri Tambah 33 ATM di Tempat Ini

Penulis: Wawan Septiawan
Editor: Siti Olisa
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved