Sudah Banyak Ditinggalkan, Ini Tradisi Lebaran yang Masih Bertahan di Pagaralam

Kumpulan mengacu pada tata cara merayakan lebaran baik Idul Fitri maupun Idul Adha, yaitu beberapa keluarga berkumpul di satu rumah usai Salat Id.

Sudah Banyak Ditinggalkan, Ini Tradisi Lebaran yang Masih Bertahan di Pagaralam
SRIPOKU.COM/ASA
Beberapa dari masyarakat di Gubung Agung Tengah, Pagaralam masih melestarikan tradisi Kumpulan saat lebaran. 

 

SRIPOKU.COM, PAGARALAM -  - Salah satu tradisi yang hingga kini masih dipegang teguh sebagian masyarakat Desa Gunung Agung Tengah, Kelurahan Agung Lawangan, Kecamatan Dempo Utara Pagaralam, saat lebaran adalah melakukan "Kumpulan". Sebutan Kumpulan mengacu pada tata cara merayakan lebaran baik Idul Fitri maupun Idul Adha, yaitu beberapa keluarga berkumpul di satu rumah usai Salat Id.

Pada prosesnya, tradisi Kumpulan dimulai dengan menentukan berapa keluarga (rumah) yang akan ikut serta. Kemudian menyepakati berapa nilai urunan dari masing-masing keluarga, termasuk akan digunakan untuk membeli apa atau membuat apa. Biasanya, nilai urunan bergantung pada harga kebutuhan pokok. Untuk saat ini rata-rata berkisar Rp 50 ribu-Rp 100 ribu per Kepala Keluarga (KK). Setelah dua hal ini disepakati, selanjutnya peserta Kumpulan akan berkumpul sehari sebelum lebaran atau H-1.

Pada hari itu, mereka yang rata-rata terdiri dari 10 sampai 15 keluarga (KK) bersama-sama memasak kue, lauk pauk dan lain-lain. Masakan inilah nantinya yang akan dinikmati pada saat lebaran, usai Salat Id. Usai salat mereka berkumpul di rumah yang sebelumnya sudah ditentukan, selanjutnya bermaaf-maafan, kemudian dilanjutkan dengan doa-doa dan ditutup acara makan bersama. Setelah rangkaian acara selesai, barulah pulang ke rumah masing-masing baik untuk menerima tamu atau kunjungan kerabat yang lain atau sebaliknya mengunjungi kerabat.

Kamri, salah seorang warga Gunung Agung Tengah menjelaskan, tradisi Kumpulan ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. "Saya masih ingat pertama kali ikut acara ini saat masih SMP. Sekarang usia saya sudah di atas 40 tahun," kata Kamri, saat dibincangi di sela acara Kumpulan, Jumat (15/6/2018).

Bukan tanpa alasan tradisi Kumpulan ini dibuat. Menurut Kamri, para tetua atau nenek moyang terdahulu menginginkan kebersamaan terjalin lebih erat antar tetangga yang mengikuti kumpulan. Istilah lainnya adalah makan tak makan yang penting kumpul. "Sekarang tradisi Kumpulan ini tidak sebanyak dulu. Paling sekitar 10 sampai 15 kelompok. Kalau dulu, rata-rata orang Kumpulan," katanya. (asa)

Penulis: Eko Adiasaputro
Editor: Budi Darmawan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved