Mimbar Jumat:
Dimensi Sosial dalam Ibadah Salat
PADA satu tingkat, memahami Islam adalah urusan yang sederhana.
Penulis: admin | Editor: Bejoroy
M Rizqi Nurmizan
Peminat Masalah Keislaman
PADA satu tingkat, memahami Islam adalah urusan yang sederhana. Islam bertujuan menciptakan “perdamaian” melalui “kepasrahan kepada kehendak Ilahi” -- Inilah hakikat makna Islam. (Fare of Islam: Conversation on Contemporary Issues by Ziauddin Sardar and Marryl Wyn Davies).
Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada semua Rasul-Nya, sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW, sebagai petunjuk bagi umat manusia guna mengantarkan tercapainya dambaan hidup yang sejahtera di dunia dan bahagia di akherat. (KH Ahmad Azhar Basyir, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Priode 1990-1995).
Menurut Prof Abul A’la Al-Maududi dalam bukunya Islam sebagai Sistem Hidup dan Berpikir, Islam menurut bahasa (lughawi) berarti tunduk, berserah diri, taat dan patuh pada perintah dan larangan tanpa membantah.
Kata al-Islam yang ada dalam Alquran bukan dalam bentuk umum (nakirah), tetapi dalam bentuk khusus (ma’rifah) yaitu diawali oleh alif wa lam. Awalan inilah yang membuat kata Islam mempunyai makna khusus.
Islam merupakan agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Ia mengandung ajaran-ajaran dan tata nilai yang mencakup semua sisi kehidupan umat manusia, tidak hanya yang bersifat hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhannya (hablumminallah), tetapi juga bersifat horizontal antarmanusia (hablumminannas).
Ajaran Islam yang menyeluruh dan menyentuh segala sisi kehidupan ini menjadikannya berbeda dengan ajaran agama lainnya yang hanya menjadikan agama sebagai seperangkat ritual-ritual keagamaan tertentu yang harus dilaksanakan oleh pemeluknya sebagai wujud dari ketaatan kepada-Nya, minus ajaran yang mengatur hubungan antarmanusia sebagai sesama ciptaan-Nya.
Intisari dari ajaran Islam ialah apa yang disebut dengan rukun Islam, yaitu kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad SAW ialah utusan-Nya, mendirikan salat, membayar zakat, menunaikan ibadah puasa wajib di bulan Ramadhan dan melaksanakan ibadah haji bila mampu. Keislaman seseorang sudah terlegitimasi secara lahir bilamana ia telah melaksanakan kelima rukun Islam tersebut.
Dari kelima rukun Islam tadi, secara sederhana dapat diketahui bahwa semua rukun itu, yakni rukun ibadah, berhubungan langsung dengan aspek sosial dan menyentuh sisi kemanusiaan. Ini salah satu bukti bahwa Islam memang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Pada bulan suci Ramadan, seorang muslim menjalankan ritual puasa, yang darinya ia dituntut merasakan bagaimana penderitaan kaum yang lemah (dhu’afa) yang setiap hari berjuang keras agar tidak mati kelaparan. Lalu ia juga diwajibkan menunaikan zakat fitrah sebagai wujud nyata dari kesadaran untuk berbagi kepada mereka yang membutuhkaan dan sebagai wujud rasa syukur karena masih diberi nikmat oleh-Nya untuk terus berbagi.
Bila mampu ia diwajibkan menunaikan ibadah haji hanya sekali seumur hidupnya, itupun setelah mempertimbangkan bahwa kepergiannya ke Tanah Suci tidak menjadi beban bagi mereka yang ditinggalkan. Nah, bila pada saat yang sama ia dituntut berjihad secara sosial, maka ia harus mendahulukan jihad sosial itu dan menunda hajinya terlebih dulu. Pada Hari Raya Idul Adha, ia juga dianjurkan berkurban yang daging kurbannya disedekahkan kepada fakir miskin untuk berbagi kebahagiaan.
Lantas bagaimana dengan rukun pertama dan kedua? Rukun pertama adalah asas utama dari bangunan Islam, yaitu kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhamad ialah utusan Allah. Tanpa didasari kesaksian ini maka sia-sialah perbuatan dan amal baik yang dilakukan seseorang.
Syahadat merupakan kunci (key) yang denganya manusia masuk ke dalam Islam dan diberlakukan kepadanya semua hukumnya. Maka pengakuan terhadap ke-Esaan Allah SWT mengandung kesempurnaan kepercayaan kepada Allah SWT dari dua aspek yaitu aspek rububiyah (penciptaan dan pendidikan/pengelolaan) dan aspek uluhiyah (peribadatan).
Rukun kedua adalah mendirikan salat. Salat berasal dari bahasa arab yang berarti doa dan doa adalah permohonan. “... dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka...” (QS 9:103). (Islam Digest, Ahad, 15 Agustus 2010).
Salat adalah tiang yang menopang tegaknya bangunan Islam. Tanpa salat maka keislaman seseorang tidak akan pernah berdiri tegak. Mutlak kewajiban setiap orang yang mengaku dirinya muslim. Begitu pentingnya ibadah salat ini sampai-sampai orang yang berbaring sekarat, asalkan ia masih sadar dan berakal, masih diwajibkan salat.
Bila seseorang tidak dapat salat dengan berdiri maka boleh dengan cara duduk. Bila tidak dapat duduk maka berbaring. Bila tidak dapat berbaring, maka dengan isyarat, bila tidak dapat dengan isyarat maka disalatkan, artinya ia telah mati.