Respons SPPG Majasari Dapur MBG di Prabumulih Usai Dituding Mencuri Gas Kota

Pemilik SPPG Majasari, dapur MBG di Prabumulih, yang diduga melakukan ilegal tapping atau pencurian gas kota memberikan respons.

Tayang:
Penulis: Edison Bastari | Editor: Refly Permana
Sripoku.com/Edison Bastari
GAS KOTA - Pemilik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Majasari kota Prabumulih, Rian Widod, ketika diwawancarai Kamis (14/5/2026). Ia membantah dapur miliknya melakukan ilegal tapping gas kota alias pencurian gas kota untuk operasional. 

Ringkasan Berita:
  •  Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Majasari di Prabumulih ramai diberitakan melakukan ilegal tapping gas kota.
  • Sang pemilik menjelaskan tidak ada tunggakan karena pembayaran dilakukan rutin melalui kantor pos.
  • Hingga kini, pemilik mengaku belum menerima pemberitahuan atau surat teguran resmi dari pengelola gas kota.

 

SRIPOKU.COM, PRABUMULIH - Heboh adanya dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Majasari yang diduga melakukan ilegal tapping gas kota atau pencurian gas kota.

Sejak beberapa hari terakhir kota Prabumulih dihebohkan adanya dapur SPPG diberitakan media online melalukan pencurian gas kota dengan cara ilegal tapping. 

Dari pemberitaan itu, adanya dapur melakukan ilegal tapping diungkapkan oleh Direktur PD Petro Prabu Ir Heriyanto. 

Bahkan disebutkan akibat ilegal tapping itu, PD Petro Prabu mengalami kerugian puluhan juta rupiah.

Rian Widod selaku pemilik SPPG yang berada di Kota Prabumulih, Sumatera Selatan lantas bereaksi.

"Pemasangan jaringan gas kota itu sudah ada sejak sebelum SPPG dibangun karena telah dipasang oleh pihak ketiga dari pengelola gas kota di Prabumulih," katanya, Kamis (14/5/2026).

Baca juga: Tiga SPPG Polres Muara Enim Rampung Diverifikasi, Hadirkan Pelayanan Humanis untuk Masyarakat

Rian Widod mengatakan, saat berdirinya SPPG, pihak ketiga tersebut juga yang memasang jaringan ke dapur dan ke kompor-kompor. Selama pemakaian, tidak pernah ada tunggakan karena selalu dibayar melalui kantor pos. 

"Mereka AWS mengetahui kita memasang untuk jadi dapur MBG. Mereka juga yang memasang pipa ke dapur. Memang tidak seluruh kompor kita pakai gas kota karena kita juga beli tabung elpiji. Untuk tunggakan, kita tidak ada karena dibayar langsung ke kantor pos," jelasnya.

Lebih lanjut, Rian Widod mengungkapkan pihak pengelola gas sudah beberapa kali melakukan sidak dan razia ke dapur miliknya untuk memeriksa apakah ada ilegal tapping atau tidak, dan tidak ditemukan. 

"Ini tiba-tiba ada pemberitaan yang menyebutkan dapur MBG melakukan ilegal tapping," jelasnya.

Hingga saat ini, kata wanita yang memiliki empat dapur SPPG itu, pihak pengelola gas tidak ada menyampaikan maupun menjelaskan adanya pencurian gas kota di dapur miliknya.

"Harapan kami, kalau memang ada ditemukan, kasih tahu kami. Kami siap berbenah dan bertanggung jawab, tapi sampai saat ini tidak ada pemberitahuan. Kami sempat diundang sebagai SPPG dan pemilik SPPG terkait peralihan jaringan rumah tangga dan usaha, tapi tidak ada penjelasan ada yang salah," tuturnya.

Baca juga: Fakta 1.720 SPPG Disetop Sementara tapi Tetap Terima Gaji Rp6 Juta per Hari, Kepala BGN Angkat Suara

Rian Widod mengaku dirinya mengetahui dapurnya diduga melakukan ilegal tapping dari pemberitaan saja.

Namun, pemberitahuan, surat teguran, maupun lainnya dari pengelola jaringan gas kota tidak ada. 

"Kami akan taat aturan kalau memang ada pemberitahuan. Tapi sejauh ini tidak ada. Mereka mengetahui jaringan gas kota itu untuk usaha karena yang memasang jaringan hingga ke dapur-dapur itu mereka," lanjutnya.

Untuk itu, dirinya berharap dukungan dan doa dari semua pihak agar permasalahan ini bisa terselesaikan dan berjalan dengan lancar, serta tidak mengganggu operasional SPPG yang ada.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved