Berita PALI

Ironi di Atas 'Emas Hitam' Kisah Guru SDN 43 Talang Ubi yang Bertaruh Nyawa Menuju ke Sekolah

Rabu (6/5/2026) pagi, pemandangan ironis kembali tersaji di Dusun 4 Talang Kampai, Desa Benuang, Kecamatan Talang Ubi.

Tayang:
Penulis: Mat Bodok | Editor: Yandi Triansyah
Handout
TERJATUH - Sejumlah guru SDN 43 Talang Ubi terjatuh saat melintasi Jalan di Dusun 4 Talang Kampai, Desa Benuang, Kecamatan Talang Ubi saat menuju ke sekolah, Rabu (6/5/2026) 

SRIPOKU.COM, PALI – Di balik gemerlap status Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) sebagai salah satu lumbung energi di Sumatera Selatan, terselip sebuah potret buram perjuangan dunia pendidikan. 

Rabu (6/5/2026) pagi, pemandangan ironis kembali tersaji di Dusun 4 Talang Kampai, Desa Benuang, Kecamatan Talang Ubi.

Rintik hujan yang mengguyur sejak malam menyisakan medan tempur bagi para guru perempuan SDN 43 Talang Ubi

Seragam putih bersih dan rok hitam yang mereka kenakan tak lagi tampak rapi saat mereka harus "jungkir balik" dan berjibaku melawan licinnya tanah merah.

Berkubang Lumpur di Dekat Sumur Migas

Hanya berjarak sekitar 100 meter dari titik para guru ini terjatuh, berdiri tegak sebuah sumur penghasil minyak dan gas bumi (migas) yang diklaim sebagai salah satu yang terbesar di wilayah tersebut. 

Namun, keberadaan kekayaan alam yang melimpah itu seolah berbanding terbalik dengan infrastruktur jalan yang menjadi urat nadi pendidikan.

Dalam potongan video yang viral di media sosial, terlihat lima guru perempuan harus jatuh bangun saat sepeda motor mereka tergelincir di jalan yang becek tanpa pengerasan. 

Tak ada raut penyesalan, meski tubuh berkubang lumpur, tawa kecil tetap terselip di antara napas yang tersengal, menandakan sebuah keikhlasan yang sudah mendarah daging.

"Ini sudah menjadi makanan sehari-hari bagi kami," ungkap salah satu guru. 

Dari delapan tenaga pendidik di sekolah tersebut, hanya satu orang yang merupakan warga asli setempat, sementara sisanya harus menempuh perjalanan jauh dari desa lain, termasuk dari Kecamatan Abab.

Kepala SDN 43 Talang Ubi, Armansyah SPd, mengakui bahwa medan berat tersebut adalah ujian nyata bagi dedikasi para guru.

"Jalan rusak bukan halangan bagi kami. Setiap hari kami lalui demi masa depan anak-anak," tegasnya.

Senada dengan Armansyah, Waeb Jamel (50), warga setempat yang sehari-hari menjadi sopir angkutan pelajar, menyebut kondisi ini tidak pernah berubah sejak ia lahir. 

Menurutnya, air yang tergenang akibat tidak adanya parit di sisi jalan membuat akses tersebut mustahil dilalui dengan aman oleh kendaraan roda dua maupun roda empat.

Kondisi ini memicu keprihatinan dari berbagai pihak, termasuk Indra Setia Haris, seorang pemerhati kebijakan publik di Kabupaten PALI. 

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved