Kasus Taqy Malik
Sunan Kalijaga Tanggapi Kasus Taqy Malik Diduga Mark Up Program Waqaf Alquran, Aib Dikuliti Sahabat
Ia juga menjelaskan pemahamannya mengenai praktik wakaf Alquran yang selama ini dikenal di kalangan umat Islam, khususnya saat berada di Tanah Suci.
Penulis: Rizka Pratiwi Utami | Editor: pairat
Ringkasan Berita:1. Sunan Kalijaga mengaku prihatin dengan munculnya dugaan mark up harga dalam program wakaf Alquran yang menyeret nama Taqy Malik dan berharap persoalan segera diselesaikan secara jelas.2. Ia menjelaskan bahwa wakaf Al-Qur’an seharusnya merupakan bentuk donasi untuk kepentingan ibadah, bukan kegiatan yang berorientasi pada keuntungan pribadi.3. Sunan Kalijaga meminta Kementerian Agama membentuk tim untuk mengusut kebenaran informasi agar kasus dapat diselesaikan secara objektif dan adil.
SRIPOKU.COM - Sunan Kalijaga mengaku prihatin atas mencuatnya kasus dugaan mark up harga dalam program wakaf Alquran yang menyeret nama Taqy Malik.
Mark up harga dalam program wakaf Alquran, terutama jika dilakukan tanpa transparansi, sering kali diartikan sebagai tindakan penggelembungan harga (markup anggaran) yang menaikkan margin keuntungan di atas harga pokok produksi atau harga jual yang wajar.
Dalam konteks filantropi Islam, praktek ini sering kali menimbulkan kontroversi karena dianggap tidak sejalan dengan prinsip kejujuran dan amanah.
Menanggapi isu tersebut, Sunan Kalijaga menilai persoalan tersebut perlu segera diselesaikan secara jelas dan terbuka agar tidak menimbulkan polemik berkepanjangan di tengah masyarakat.
Ia juga menegaskan pentingnya kejelasan penyelesaian agar publik mendapatkan kepastian terkait benar atau tidaknya dugaan tersebut.
"Ya, yang pasti saya prihatin, ya. Saya prihatin dan semoga bisa segera diselesaikan, dituntaskan. Yang benar itu benar, yang salah itu salah. Begitu," ujar Sunan Kalijaga, dikutip Tribunnews dalam YouTube Reyben Entertainment, Sabtu (14/2/2026).
Ia juga menjelaskan pemahamannya mengenai praktik wakaf Alquran yang selama ini dikenal di kalangan umat Islam, khususnya saat berada di Tanah Suci.
Menurutnya, wakaf merupakan bentuk donasi untuk kepentingan ibadah dan bukan kegiatan yang berorientasi pada keuntungan.
"Dan seharusnya, saya bukan ustaz, ya, saya bukan ustaz, tapi saya berusaha untuk taat. Setahu saya, orang banyak di sana, termasuk kami kemarin baru pulang umrah di Madinah, itu yang kami tahu bukan jual beli kitab suci Alquran."
"Tapi bahasa yang atau yang kami lakukan di sana setahu saya adalah wakaf, di mana orang membeli Al-Qur'an untuk disumbangkan ke masjid-masjid, ke Masjid Nabawi, lalu ke masjid-masjid lainnya," terang Sunan Kalijaga.
Lebih lanjut, ia menyoroti informasi yang diterimanya terkait sosok anak muda yang dikenal religius namun dikaitkan dengan dugaan praktik mark up tersebut.
Ia mengaku menyayangkan apabila dugaan itu benar terjadi karena dinilai bertentangan dengan citra yang selama ini melekat.
"Namun, saya mendapatkan info dari teman-teman bahwa ada seorang anak muda, ya, yang bukan mengaku, tapi dikenal adalah seorang anak yang katanya saleh, atau mungkin ada yang menyebut dia dengan panggilan ustaz, kok malah saya mendapatkan info anak ini diduga melakukan mark up kitab suci."
"Nah, ini saya dengan tegas mengatakan saya sangat menyayangkan. Saya sangat menyayangkan," tandasnya.
Sunan Kalijaga juga berharap pihak berwenang, khususnya Kementerian Agama, dapat segera mengambil langkah dengan membentuk tim untuk menelusuri kebenaran informasi tersebut agar persoalan dapat diselesaikan secara objektif dan adil.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Sunan-Kalijaga-Tanggapi-Kasus-Taqy-Malik-Diduga-Mark-Up-Program-Waqaf-Alquran-Aib-Dikuliti-Sahabat.jpg)