Ramadan 2026

Doa Allahumma Innaka ‘Afuwwun Dibaca di Bulan Ramadan, Memohon Ampunan Sempurna

Doa ini menjadi sarana pembersihan diri dari kesalahan dan dosa, terutama di penghujung Ramadan yang dikenal sebagai fase pembebasan dari api neraka.

|
Penulis: Novry Anggraini | Editor: Novry Anggraini Rizki Utami
Ilustrasi/AI
ILUSTRASI bacaan doa Allahumma Innaka ‘Afuwwun, lengkap dengan latin dan arti. 
Ringkasan Berita:
  • Doa Allahumma innaka ‘afuwwun adalah amalan utama 10 malam terakhir Ramadan untuk meraih Lailatul Qadar.
  • Doa ini memohon ampunan Allah yang tidak hanya mengampuni, tetapi juga menghapus dosa sepenuhnya.
  • Riwayat sahih dari Imam At-Tirmidzi menyebut lafaz tanpa tambahan kata karim, meski maknanya tetap baik.

 

SRIPOKU.COM - Doa Allahumma innaka ‘afuwwun menjadi amalan utama yang diajarkan Nabi Muhammad SAW untuk dibaca, terutama pada 10 malam terakhir Ramadan.

Baca juga: Bacaan Niat Salat Witir 3 Rakaat Lengkap Latin dan Arti, Penutup Tarawih di Bulan Ramadan

Doa ini berisi permohonan agar Allah SWT mengampuni dan menghapus dosa-dosa hamba-Nya dengan kemaafan yang sempurna.

Simak di bawah ini bacaan doa Allahumma Innaka ‘Afuwwun, lengkap dengan latin dan arti.

Bacaan Doa Allahumma Innaka ‘Afuwwun

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي 

Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni 

Artinya:"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai kemaafan, maka maafkanlah aku".

Baca juga: Hadis Keutamaan Bulan Suci Ramadan sebagai Bulan Pengampunan Dosa, Man Shoma Romadhona Imanan

Kata 'afuwwun sendiri tidak hanya berarti mengampuni (maghfirah), tetapi juga menghapus jejak dosa sepenuhnya. Artinya, Allah tidak sekadar memaafkan, tetapi juga menghilangkan bekas kesalahan tersebut.

Karena itu, doa ini sangat dianjurkan dibaca berulang-ulang, khususnya pada 10 malam terakhir Ramadan sebagai upaya meraih keutamaan Lailatul Qadar.

Sebagian versi menyebut tambahan kata karim sehingga berbunyi "Allahumma innaka ‘afuwwun karim".

Namun, dalam riwayat yang lebih umum dan dinilai sahih oleh para ulama, termasuk riwayat dari Imam At-Tirmidzi, lafaz yang masyhur tidak menggunakan tambahan kata karim.

Meski demikian, makna tambahan tersebut tetap baik dan tidak bertentangan dengan sifat Allah SWT sebagai Maha Mulia dan Maha Pemaaf.

Dapatkan berita penting dan informasi menarik lainnya dengan mengklik Google News.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved