Perangkat Pembelajaran

Model Pembelajaran STEM Terbaru 2025/2026: Apa yang Berubah dan Kenapa Penting?

Dalam Model Pembelajaran STEM Kurikulum Merdeka 2025, penilaian tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga pada proses yang dilalui siswa.

Penulis: Siti Umnah | Editor: Siti Umnah
Ilustrasi/AI/Ilustrasi AI
ILUSTRASI PERANGKAT PEMBELAJARAN : Dalam Model Pembelajaran STEM, penilaian tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga pada proses yang dilalui siswa.(Ilustrasi AI) 

Siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga berpartisipasi dalam praktik yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. 

Hal ini menjadikan STEM sebagai strategi penting untuk menyiapkan generasi yang adaptif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan abad ke-21.

Proses Desain Rekayasa (Engineering Design Process/EDP) merupakan inti dari pembelajaran STEM

EDP memberi kerangka sistematis bagi siswa untuk melalui tahapan identifikasi masalah, perencanaan solusi, pembuatan prototipe, hingga pengujian dan perbaikan berulang. 

Sifat iteratif ini menekankan bahwa kegagalan adalah bagian alami dari inovasi dan menjadi peluang untuk penyempurnaan.

Dalam penerapannya, STEM menuntut perubahan peran guru dari sekadar penyampai materi menjadi fasilitator dan mentor. 

Guru berfungsi sebagai pemandu eksplorasi yang menciptakan ruang aman bagi siswa untuk bereksperimen dan belajar dari proses.

Peran guru juga penting dalam menghubungkan teori dengan praktik serta mendorong kolaborasi antar siswa. 

Dengan demikian, pembelajaran STEM tidak hanya menghasilkan pemahaman konsep, tetapi juga keterampilan bekerja sama, berpikir kritis, dan berinovasi.

Lingkungan belajar STEM harus dirancang fleksibel agar mendorong kolaborasi, eksplorasi, dan keberanian mengambil risiko secara terkontrol. 

Siswa diberi ruang untuk bekerja dalam kelompok, berdiskusi, serta membangun prototipe dengan dukungan teknologi sebagai alat pemecahan masalah, bukan sekadar materi tambahan.

Selain itu, teknologi seperti sensor, perangkat lunak desain, dan simulasi diintegrasikan untuk memperkuat efektivitas pembelajaran. 

Hal ini memastikan siswa dapat menghubungkan teori dengan praktik nyata dalam proses belajar.

Sistem asesmen STEM menilai secara komprehensif, tidak hanya pada hasil akhir, tetapi juga pada proses yang dilalui siswa. 

Penilaian mencakup keterampilan berpikir, perancangan, kolaborasi tim, serta kemampuan refleksi dan belajar dari kesalahan, sehingga setiap usaha siswa tetap dihargai.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved