Modul Ajar
CONTOH Modul Ajar Deep Learning Geografi Kelas 11 SMA, Bab 2 Keragaman Hayati
Modul Ajar Deep Learning Geografi Kelas 11 SMA Bab 1 Bab 2 Keragaman Hayati
Penulis: Rizka Pratiwi Utami | Editor: Rizka Pratiwi Utami
SRIPOKU.COM - Berikut referensi Modul Ajar Deep Learning Geografi Kelas 11 SMA Semester 1 dan 2 yang merupakan kurikulum terbaru.
Berdasarkan buku teks pelajaran Geografi Kelas 11 SMA Semester 1 dan 2 Kurikulum Merdeka terdapat 4 Bab materi yang nantinya akan di pelajari, diantaranya yaitu sebagai berikut.
Modul Ajar Deep Learning Geografi Kelas 11 SMA Bab 1 Bab 2 Keragaman Hayati
Baca juga: CONTOH Modul Ajar Deep Learning Geografi Kelas 11 SMA, Bab 1 Posisi Strategis Indonesia
MODUL AJAR DEEP LEARNING
MATA PELAJARAN : IPS (GEOGRAFI)
BAB 2: KERAGAMAN HAYATI
A. IDENTITAS MODUL
Nama Sekolah : .....................................................................................
Nama Penyusun : .....................................................................................
Mata Pelajaran : IPS (Geografi)
Kelas / Fase /Semester : XI/ F / Ganjil
Alokasi Waktu : 9 JP (3 Pertemuan @ 3 JP)
Tahun Pelajaran : 20.. / 20..
B. IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK
Peserta didik pada umumnya telah memiliki pengetahuan dasar tentang lingkungan alam dari jenjang SMP atau mata pelajaran Geografi/Biologi sebelumnya di kelas X, seperti jenis-jenis hewan dan tumbuhan umum, serta pentingnya menjaga lingkungan. Mereka mungkin juga sudah familiar dengan berita-berita mengenai isu lingkungan, seperti deforestasi atau kepunahan spesies. Keterampilan dasar seperti mengamati, mengidentifikasi, dan menyajikan informasi sederhana diharapkan sudah dimiliki. Namun, pemahaman mendalam tentang konsep keragaman hayati (tingkat gen, spesies, ekosistem), faktor-faktor yang memengaruhi persebarannya, manfaatnya, serta upaya konservasi yang lebih terstruktur, mungkin masih perlu dikembangkan. Minat terhadap isu lingkungan hidup dan konservasi dapat bervariasi, sehingga perlu distimulasi melalui fenomena nyata yang menarik dan relevan dengan kehidupan mereka.
C. KARAKTERISTIK MATERI PELAJARAN
Materi "Keragaman Hayati" pada Bab 2 ini memiliki karakteristik sebagai berikut:
Jenis Pengetahuan: Materi ini mencakup pengetahuan konseptual (definisi keragaman hayati, jenis-jenisnya, persebaran), prosedural (analisis data persebaran, identifikasi ancaman), serta kontekstual/aplikatif (identifikasi manfaat, perumusan upaya konservasi).
Relevansi dengan Kehidupan Nyata: Sangat relevan karena keragaman hayati adalah bagian integral dari kehidupan manusia, menyediakan sumber daya (pangan, obat-obatan), menjaga keseimbangan ekosistem, dan memiliki nilai estetika serta budaya. Isu kehilangan keragaman hayati adalah ancaman global yang berdampak lokal.
Tingkat Kesulitan: Cukup kompleks karena melibatkan pemahaman konsep-konsep ekologi, biogeografi, klasifikasi, serta analisis hubungan sebab-akibat antar komponen lingkungan. Perlu kemampuan observasi, analisis, dan sintesis informasi.
Struktur Materi: Terstruktur mulai dari pengertian keragaman hayati (gen, spesies, ekosistem), faktor-faktor yang memengaruhi persebaran flora dan fauna (iklim, edafik, topografi, biotik), persebaran keragaman hayati di Indonesia (tipe Asiatis, Australis, Peralihan), manfaat keragaman hayati, ancaman terhadap keragaman hayati, dan upaya pelestarian/konservasi (in situ dan ex situ).
Integrasi Nilai dan Karakter: Materi ini sangat kuat mengintegrasikan nilai-nilai seperti kepedulian lingkungan, tanggung jawab (terhadap keberlanjutan sumber daya alam), cinta tanah air (melalui kekayaan hayati Indonesia), berpikir kritis (menganalisis ancaman dan solusi), serta kolaborasi (dalam upaya konservasi).
D. DIMENSI PROFIL LULUSAN PEMBELAJARAN
Berdasarkan tujuan pembelajaran, dimensi profil lulusan yang akan dicapai dalam pembelajaran ini adalah:
Penalaran Kritis: Peserta didik akan menganalisis faktor-faktor persebaran, ancaman, dan mengevaluasi efektivitas upaya konservasi keragaman hayati.
Kreativitas: Peserta didik akan merumuskan ide-ide inovatif untuk konservasi atau pemanfaatan berkelanjutan keragaman hayati.
Kolaborasi: Peserta didik akan bekerja sama dalam kelompok untuk mengumpulkan data, menganalisis isu, dan merumuskan ide-ide solusi konservasi.
Komunikasi: Peserta didik akan menyampaikan hasil analisis, ide, dan argumen tentang keragaman hayati dan konservasinya secara lisan maupun tertulis dengan jelas.
Kewargaan: Peserta didik akan mengembangkan kesadaran dan kepedulian terhadap pentingnya menjaga keragaman hayati sebagai aset nasional dan global, serta memahami peran mereka sebagai warga negara yang bertanggung jawab.
DESAIN PEMBELAJARAN
A. CAPAIAN PEMBELAJARAN (CP) NOMOR : 32 TAHUN 2024
Pada akhir Fase F, peserta didik mampu menganalisis konsep keragaman hayati pada berbagai tingkatan (gen, spesies, ekosistem), mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi persebarannya secara geografis, mengevaluasi manfaat dan ancaman terhadapnya, serta merumuskan strategi konservasi yang berkelanjutan di Indonesia dan global.
B. LINTAS DISIPLIN ILMU YANG RELEVAN
Biologi: Konsep klasifikasi makhluk hidup, ekosistem, interaksi makhluk hidup, evolusi, genetika.
Kimia: Siklus biogeokimia, komposisi tanah dan air yang memengaruhi flora/fauna.
Sosiologi/Antropologi: Keterkaitan manusia dengan lingkungan, kearifan lokal dalam konservasi, konflik pemanfaatan sumber daya.
Pendidikan Kewarganegaraan: Peran pemerintah dan masyarakat dalam menjaga lingkungan, hukum lingkungan.
Sejarah: Perubahan lingkungan dan kepunahan spesies di masa lalu.
Matematika: Analisis data sederhana (misalnya, jumlah spesies).
C. TUJUAN PEMBELAJARAN
Pertemuan 1 (3 JP): Konsep & Persebaran Keragaman Hayati
2.1 Peserta didik mampu menjelaskan konsep keragaman hayati pada tingkat gen, spesies, dan ekosistem dengan benar, setelah membaca buku teks dan diskusi kelompok.
2.2 Peserta didik mampu menganalisis faktor-faktor geografis (iklim, edafik, topografi, biotik) yang memengaruhi persebaran flora dan fauna di Indonesia.
2.3 Peserta didik mampu mengidentifikasi karakteristik persebaran flora dan fauna di Indonesia (tipe Asiatis, Australis, dan Peralihan) serta menyebutkan contoh spesies di masing-masing wilayah.
Pertemuan 2 (3 JP): Manfaat & Ancaman Keragaman Hayati
2.4 Peserta didik mampu mengevaluasi berbagai manfaat keragaman hayati bagi kehidupan manusia dan lingkungan (ekonomi, ekologi, medis, estetika, budaya).
2.5 Peserta didik mampu menganalisis berbagai ancaman terhadap keragaman hayati di Indonesia (misalnya, deforestasi, perburuan ilegal, perubahan iklim, polusi, spesies invasif).
2.6 Peserta didik mampu memprediksi dampak yang terjadi apabila ancaman terhadap keragaman hayati tidak ditangani dengan baik.
Pertemuan 3 (3 JP): Upaya Konservasi & Proyek Pelestarian
2.7 Peserta didik mampu menjelaskan perbedaan dan contoh upaya konservasi in situ dan ex situ.
2.8 Peserta didik mampu mengevaluasi efektivitas berbagai upaya konservasi yang telah dilakukan pemerintah dan masyarakat.
2.9 Peserta didik mampu merancang dan mempresentasikan ide proyek inovatif untuk pelestarian keragaman hayati di lingkungan sekitar atau tingkat lokal.
D. TOPIK PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
"Mengapa Harimau Sumatera hanya ada di Sumatera, bukan di Jawa?"
"Apa yang terjadi jika semua hutan di Kalimantan habis?"
"Mengapa Komodo hanya ada di NTT?"
"Bagaimana cara kita melindungi hewan-hewan langka agar tidak punah?"
"Apa manfaat hutan mangrove di daerah pesisir bagi kita?"
"Apa saja jenis-jenis tanaman atau hewan unik yang ada di daerah sekitar kita?"
E. KERANGKA PEMBELAJARAN
PRAKTIK PEDAGOGIK:
Metode Pembelajaran: Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning) dan Diskusi Kelompok.
Eksplorasi Lapangan (Observasi Lingkungan Sekitar): Peserta didik dapat mengamati jenis-jenis tumbuhan atau hewan di lingkungan sekolah/sekitar rumah, atau mengunjungi taman kota/kebun raya lokal (jika memungkinkan).
Wawancara (Opsional/Simulasi): Peserta didik dapat mensimulasikan wawancara dengan penjaga kebun binatang/kebun raya, petugas konservasi, atau mencari informasi dari video wawancara yang sudah ada mengenai upaya konservasi.
Presentasi: Peserta didik akan mempresentasikan hasil proyek mereka (misalnya, desain kampanye konservasi, model ekosistem mini) di depan kelas.
MITRA PEMBELAJARAN:
Lingkungan Sekolah: Guru Biologi (untuk konsep ekosistem, klasifikasi), Guru Seni Budaya (untuk desain visual proyek).
Lingkungan Luar Sekolah: Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Taman Nasional/Hutan Konservasi (melalui informasi daring), Kebun Binatang/Kebun Raya, Komunitas Peduli Lingkungan lokal.
Masyarakat: Tokoh masyarakat yang terlibat dalam pelestarian lingkungan, petani lokal yang menerapkan pertanian berkelanjutan.
LINGKUNGAN BELAJAR:
Ruang Fisik: Ruang kelas (untuk diskusi, presentasi), perpustakaan (untuk mencari referensi), area taman sekolah/lingkungan sekitar (untuk observasi).
Ruang Virtual: Pemanfaatan platform Google Classroom untuk berbagi materi, forum diskusi daring, mengumpulkan laporan, dan memberikan umpan balik. Situs web Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), WWF Indonesia, atau lembaga konservasi lainnya sebagai sumber data dan informasi.
Budaya Belajar:
Kolaboratif: Peserta didik bekerja sama dalam kelompok untuk mengumpulkan data, menganalisis isu, dan merumuskan solusi konservasi.
Berpartisipasi Aktif: Peserta didik didorong untuk bertanya, berpendapat, dan berkontribusi aktif dalam setiap sesi pembelajaran dan diskusi.
Rasa Ingin Tahu: Guru memancing rasa ingin tahu peserta didik melalui gambar/video keindahan alam dan isu-isu lingkungan aktual.
PEMANFAATAN DIGITAL:
Perpustakaan Digital: Mengakses jurnal ilmiah, artikel berita, laporan survei tentang keragaman hayati dari sumber terpercaya (misalnya, situs KLHK, LIPI/BRIN, jurnal daring).
Forum Diskusi Daring: Menggunakan fitur diskusi di Google Classroom untuk berbagi ide, bertanya, dan memberikan masukan antar peserta didik atau kepada guru.
Penilaian Daring: Menggunakan Google Forms untuk kuesioner asesmen awal atau tes diagnostik.
Kahoot/Mentimeter: Digunakan sebagai ice-breaker, kuis interaktif, atau untuk mengumpulkan umpan balik singkat dari peserta didik secara anonim.
Google Classroom: Platform utama untuk manajemen kelas, distribusi materi, pengumpulan tugas, dan komunikasi.
Situs Web Lembaga Konservasi: Menggunakan situs resmi WWF Indonesia, BKSDA, atau taman nasional untuk mencari informasi tentang spesies terancam, upaya konservasi, atau data keragaman hayati.
F. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT)
Mindful Learning (Berkesadaran):
Guru memulai dengan menampilkan gambar/video pemandangan alam Indonesia yang indah dengan keragaman hayati tinggi dan gambar/video kerusakan lingkungan (misalnya, deforestasi, sampah di laut).
Guru mengajukan pertanyaan pemantik: "Apa perasaanmu saat melihat gambar-gambar ini? Mengapa hewan dan tumbuhan itu penting bagi kita? Apa yang akan terjadi jika semua keragaman itu hilang?" (Memicu kesadaran akan pentingnya keragaman hayati dan ancamannya).
Meaningful Learning (Bermakna):
Guru mengaitkan materi dengan berita terkini tentang isu lingkungan atau spesies langka yang terancam.
Guru menekankan bahwa pemahaman tentang keragaman hayati adalah dasar untuk menjadi generasi yang peduli dan mampu berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan.
Joyful Learning (Menggembirakan):
Guru dapat melakukan kuis interaktif singkat menggunakan Kahoot atau Mentimeter untuk menguji pengetahuan awal tentang hewan/tumbuhan endemik Indonesia atau istilah lingkungan sederhana.
KEGIATAN INTI (110 MENIT)
PERTEMUAN 1: KONSEP & PERSEBARAN KERAGAMAN HAYATI
Memahami (Mindful Learning):
Peserta didik secara individu membaca materi Bab 2 Sub-bab A dari buku teks atau sumber digital lainnya tentang pengertian keragaman hayati (gen, spesies, ekosistem) dan faktor persebaran. (Diferensiasi Konten: Peserta didik dapat memilih sumber bacaan yang paling sesuai dengan gaya belajar mereka, termasuk infografis atau video penjelasan dari YouTube).
Guru memfasilitasi diskusi kelompok kecil untuk membedakan ketiga tingkat keragaman hayati dan mengidentifikasi faktor-faktor persebaran.
Meaningful Learning: Guru menyajikan peta persebaran flora dan fauna di Indonesia (Garis Wallace & Weber) dan meminta peserta didik mendiskusikan mengapa ada perbedaan persebaran di wilayah barat, tengah, dan timur.
Mengaplikasi (Meaningful Learning):
Peserta didik dalam kelompok mencari contoh-contoh spesifik flora dan fauna endemik di masing-masing wilayah persebaran Indonesia. Mereka dapat membuat poster digital atau mind map sederhana. (Diferensiasi Proses: Guru memberikan scaffolding lebih untuk kelompok yang kesulitan mencari sumber, dan tantangan untuk mencari data lebih rinci untuk kelompok yang cepat memahami).
Merefleksi (Mindful Learning):
Guru meminta peserta didik menuliskan satu fakta menarik yang mereka pelajari tentang keragaman hayati Indonesia dan bagaimana mereka bisa berkontribusi menjaga kekayaan tersebut.
PERTEMUAN 2: MANFAAT & ANCAMAN KERAGAMAN HAYATI
Memahami (Mindful Learning):
Guru memfasilitasi diskusi kelas tentang berbagai manfaat keragaman hayati bagi kehidupan manusia.
Meaningful Learning: Peserta didik mencari berita atau artikel tentang ancaman terhadap keragaman hayati di Indonesia (misalnya, berita deforestasi, perburuan badak). Mereka diminta mengidentifikasi jenis ancaman dan dampaknya.
Mengaplikasi (Joyful & Meaningful Learning):
Peserta didik dalam kelompok menganalisis studi kasus (misalnya, kasus kepunahan harimau jawa, kerusakan terumbu karang akibat pariwisata) dan mengidentifikasi ancaman serta dampak yang timbul. Mereka dapat membuat infografis singkat tentang satu studi kasus. (Diferensiasi Proses: Guru menyediakan studi kasus dengan tingkat kompleksitas yang berbeda).
Merefleksi (Mindful Learning):
Setiap kelompok menuliskan satu pertanyaan yang masih ingin mereka ketahui tentang cara mengatasi ancaman terhadap keragaman hayati.
PERTEMUAN 3: UPAYA KONSERVASI & PROYEK PELESTARIAN
Memahami (Mindful Learning):
Guru memfasilitasi diskusi tentang perbedaan konservasi in situ dan ex situ serta contoh-contohnya.
Meaningful Learning: Peserta didik mengkaji berbagai program konservasi yang telah dilakukan oleh pemerintah atau LSM di Indonesia.
Mengaplikasi (Joyful & Meaningful Learning):
Proyek: Guru menjelaskan tugas proyek "Desain Inisiatif Konservasi Lokal" atau "Kampanye Edukasi Keragaman Hayati". Peserta didik dalam kelompok merancang ide inisiatif/kampanye untuk pelestarian keragaman hayati di lingkungan sekolah atau komunitas lokal. Ide dapat berupa program penanaman pohon, kampanye pengurangan sampah plastik, pembuatan poster edukasi, atau kegiatan pengamatan spesies lokal.
Setiap kelompok menyusun laporan proyek dan menyiapkan presentasi (bisa dalam bentuk poster, slide presentasi, video singkat, atau sketsa program) tentang ide inisiatif mereka, termasuk analisis masalah, tujuan, langkah-langkah, dan dampak yang diharapkan. (Diferensiasi Produk: Peserta didik dapat memilih format presentasi yang paling sesuai dengan minat dan kemampuan mereka).
Presentasi kelompok: Setiap kelompok mempresentasikan ide inisiatif mereka. Sesi tanya jawab dan umpan balik dari teman dan guru.
Merefleksi (Mindful Learning):
Umpan Balik Konstruktif: Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap proyek dan presentasi setiap kelompok, menyoroti kekuatan dan area untuk perbaikan.
Peserta didik secara individu mengisi jurnal reflektif mengenai seluruh proses pembelajaran Bab 2, termasuk:
Apa yang paling bermakna dari pembelajaran ini?
Apa kesulitan yang dihadapi dan bagaimana mengatasinya?
Pengetahuan dan keterampilan apa yang paling penting yang mereka dapatkan?
Bagaimana pengalaman ini mengubah pandangan mereka tentang pentingnya keragaman hayati dan peran mereka dalam melestarikannya?
Perencanaan Pembelajaran Selanjutnya: Guru mengajak peserta didik untuk mengidentifikasi isu-isu lingkungan lain yang ingin mereka eksplorasi lebih lanjut.
KEGIATAN PENUTUP (15 MENIT)
Umpan Balik Konstruktif & Menyimpulkan (Mindful Learning):
Guru memberikan penguatan materi inti yang telah dipelajari dan memberikan umpan balik umum terhadap keseluruhan proses pembelajaran.
Peserta didik secara kolaboratif merumuskan kesimpulan utama dari pembelajaran Bab 2.
Perencanaan Pembelajaran Selanjutnya (Meaningful Learning):
Guru memfasilitasi diskusi singkat tentang bagaimana pengetahuan tentang keragaman hayati dapat menginspirasi mereka untuk menjadi pelindung lingkungan di masa depan.
Guru menginformasikan materi atau topik selanjutnya dan mengaitkannya dengan pembelajaran yang baru saja selesai.
Apresiasi & Penutup (Joyful Learning):
Guru memberikan apresiasi atas partisipasi dan kerja keras semua peserta didik.
Doa penutup.
G. ASESMEN PEMBELAJARAN
ASESMEN AWAL PEMBELAJARAN (DIAGNOSTIK)
Tujuan: Mengidentifikasi pengetahuan awal dan kesiapan peserta didik mengenai konsep dasar lingkungan dan keragaman makhluk hidup.
Kuesioner Singkat (Google Forms): Berisi pertanyaan tentang hewan/tumbuhan apa yang mereka ketahui, di mana mereka biasanya ditemukan, dan mengapa beberapa hewan/tumbuhan menjadi langka.
TES DIAGNOSTIK SINGKAT (PILIHAN GANDA/ISIAN SINGKAT):
Soal 1: Apa yang Anda pahami tentang "lingkungan hidup"?
Soal 2: Sebutkan minimal 3 jenis hewan atau tumbuhan yang Anda kenal di Indonesia!
Soal 3: Mengapa hutan penting bagi kehidupan manusia?
Soal 4: Apa yang dimaksud dengan "spesies langka"? Berikan satu contoh!
Soal 5: Menurut Anda, mengapa kita perlu menjaga kelestarian alam?
ASESMEN PROSES PEMBELAJARAN (FORMATIF)
Tujuan: Memantau kemajuan belajar peserta didik, memberikan umpan balik berkelanjutan, dan mengidentifikasi area yang membutuhkan dukungan lebih lanjut.
Diskusi Kelompok: Observasi keaktifan, kualitas argumen, dan kolaborasi peserta didik dalam diskusi.
Soal 1: Apakah setiap anggota kelompok berpartisipasi aktif dalam membedakan tingkat keragaman hayati?
Soal 2: Bagaimana kelompok Anda menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi persebaran flora dan fauna?
Soal 3: Apakah kelompok Anda mampu mengidentifikasi ancaman utama terhadap keragaman hayati dari studi kasus yang diberikan?
Soal 4: Apakah kelompok Anda memberikan umpan balik konstruktif pada saat presentasi kelompok lain?
Soal 5: Sejauh mana kelompok Anda berkolaborasi dalam merumuskan ide inisiatif konservasi?
Tugas Harian: Observasi pengerjaan lembar kerja identifikasi spesies endemik atau analisis kasus ancaman keragaman hayati.
Presentasi Rancangan Proyek Inisiatif Konservasi: Penilaian terhadap kelengkapan, kejelasan, dan orisinalitas ide yang akan dikembangkan.
Soal 1: Seberapa jelas dan orisinal ide inisiatif yang disajikan kelompok Anda?
Soal 2: Apakah ide inisiatif tersebut relevan dengan masalah keragaman hayati di lingkungan sekitar?
Soal 3: Apakah kelompok Anda menjelaskan langkah-langkah implementasi ide dengan logis?
Soal 4: Bagaimana kelompok Anda mengidentifikasi potensi tantangan dalam pelaksanaan ide?
Soal 5: Apakah kelompok Anda memiliki strategi yang baik untuk menyajikan ide dan potensi dampaknya?
ASESMEN AKHIR PEMBELAJARAN (SUMATIF)
Tujuan: Mengukur pemahaman komprehensif peserta didik terhadap materi dan kemampuan mereka dalam mengaplikasikan pengetahuan melalui proyek.
Proyek (Desain Inisiatif Konservasi Lokal/Kampanye Edukasi): Penilaian holistik terhadap seluruh proses proyek, dari analisis masalah, perumusan ide, hingga presentasi.
Soal 1: (Rubrik Penilaian Proyek) Apakah ide inisiatif yang Anda presentasikan menunjukkan pemahaman mendalam tentang konsep keragaman hayati dan ancamannya?
Soal 2: (Rubrik Penilaian Proyek) Apakah rancangan inisiatif Anda realistis, aplikatif, dan memiliki potensi dampak positif bagi pelestarian keragaman hayati?
Soal 3: (Rubrik Penilaian Presentasi Proyek) Seberapa jelas dan menarik presentasi kelompok Anda dalam menyampaikan ide inisiatif?
Soal 4: (Rubrik Penilaian Presentasi Proyek) Apakah kelompok Anda mampu menjawab pertanyaan dari teman dan guru dengan argumentasi yang kuat dan berbasis data/fakta?
Soal 5: (Soal Reflektif Individu) Dari proyek yang telah Anda lakukan, apa pembelajaran paling berharga yang Anda dapatkan tentang peran individu atau komunitas dalam upaya pelestarian keragaman hayati?
Jurnal Reflektif Individu: Penilaian terhadap kemampuan refleksi diri, kesadaran akan proses belajar, dan pemaknaan materi.
TES TERTULIS:
Soal 1: Jelaskan perbedaan antara keragaman hayati tingkat gen, spesies, dan ekosistem, berikan masing-masing 1 contoh di Indonesia!
Soal 2: Analisis 3 faktor non-klimatik (edafik, topografi, biotik) yang memengaruhi persebaran flora dan fauna di suatu wilayah, berikan contoh relevansinya!
Soal 3: Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversity. Jelaskan mengapa hal ini sangat penting bagi pembangunan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan di Indonesia!
Soal 4: Identifikasi 2 ancaman terbesar terhadap keragaman hayati di wilayah tempat tinggal Anda (atau di Indonesia secara umum), serta jelaskan bagaimana ancaman tersebut dapat menyebabkan kepunahan spesies.
Soal 5: Sebagai seorang pelajar, berikan 2 usulan konkret upaya yang dapat Anda lakukan untuk berpartisipasi dalam pelestarian keragaman hayati di lingkungan sekolah atau komunitas Anda. Jelaskan alasan dan langkah-langkah singkatnya!
| Contoh Modul Ajar Deep Learning Bahasa Indonesia Fase A Kelas 1 SD BAB 8 Di Sekitar Rumah Semester 2 |
|
|---|
| Contoh Modul Ajar Deep Learning Bahasa Indonesia Fase A Kelas 1 SD Bab 7 Aku Ingin Semester 2 |
|
|---|
| Contoh Modul Ajar Deep Learning Bahasa Indonesia Fase A Kelas 1 SD Bab 6 Temanku Berbeda Semester 2 |
|
|---|
| Contoh Modul Ajar Deep Learning Bahasa Indonesia Fase A Kelas 1 SD Bab 5 Teman Baru Semester 2 |
|
|---|
| Contoh Modul Ajar Deep Learning Informatika Kelas 11 SMA, Bab 6 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/CONTOH-Modul-Ajar-Deep-Learning-Geografi-Kelas-11-SMA-Bab-2-Keragaman-Hayati.jpg)