Polrestabes Palembang Sulap Eceng Gondok Menjadi Pakan Unggas dan Ikan
Jajaran Polrestabes Palembang menghadirkan solusi kreatif terhadap eceng gondok yang sering dianggap menganggu sungai.
Penulis: Andi Wijaya | Editor: Refly Permana
"Hasil akhirnya berupa pakan yang lebih ramah lingkungan, berbahan alami tanpa tambahan bahan kimia, serta memiliki biaya produksi yang lebih murah dibandingkan pakan komersial yang banyak beredar di pasaran," tambah Ipda M. Agung Firdaus.
Untuk memastikan kualitas dan keamanan produk, pakan berbahan dasar eceng gondok tersebut telah menjalani serangkaian pengujian laboratorium.
Sampel produk dikirim ke PT Sucofindo untuk dilakukan pengujian secara komprehensif. Pengujian meliputi kadar air, kadar abu, protein, lemak, serat kasar, pengujian logam berat, hingga analisis mikrobiologi guna memastikan keamanan dan standar mutu produk.
Selain itu, pengujian juga dilakukan di Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya (Unsri), termasuk di Laboratorium Kimia, Pengolahan, dan Sensoris Hasil Pertanian Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Unsri.
Tidak hanya diuji di laboratorium, pakan unggas dan ikan presisi tersebut juga telah melalui uji coba lapangan selama kurang lebih empat bulan.
Untuk unggas, pakan diberikan kepada ayam potong sejak usia dua hari hingga 40 hari. Hasilnya cukup menggembirakan.
Ayam yang awalnya berbobot sekitar 114 gram mampu mencapai berat sekitar 2,2 kilogram pada usia 40 hari.
Hasil tersebut tidak jauh berbeda dibandingkan ayam yang mengonsumsi pakan komersial.
Sementara pada sektor perikanan, uji coba dilakukan menggunakan 700 ekor ikan nila yang dibagi menjadi dua kelompok.
Sebanyak 350 ekor ikan nila diberikan pakan komersial yang beredar di pasaran, sedangkan 350 ekor lainnya diberikan pakan unggas dan ikan presisi berbahan dasar eceng gondok.
Hasilnya menunjukkan performa yang sangat baik. Pada saat panen, kelompok ikan nila yang diberi pakan berbahan dasar eceng gondok mampu menghasilkan sekitar 175 kilogram ikan nila.
"Dari hasil panen tersebut, rata-rata untuk menghasilkan satu kilogram ikan nila dibutuhkan sekitar empat hingga lima ekor ikan. Hasil pertumbuhannya cukup baik dan tidak berbeda jauh dibandingkan penggunaan pakan komersial," terang Agung Firdaus.
Kasat Polairud Polrestabes Palembang AKBP Yudha juga mengatakan inovasi tersebut lahir dari kepedulian terhadap kondisi Sungai Musi yang selama ini dipenuhi gulma eceng gondok.
"Inovasi ini diinisiasi langsung oleh Bapak Kapolrestabes Palembang. Beliau melihat adanya permasalahan gulma perairan yang mengganggu alur pelayaran dan aktivitas masyarakat di Sungai Musi. Dari situ muncul gagasan untuk mengubah eceng gondok menjadi produk yang bermanfaat serta memiliki nilai ekonomis," kata Yudha.
Menurutnya, manfaat program ini sangat luas. Selain membantu membersihkan sungai dari gulma yang mengganggu, hasil pengolahannya juga dapat menekan biaya produksi para peternak dan pembudidaya ikan karena harga pakan menjadi lebih terjangkau.
| Tak Terima Teman Wanita Ditegur, Tiga Pria di Palembang Keroyok Remaja hingga Babak Belur |
|
|---|
| Wanita di Palembang Ini Tertipu Tiket Konser BTS, Rugi Rp4,4 Juta Usai Transfer ke Penjual di TikTok |
|
|---|
| Ditipu Agen Travel, Satu Keluarga di Palembang Gagal Umrah dan Rugi Rp 90 Juta |
|
|---|
| Dituduh Pelakor, IRT di Kertapati Palembang Dipukuli Oleh Seorang Perempuan Hingga Alami Luka Lebam |
|
|---|
| Tampang Pelaku Jambret yang Kerap Beraksi di Jakabaring Palembang, Satu Orang Masih Buron |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/ecengondoktabes.jpg)