Berita Palembang

Peringati Hari Jamu Nasional 2026, BPOM Palembang Bagikan Jamu Gratis dan Edukasi Kesehatan di CFD

Pada kegiatan puncak tersebut, masyarakat dapat menikmati jamu gratis sekaligus memperoleh edukasi mengenai obat bahan alam.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Linda Trisnawati | Editor: pairat
Sripoku.com/Linda Trisnawati
Minum Jamu Gratis - Dalam rangka Minum Jamu Gratis - Dalam rangka memperingati Hari Jamu Nasional Tahun 2026, Balai Besar POM di Palembang bagikan minuman jamu secara gratis di kawasan Car Free Day (CFD), Minggu (7/6/2026) Balai Besar POM di Palembang bagikan minuman jamu secara gratis di kawasan Car Free Day (CFD), Minggu (7/6/2026). 

Ringkasan Berita:
  1. Balai Besar POM di Palembang membagikan jamu gratis dan menggelar edukasi kesehatan dalam rangka Hari Jamu Nasional 2026 di kawasan Car Free Day (CFD)
  2. Kegiatan ini bertujuan mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk kembali mengonsumsi jamu sebagai warisan budaya Indonesia. 
  3. BPOM juga mengingatkan masyarakat agar memilih jamu yang memiliki izin edar dan tidak mengandung bahan kimia obat berbahaya.
 

 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Dalam rangka memperingati Hari Jamu Nasional 2026, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Palembang menggelar kampanye kesehatan sekaligus pelestarian budaya minum jamu di kawasan Car Free Day (CFD), Minggu (7/6/2026).

Pada kegiatan puncak tersebut, masyarakat dapat menikmati jamu gratis sekaligus memperoleh edukasi mengenai obat bahan alam.

Kepala Balai Besar POM di Palembang, Yani Ardiyanti, S.Farm., Apt., M.Sc., mengatakan kawasan CFD dipilih karena dinilai strategis untuk menjangkau masyarakat secara luas, terutama dalam mengedukasi manfaat jamu sebagai warisan budaya takbenda Indonesia.

"Mengingat tingginya antusiasme masyarakat di area Car Free Day, kami menilai kawasan tersebut sangat strategis untuk mengedukasi masyarakat mengenai manfaat jamu," ujar Yani saat kegiatan berlangsung.

Menurut Yani, peringatan Hari Jamu Nasional tahun ini tidak hanya berlangsung sehari, melainkan digelar selama sepekan dengan berbagai kegiatan edukatif. Puncaknya, masyarakat diajak menikmati jamu gratis yang disediakan bersama sejumlah produsen jamu, termasuk peracik jamu tradisional atau yang dikenal sebagai mbok jamu.

"Kami bekerja sama dengan beberapa produsen jamu, termasuk mbok jamu yang menyediakan jamu secara langsung. Kami ingin mengajak masyarakat untuk kembali mengonsumsi jamu. Selama ini jamu identik dengan rasa pahit dan dikonsumsi oleh orang tua, padahal kami ingin memasyarakatkan kembali jamu agar diminati generasi muda," jelasnya.

Ia menambahkan, melalui kegiatan tersebut pihaknya ingin mengangkat kembali kearifan lokal agar produk jamu semakin dikenal, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional.

Selain pembagian jamu gratis, Balai Besar POM juga memberikan edukasi terkait bahaya penggunaan bahan kimia obat (BKO) dalam jamu. Menurut Yani, kandungan BKO dapat membahayakan kesehatan dan berisiko merusak organ tubuh, terutama ginjal, secara perlahan.

Yani juga menekankan pentingnya edukasi mengenai pangan dan produk kesehatan yang aman, termasuk cara mengenali jamu yang legal dan memiliki izin edar resmi. Menurutnya, jamu yang baik berfungsi untuk menjaga daya tahan tubuh, bukan mengobati penyakit secara langsung.

"Jika ada jamu yang mengklaim dapat menyembuhkan penyakit atau memberikan efek sembuh secara instan, masyarakat patut mencurigai adanya kandungan bahan kimia obat," katanya.

Ia menjelaskan, masyarakat juga dapat mengenali jamu ilegal dari kemasan yang tidak memenuhi ketentuan, seperti tidak memiliki izin edar, label yang tidak lengkap, penggunaan bahasa yang tidak sesuai, atau klaim yang menyesatkan.

Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Palembang, dr. Yuli Kurniawati, Sp.D.V.E., Subsp.D.K.E., FINSDV, FAADV, menyatakan dukungannya terhadap kegiatan edukasi jamu tersebut.

Menurutnya, jamu merupakan bagian dari kearifan lokal yang perlu dilestarikan selama diproduksi dengan cara yang benar dan tidak dicampur bahan berbahaya.

"Kami mendukung bahwa jamu tidak boleh mengandung bahan kimia obat. Jamu merupakan bagian dari kearifan lokal dan banyak penelitian telah membuktikan manfaatnya bagi kesehatan," ujar Yuli.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved