Berita Palembang

Ahli Veteriner Sumsel Desak Penanganan Hantavirus Lewat Pendekatan One Health

Pejabat Otoritas Veteriner Provinsi Sumatera Selatan, Dr. drh. Jafrizal, MM, menegaskan bahwa merebaknya populasi tikus

Tayang:
Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Yandi Triansyah
Gemini AI
ILUSTRASI - Munculnya ancaman penyakit Hantavirus menjadi peringatan serius mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan sanitasi lingkungan.  

Ringkasan Berita:
  • Ancaman penyakit Hantavirus menjadi peringatan serius mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan sanitasi lingkungan. 
  • Penyakit zoonosis ini menular ke manusia melalui paparan urine, air liur, maupun kotoran tikus yang mengering dan terhirup, dapat memicu gangguan pernapasan serius hingga kematian.
  • Hantavirus tidak boleh dipahami semata sebagai persoalan medis manusia, melainkan persoalan ekosistem yang membutuhkan keterlibatan seluruh sektor melalui pendekatan One Health

SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Munculnya ancaman penyakit Hantavirus menjadi peringatan serius mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan sanitasi lingkungan. 

Penyakit zoonosis ini menular ke manusia melalui paparan urine, air liur, maupun kotoran tikus yang mengering dan terhirup, yang dalam kondisi berat dapat memicu gangguan pernapasan serius hingga kematian.

Pejabat Otoritas Veteriner Provinsi Sumatera Selatan, Dr. drh. Jafrizal MM, menegaskan bahwa merebaknya populasi tikus (rodensia) pembawa penyakit merupakan indikator adanya persoalan tata kelola lingkungan yang belum optimal. 

Tikus berkembang pesat pada area dengan sanitasi buruk, seperti tumpukan sampah, saluran air kotor, hingga gudang pangan terbuka.

"Hantavirus tidak boleh dipahami semata sebagai persoalan medis manusia, melainkan persoalan ekosistem yang membutuhkan keterlibatan seluruh sektor melalui pendekatan One Health," ujar drh. Jafrizal, Selasa (12/5/2026).

Menurutnya, dalam perspektif kedokteran hewan, meningkatnya populasi rodensia tidak pernah terjadi tanpa sebab.

Tikus berkembang pesat ketika lingkungan menyediakan ruang hidup ideal, seperti tumpukan sampah, sanitasi buruk, saluran air yang kotor, gudang pangan terbuka, serta lemahnya pengelolaan kebersihan lingkungan.

"Karena itu, keberadaan tikus sejatinya menjadi indikator adanya persoalan tata kelola lingkungan yang belum optimal," katanya. 

Dokter hewan memandang zoonosis sebagai hasil interaksi antara manusia, hewan, dan lingkungan. 

Ketika keseimbangan tersebut terganggu, maka risiko penularan penyakit akan meningkat.

Hantavirus menjadi contoh nyata bagaimana buruknya sanitasi dan lemahnya pengendalian lingkungan dapat berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat.

"Rodensia juga diketahui berperan dalam penyebaran berbagai penyakit lain seperti leptospirosis, salmonellosis, hingga infeksi berbahaya lainnya," katanya. 

Menurutnya, dalam penanganannya tidak bisa sektoral. Penanganan Hantavirus tidak dapat dibebankan hanya kepada satu institusi.

Dibutuhkan kerja lintas sektor dan tanggung jawab kolektif pemerintah daerah.

"Dinas Kesehatan memiliki peran utama dalam surveilans penyakit, deteksi dini kasus, edukasi masyarakat, penanganan pasien, hingga pelaporan epidemiologi. Kewaspadaan dini menjadi sangat penting agar kasus tidak berkembang menjadi kejadian luar biasa," katanya. 

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved