Berita Palembang

Pascalebaran, Sumatera Selatan Alami Deflasi 0,04 Persen pada April 2026

Namun, secara tahunan (year-on-year), Sumatera Selatan masih mengalami inflasi sebesar 1,63 persen dengan IHK mencapai 111,09.

Tayang:
Penulis: Linda Trisnawati | Editor: tarso romli
SRIPOKU.COM/Ilustrasi AI/tidak ada
ILUSTRASI - Ilustrasi aktivitas jual beli di pasar tradisional Cinde Palembang. 
Ringkasan Berita:
  • Sumatera Selatan mengalami penurunan harga (deflasi) sebesar 0,04 persen pada April 2026 akibat normalisasi harga pangan pasca-Lebaran.
  • Komoditas seperti daging ayam ras, telur, dan cabai rawit menjadi penyumbang deflasi terbesar yang menyeimbangkan kenaikan harga BBM nonsubsidi.
  • Meski deflasi secara bulanan, secara tahunan Sumsel masih inflasi 1,63 persen, dengan kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.

 

Baca juga: Bandit Curanmor Todongkan Pistol ke Polisi, Komplotan yang Sudah Lebih 20 Kali Beraksi di Ogan Ilir


SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Provinsi Sumatera Selatan mencatatkan deflasi sebesar 0,04 persen secara bulanan (month-to-month) pada April 2026. Penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) ini sebagian besar dipicu oleh merosotnya harga sejumlah komoditas pangan setelah melewati periode Hari Raya Idulfitri.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan, Mohammad Wahyu Yulianto, menjelaskan bahwa kelompok pangan memberikan andil deflasi terbesar, yakni 0,05 persen.

Tren penurunan ini dinilai sebagai koreksi pasar yang wajar setelah Sumsel mengalami inflasi berturut-turut sejak awal tahun.

"Jika melihat tren Januari hingga Maret, Sumsel terus mengalami inflasi. Setelah itu, harga cenderung turun. Tidak mungkin harga naik terus, meskipun ada beberapa komoditas yang masih merangkak naik, seperti tarif BBM nonsubsidi," ujar Wahyu saat memberikan keterangan di Kantor BPS Sumsel, Senin (4/5/2026).

Beberapa komoditas utama yang menjadi penyumbang deflasi antara lain daging ayam ras dengan andil 0,14 persen, telur ayam ras 0,06 persen, cabai rawit 0,04 persen, serta tomat dan bawang putih masing-masing 0,02 persen.

Penurunan harga-harga inilah yang menahan laju inflasi jangka pendek di wilayah Sumsel.

Namun, secara tahunan (year-on-year), Sumatera Selatan masih mengalami inflasi sebesar 1,63 persen dengan IHK mencapai 111,09.

Kota Lubuklinggau mencatatkan inflasi tahunan tertinggi sebesar 1,79 persen, sementara Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) terendah dengan angka 1,32 persen.

Kenaikan harga tahunan ini didorong oleh sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak hingga 12,37 persen, disusul kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Adapun secara kumulatif tahun berjalan (year-to-date), inflasi Sumsel hingga April 2026 tercatat berada di angka 0,88 persen.

Simak berita menarik lainnya di sripoku.com dengan mengklik Google News.

Baca juga: Buaya Muara Tiga Meter Masuk Perangkap Warga di Desa Gasing, Petugas Damkar Turun Tangan

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved