Idul Fitri
Mengapa Penentuan 1 Syawal Muhammadiyah dan Pemerintah Berbeda? Ini Penjelasannya
Penentuan 1 Syawal di Indonesia bisa berbeda antara Muhammadiyah dan pemerintah karena penggunaan metode hisab dan rukyat.
Penulis: Novry Anggraini | Editor: Novry Anggraini Rizki Utami
Ringkasan Berita:
- Perbedaan penentuan 1 Syawal antara Muhammadiyah dan pemerintah disebabkan oleh perbedaan metode, yaitu hisab dan rukyat.
- Muhammadiyah menggunakan hisab dengan kriteria wujudul hilal, sedangkan pemerintah memakai rukyat dengan standar imkanur rukyat.
- Kedua metode memiliki dalil yang kuat, sehingga perbedaan yang terjadi merupakan hal yang wajar dalam Islam dan perlu disikapi dengan toleransi.
SRIPOKU.COM - Perbedaan penentuan 1 Syawal antara Muhammadiyah dan pemerintah Indonesia kerap terjadi hampir setiap tahun.
Hal ini sering menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri.
Meski berbeda, kedua pihak sebenarnya sama-sama memiliki dasar metode cara melihat hilal dan dalilnya.
Perbedaan ini bukanlah bentuk pertentangan, melainkan hasil dari cara penetapan yang berbeda dalam memahami munculnya hilal.
Baca juga: Cara Menentukan Hilal dalam Islam: Metode Rukyat dan Hisab yang Perlu Diketahui
Kedua metode hisab dan rukyat memiliki landasan syariat yang kuat, sehingga perbedaan yang terjadi tetap berada dalam koridor yang dibenarkan dalam Islam.
- Metode Muhammadiyah: Hisab Hakiki Wujudul Hilal
Muhammadiyah menggunakan metode hisab, yaitu perhitungan astronomi, dengan kriteria wujudul hilal. Artinya, bulan baru dianggap sudah masuk jika:
- Telah terjadi ijtimak (konjungsi)
- Bulan berada di atas ufuk (meski sangat tipis)
Dengan metode ini, penentuan awal bulan bisa diketahui jauh hari sebelumnya tanpa harus menunggu hasil pengamatan langsung.
- Metode Pemerintah: Rukyat dan Imkanur Rukyat
Pemerintah Indonesia menggunakan metode rukyat (pengamatan langsung) yang didukung oleh hisab. Penetapan dilakukan melalui sidang isbat dengan mempertimbangkan kriteria imkanur rukyat (kemungkinan hilal terlihat), yaitu:
- Tinggi hilal minimal tertentu
- Jarak sudut bulan dan matahari memenuhi syarat visibilitas
Jika hilal tidak terlihat, maka bulan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).
Baca juga: Hilal Belum Terlihat, Ketua PCNU Palembang Prakirakan Idul Fitri 1447 H Jatuh pada Sabtu 21 Maret
Dalil Penentuan Hilal
Dasar utama penentuan awal bulan dalam Islam adalah hadis Nabi Muhammad SAW:
“Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. Jika tertutup (tidak terlihat), maka sempurnakanlah bilangan bulan menjadi 30 hari.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi dasar metode rukyat. Sementara metode hisab digunakan sebagai bentuk pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk mendukung kepastian waktu.
Mengapa Terjadi Perbedaan?
| Momen Lebaran Idul Fitri: Waktu Terbaik Meminta Maaf kepada Orang Tua dan Saudara |
|
|---|
| Hikmah Puasa Syawal: Amalan Sunnah Penuh Keutamaan Setelah Hari Raya Idul Fitri |
|
|---|
| Asal Usul Kata Mudik, Tradisi Pulang Kampung yang Identik dengan Lebaran Idul Fitri 2026 |
|
|---|
| Kata Mutiara Silaturahmi Idul Fitri 2026, Penuh Makna untuk Pererat Tali Persaudaraan |
|
|---|
| Sunnah Silaturahmi Saat Idul Fitri, Tradisi Lebaran yang Penuh Makna dan Pahala |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/penentuan-1-Syawal-antara-Muhammadiyah-dan-pemerintah-Indonesia.jpg)