Idul Fitri

Cara Menentukan Hilal dalam Islam: Metode Rukyat dan Hisab yang Perlu Diketahui

Penentuan hilal dalam Islam dilakukan melalui dua metode utama, yaitu rukyat (pengamatan langsung) dan hisab (perhitungan astronomi).

Tayang:
Penulis: Novry Anggraini | Editor: Novry Anggraini Rizki Utami
Ilustrasi AI
ILUSTRASI Proses penentuan hilal menjadi momen penting bagi umat Islam karena berkaitan langsung dengan pelaksanaan idul fitri. 

Ringkasan Berita:
  • Penentuan hilal dalam Islam dilakukan melalui dua metode utama, yaitu rukyat (pengamatan langsung) dan hisab (perhitungan astronomi).
  • Kedua metode memiliki dasar dalil yang kuat dan digunakan untuk menentukan awal bulan Hijriah seperti Ramadan dan Idulfitri.
  • Di Indonesia, hasil rukyat dan hisab digabungkan dalam sidang isbat untuk menetapkan awal bulan secara resmi.

 

SRIPOKU.COM - Penentuan awal bulan dalam kalender Islam, termasuk Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah, sangat bergantung pada terlihatnya hilal atau bulan sabit pertama.

Proses ini menjadi momen penting bagi umat Islam karena berkaitan langsung dengan pelaksanaan ibadah seperti puasa dan hari raya.

Di Indonesia, penentuan hilal kerap menjadi perhatian publik setiap menjelang Ramadan dan Idul fitri.

Perbedaan metode yang digunakan terkadang memunculkan perbedaan awal bulan, namun semuanya tetap memiliki dasar syariat dalam Islam.

Baca juga: Naskah Khutbah Idul Fitri 1447 H: Mempertahankan Cahaya Ramadan dalam Kehidupan

Penentuan hilal dalam Islam dilakukan melalui dua metode utama, yaitu rukyat (pengamatan langsung) dan hisab (perhitungan astronomi).

Kedua metode ini memiliki landasan dalil dan digunakan oleh berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk menetapkan awal bulan Hijriah.

Apa Itu Hilal?

Hilal adalah bulan sabit pertama yang muncul setelah terjadinya ijtimak (konjungsi), yaitu saat matahari, bulan, dan bumi berada dalam satu garis lurus.

Kemunculan hilal menandai dimulainya bulan baru dalam kalender Hijriah.

1. Rukyat (Pengamatan Langsung)

Rukyat adalah metode melihat hilal secara langsung dengan mata telanjang atau menggunakan alat bantu seperti teleskop.

Metode ini didasarkan pada hadis Nabi Muhammad SAW:

“Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah (Idulfitri) karena melihat hilal…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika hilal terlihat, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai awal bulan baru.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved