Retret Laskar Satria Pandu
Siswa Nakal di Sumsel Bakal Dibina di Program Retret Selama 14 Hari, Anak Putus Sekolah Bisa Ikut
Program ini diinisiasi langsung oleh Gubernur Sumsel, Herman Deru, sebagai bentuk kepedulian terhadap perkembangan karakter anak-anak
Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Odi Aria
SRIPOKU.COM, PALEMBANG- Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Pemprov Sumsel) tengah menyiapkan program retret bertajuk Laskar Satria Pandu, sebuah pelatihan pembentukan karakter bagi generasi muda yang akan digelar di Bumi Perkemahan Gandus dan pusat pelatihan milik Pemprov Sumsel.
Program ini diinisiasi langsung oleh Gubernur Sumsel, Herman Deru, sebagai bentuk kepedulian terhadap perkembangan karakter anak-anak, khususnya di tengah meningkatnya kasus kenakalan remaja.
Sasaran dari program ini adalah siswa-siswa berprestasi maupun anak-anak yang terindikasi terlibat perilaku menyimpang, baik yang masih bersekolah maupun tidak.
“Retret ini akan membentuk karakter anak-anak. Karena secerdas apa pun mereka, tanpa karakter yang baik, semuanya tidak ada gunanya,” ujar Herman Deru dalam wawancara di The Sultan Convention Center, Rabu (11/6/2025).
Program ini dirancang dalam dua kategori peserta, yakni anak-anak yang masih bersekolah dan mereka yang sudah putus sekolah.
Keduanya akan ditempatkan dalam kelas yang berbeda agar pendekatan pembinaannya lebih tepat sasaran.
Selain itu, pelaksanaan program juga melibatkan pemerintah kabupaten/kota, di mana jenjang SD dan SMP menjadi tanggung jawab kabupaten/kota, dan jenjang SMA menjadi tanggung jawab provinsi.
Sekretaris Daerah (Sekda) Sumsel, Edward Candra, menambahkan bahwa Laskar Satria Pandu bertujuan mencetak calon pemimpin masa depan yang memiliki karakter kuat dan menjadi teladan di lingkungan sekitarnya.
“Ini penting karena kita melihat ada tren peningkatan kasus seperti tawuran, perundungan, penyalahgunaan narkoba, hingga geng motor.
Maka dari itu, kita ambil langkah nyata untuk membina mereka sebelum terlambat,” ujarnya.
Program retret ini memiliki dua pendekatan, yaitu preventif dan kuratif. Pendekatan preventif ditujukan bagi seluruh siswa sebagai upaya mencegah perilaku menyimpang sejak dini.
Sedangkan pendekatan kuratif menyasar siswa yang telah teridentifikasi berisiko untuk direhabilitasi dan diarahkan kembali ke lingkungan yang positif.
“Pendekatan kuratif ini fokus pada pemulihan semangat dan integritas pribadi para peserta yang sempat menyimpang,” kata Edward.
Retret akan berlangsung selama 14 hari saat masa libur sekolah, agar tidak mengganggu kegiatan belajar-mengajar.
Lokasi pelatihan dipilih karena memiliki fasilitas yang memadai, mulai dari area latihan fisik, ruang kelas, hingga akomodasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/RETRET-SISWA-NAKAL.jpg)