Opini
Trump, Prabowo, dan Program Regsosek
Kondisi yang mengutamakan national interest masing-masing bangsa akan membentuk kondisi perekonomian global yang tidak kondusif.
HARI ini kita memasuki minggu kedua perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina. Kebijakan Presiden Xi Jinping yang menaikkan tarif impor barang 125 persen terhadap barang dari Amerika Serikat merupakan kebijakan balasan yang gagah berani terhadap kebijakan Trump yang telah menaikkan tarif pajak impor barang terhadap banyak negara di dunia, termasuk Indonesia. Meminjam pernyataan yang disampaikan oleh PM Singapura, salah satu kekhawatiran yang timbul dari perang dagang ini adalah timbulnya ketidakpercayaan lagi terhadap sistem yang dibuat oleh World Trade Organization (WTO) sejak Perang Dunia II, sebagaimana dahulu Jerman mengingkari sistem Liga Bangsa-Bangsa (LBB). Kondisi yang mengutamakan national interest masing-masing bangsa akan membentuk kondisi perekonomian global yang tidak kondusif, seperti saat periode Perang Dingin dahulu, di mana hal itu dapat menjadi pemicu terciptanya alasan untuk melakukan Perang Dunia Ketiga.
Untungnya, kondisi kritikal dan darurat seperti yang terjadi sekarang dapat disikapi dengan kesatria oleh Presiden Prabowo yang merangkap sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara. Aksi strategis yang dilakukan Presiden Prabowo mulai dari: 1) mendirikan Danantara sebagai lembaga penjamin dana untuk pembangunan nasional, 2) melakukan dialog 3 jam bersama para jurnalis senior Indonesia yang menjawab semua kegelisahan rakyat, 3) mengadakan sarasehan ekonomi nasional selama 3 jam yang dihadiri semua pemangku kepentingan (birokrat, pengusaha, buruh, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan bidang keuangan terkait) untuk mewujudkan optimisme ekonomi nasional, 4) konsolidasi pemimpin luar negeri guna membuka peluang terbukanya pasar baru selain Amerika Serikat untuk industri padat karya, 5) pencanangan program swasembada, dan 6) endorsement Presiden Prabowo Subianto terhadap program Regsosek.
* PULL OUT 1 Program Regsosek adalah perangkat lunak yang dibangun oleh pemerintah guna mengumpulkan data terkait kondisi demografis penduduk, sanitasi air bersih, tingkat kesejahteraan, dan informasi sosial lainnya dari tiap penduduk yang ada di Indonesia hingga tingkat rukun tetangga (RT).
Program Regsosek adalah perangkat lunak yang dibangun oleh pemerintah guna mengumpulkan data terkait kondisi demografis penduduk, sanitasi air bersih, tingkat kesejahteraan, dan informasi sosial lainnya dari tiap penduduk yang ada di Indonesia hingga tingkat rukun tetangga (RT). Per tahun 2024, Regsosek memiliki 232.474.312 data penduduk Indonesia yang telah dipadankan. Dari sisi IT, kami melihat ketersediaan data yang hampir mencapai 95?ri total populasi menjadi modal berharga bagi pemerintahan Bapak Prabowo yang dapat membuat multiplier effect, baik dari sisi perangkat keras maupun perangkat lunak.
Dari sisi perangkat keras, perluasan cakupan layanan Regsosek akan berdampak nyata pada pembangunan sumber-sumber listrik dan konektivitas internet yang stabil dengan kualitas baik sampai tingkat rukun tetangga, mulai dari Indonesia bagian barat, tengah, dan timur. Listrik dan internet yang stabil merupakan keharusan dasar yang wajib dipenuhi karena, seperti penjelasan Presiden Prabowo, dengan Regsosek kita dapat menyampaikan program-program pemerintah (bansos, makan bergizi, dll.) sampai ke alamat penerima. Ketika listrik dan internet yang stabil dibangun hingga tingkat RT, maka tentu akan diikuti dengan pembangunan sistem transportasi, baik transportasi untuk orang maupun barang, yang memadai hingga tingkat RT juga. Paling tidak, untuk memasang pembangkit listrik/trafo listrik/tower koneksi, sudah barang tentu membutuhkan akses jalan/transportasi yang memadai agar listrik dan internet yang stabil bisa dipasang. Akhirnya, ketika listrik, internet, dan sistem transportasi terbangun, maka saat itu kita sudah memiliki negara Indonesia yang terhubung 24 jam dari barat sampai ke timur, yang mana artinya rantai pasok ekonomi dari produsen hingga konsumen dapat berjalan secara real-time dan lebih produktif.
Dari sisi perangkat lunak, Regsosek dapat menjadi studi kasus nyata pembangunan digital yang bisa langsung dirasakan manfaatnya, minimal studi kasus untuk Decision Support System dan Monitoring System bagi kementerian/lembaga yang bersifat real-time. Dengan data olahan yang mencapai lebih dari 280 juta, sudah barang tentu pemutakhiran layanan Regsosek akan mempercepat pembangunan Artificial Intelligence, Big Data Analytic, dan Cybersecurity dalam negeri, mulai dari peningkatan jumlah tenaga terampil dalam negeri hingga peningkatan jumlah paten dari peneliti dalam negeri terkait Artificial Intelligence, Big Data Analytic, dan Cybersecurity. Apabila jumlah tenaga terampil dan jumlah paten Artificial Intelligence, Big Data Analytic, dan Cybersecurity karya anak bangsa meningkat secara kuantitas, maka kita sedang berjalan menuju industri 5.0 dengan gagah berani.
Dari telaah sistem IT Regsosek di atas, kondisi ekonomi global yang tak menentu akibat kebijakan Trump sebenarnya dapat menjadi titik balik bagi kita untuk bangkit. Karena secara tidak langsung, sistem IT Regsosek memiliki kekuatan dalam penyediaan data secara real-time dari lapangan, mulai dari Indonesia barat, tengah, dan timur. Penyediaan data lapangan yang bersifat real-time bagi pemangku kepentingan merupakan kunci penting dalam menghadapi kondisi global yang memburuk, sebagaimana dahulu Winston Churchill menghadapi Jerman di Perang Dunia Kedua. Kita ingat bersama bagaimana dahulu operasi pemboman kota-kota di Inggris oleh Jerman dapat digagalkan karena semua elemen masyarakat di Inggris dilibatkan oleh Winston Churchill untuk memberikan update kondisi lapangan secara real-time melalui saluran radio dan telegram yang merupakan teknologi IT paling canggih di zamannya. Data lapangan yang bersifat real-time membuat Winston Churchill memiliki waktu lebih untuk melawan serangan udara Jerman secara kesatria, yang berujung kemenangan bagi Inggris.
* PULL OUT 2 Akhirnya, belajar dari Winston Churchill bahwa teknologi IT yang mampu menyediakan data lapangan secara real-time dapat memberikan keuntungan waktu yang signifikan bagi kemenangan sebuah bangsa dalam menghadapi kondisi yang makin memburuk.
Akhirnya, belajar dari Winston Churchill bahwa teknologi IT yang mampu menyediakan data lapangan secara real-time dapat memberikan keuntungan waktu yang signifikan bagi kemenangan sebuah bangsa dalam menghadapi kondisi yang makin memburuk. Pemutakhiran, integrasi, ataupun duplikasi fungsi layanan dari sistem IT Regsosek yang ada saat ini menjadi kunci penting bagi Presiden Prabowo untuk mendapatkan keuntungan waktu agar dapat menang dari tantangan global yang mulai memburuk. Setiap tahun hampir 300.000 sarjana IT dari 250 program studi IT yang lahir dari seluruh universitas yang ada di Indonesia. Jika di fase awal Perang Dunia Kedua, Winston Churchill saja dapat menghadapi Jerman hanya dengan 374.000 pasukan, maka 300.000 sarjana IT yang lahir tiap tahunnya di Indonesia adalah modal berharga bagi Bapak Prabowo Subianto dalam menghadapi kondisi terjepit di antara perang dagang Amerika dan Cina seperti saat ini. (*)
| Memahami Mewujudkan Kodifikasi dan Univikasi Hukum Pidana. |
|
|---|
| Keberhasilan bukan Kecepatan, Melainkan Konsistensi dalam Berproses, Sebuah Renungan di Awal 2026 |
|
|---|
| OPINI: Stres, Kopi, Begadang: Tiga Kebiasaan Kecil yang Diam-diam Merusak Jantungmu |
|
|---|
| OPINI: Diskon Listrik Masih Dinanti Masyarakat Sumsel |
|
|---|
| Langkah Menuju Keadilan Pajak untuk Pedagang Online dan Offline |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Agung-Kurniawan-Cyber-Council.jpg)