Imlek 2025

Hujan dan Imlek, Antara Tradisi dan Penjelasan Ilmiah

Masyarakat Tionghoa meyakini hujan saat Imlek membawa keberuntungan. Namun, bagaimana penjelasan ilmiahnya?

Penulis: Hartati | Editor: Yandi Triansyah
SRIPOKU.COM /Syahrul Hidayat
Pengurus Klenteng Tri Dharma Chandra Nadi (Soei Goeat Kiang) atau lebih dikenal Klenteng Dewi Kwan Iim, 10 Ulu Palembang, melakukan prosesi pencucian rupang (patung) dewa, Kamis (23/1/2025). SYAHRUL HIDAYAT  

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Guyuran hujan yang beberapa hari belakangan melanda Palembang, baik pagi, siang, maupun malam, memunculkan pertanyaan tentang kaitan erat antara Imlek dan hujan.

Masyarakat Tionghoa meyakini hujan saat Imlek membawa keberuntungan. Namun, bagaimana penjelasan ilmiahnya? Apakah benar Imlek selalu identik dengan hujan?

Penjelasan Ilmiah dari BMKG

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto MSi, menjelaskan bahwa Sumatera Selatan saat ini masih berada dalam periode musim hujan yang berlangsung dari Januari hingga Februari.

Hujan diperkirakan masih akan terus berlangsung hingga April, meskipun intensitasnya akan berangsur-angsur menurun menjelang musim kemarau.

Terkait kaitan hujan dengan perayaan Imlek, Siswanto menegaskan bahwa dari sudut pandang keilmuan, tidak ada hubungan sebab-akibat.

Tidak ada penjelasan ilmiah yang menyatakan bahwa setiap Imlek pasti akan turun hujan sebagai simbol keberuntungan.

"Tidak ada kaitannya hujan saat Imlek dengan keilmuan, itu hanya kebetulan saja. Kebetulan saat musim hujan bertepatan dengan perayaan Imlek, sehingga menjelang dan setelah Imlek masih ada hujan," ujar Siswanto, Senin (27/1/2025).

Ia menambahkan, karena tidak ada kaitan ilmiah, maka bisa saja pada tahun-tahun tertentu hujan tidak turun saat Imlek.

Jika hujan memang turun, itu murni kebetulan dan bukan karena "dipanggil" atau direkayasa. Fenomena ini juga tidak terjadi secara merata di semua tempat.

Pandangan Tokoh Masyarakat Tionghoa

Senada dengan penjelasan ilmiah, tokoh masyarakat Tionghoa sekaligus Ketua Yayasan Vihara Dharmakirti, Zewwy Salim, mengatakan bahwa tidak ada tradisi memanggil hujan atau menggunakan pawang hujan saat Imlek.

Hujan yang turun adalah murni fenomena alam atas kuasa Tuhan.

"Hujan turun karena memang saat Imlek atau Cap Go Meh itu waktunya hujan, yakni Januari dan Februari," ungkap Zewwy.

 Ia menjelaskan bahwa perayaan Imlek dan Cap Go Meh selalu jatuh pada bulan Januari dan Februari karena penanggalan Tiongkok (lunar) memiliki 13 bulan dalam satu tahun.

Meski demikian, Zewwy mengakui bahwa dalam tradisi Tionghoa, hujan saat Imlek diyakini membawa berkah dan rezeki yang melimpah.

Semakin deras hujan yang turun, semakin besar pula harapan akan rezeki yang berlimpah sepanjang tahun.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved